Puisi-Puisi Denny Mizhar; Cinta yang Tak Pernah Turun Tiba-Tiba

in Puisi by
pinterest.com

Rebah pada Malam

 

saat rebah pada malam

kupandang kesepianku

ada bunga di matamu

di situ, kesendirianku menetaskan hujan

membasahi lantai-lantai, ada wangi menyapa

 

kulantunkan lagu luka ke telingamu yang sunyi

dengan nada-nada ganjil

ada sejarah tak terbaca dengan utuh

tentang kisah sepasang manusia

yang melintas pada malam-malam yang alpa

 

masih, aku rebah pada malam

bernyanyi dengan gelap penuh bunga

agar kau tahu, kesendirin itu lebih berarti

 

Malang, 2017
 

 

Jam Terbang Menghampiri Bulan

 

Jam terbang menghampiri bulan

Membawa kisah-kisah tentang kesepian

 

Hujan bergegas tiba, malam menjadi basah

Aku menggigil dalam kesendirian

Melayang dalam kehampaan

 

Bunga-bunga tumbuh dari langit

Mekar di antara sunyi dan menjadi wangi

 

Gemuruh pertanyaan,

Dari kisah masa lampau

Menjelma rindu yang gegabah

 

Luka adalah hari-hari yang harus ditinggalkan

Sesudah hujan turun, langit masih basah

Sebelum tandas dimakan usia

 

Malang, 2017

 

 

 

Cinta yang Tak Pernah Turun Tiba-Tiba

 

Cinta tak pernah turun tiba-tiba dari langit-langit kamar. Ada mata beningmu memandang harapan yang rapuh seusai gairah menjadi doa di malam-malam penuh dusta. Rambut hitammu tergerai diembus kipas angin. Dan aku memanjat ke langit lewat tubuh sintalmu.

 

Masih kau pertanyakan cinta saat gelap kamar ketika lampu tiba-tiba padam sebab belum bayar tagihan bulanan. Dan rasa lapar dan cinta bergumul dengan desah dan luka.

 

Malang, 2017

 

 

 

Di Meja Kopi

Tersadar. Kita saling bertukar pandang dari pikiran-pikiran yang janggal. Retak di setiap senyuman, di meja kopi di ruang tunggu, tempat bertemu. Dan pada jarak pandang ada kekasihmu dan aku hanya memandang. Kabut perlahan menaik dari asap kopi. Tiba-tiba gerimis turun dari sisa kesal atas kasih yang tak tuntas tereja.

Aku melihat diriku, melihat warna kopi. Pekat. Ada ingatan tentang buruh-buruh kebun kopi. Keringatnya tergiling dalam serbuk-serbuk kopi. Ada perih. Aku melihat diriku, melihat Douwes Dekker yang terusir dari rindu dari orang-orang kecil dari hati kecil dan dari cinta. Apa aku kalah. Di meja kopi, aku masih terjaga. Memikirkan ampas kopi.

Malang, 2017.

 

 

 

Saat Diriku Jatuh

 

Saat mataku mengabur, tak bisa kulihat

dalam jarak pandang dekat. Aku pergi

menaiki bukit-bukit di pinggiran kota.

Melihat langit kehilangan matahari

dan lampu-lampu mulai menyala.

Aku temukan diriku dalam kealpaan

membacamu. Tak bisa kupandang

dalam jarak dekat. Aku masih berjalan

di antara pohon-pohon yang meneteskan

air mata dan daun-daun memeluk kakiku

hendak berkisah tentang kota yang renta

seperti diriku yang entah.

 

Malang, 2017

 

 

Sebelum Aku Berjumpa denganmu

 

 

Sebelum aku berjumpa denganmu,

hanya kesendirian yang kutemui.

Ada yang tak ajek dalam kelanaku,

berhadapan dengan hari-hari muram

dan gelisah. Tak ada yang punya makna,

hanya luka dan menunggu dengan resah.

 

Kulihat ruang tamu penuh debu.

Ada bunga Melati tinggal, tak wangi.

Dan dinding-dinding yang berlumut.

Dan jawaban-jawaban tidak ketemu.

Semuanya serasa mati. Kaku dan meringkuk sunyi.

Keasingan kerap bertandang dalam sepi.

Hujan menjadi musim yang menghantui.

Kemiskinan diri dan tuhan yang pergi.

 

Kau datang membawa kisah-kisah

Pada malam yang mencium lantai

 

 

Malang, 2017

 

Denny Mizhar

Denny Mizhar

Tinggal di Kota Malang dan beraktivitas di Pelangi Sastra Malang. Buku puisinya yang pernah terbit Berharap di Senja Hari (2007)
Denny Mizhar

Latest posts by Denny Mizhar (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.