Puisi-Puisi Dian Hartati (Bandung); Dalam Redup Doa

in Puisi by

dalam redup doa

Tugas Hari Ini

 

 

aku akan menetap di bumi

menanggalkan sayap-sayap

menjelma rasa cinta

 

setiap manusia adalah aku

kecuali, mereka yang tak punya kasih

sulit berkorban

dari rasa kepemilikan

 

saat menatapku

kamu akan berdenyar

pipi semerah kersen

rela memberikan apa saja

 

lakukan sesuatu

agar gerak awan-awan

tak memaksaku lekas pulang

jangan diam saja

atau tugasku benar-benar

diselesaikan

 

 

SudutBumi, 2015

 


Ramalan

 

 

kilau matamu

menceritakan kisah itu

para penambang mimpi

yang jatuh ke dasar

tidur abadi

 

tepukan di pundak

menyadarkan kisah lelatu

bunga api yang muncul

setiap engkau tersenyum

 

tak akan ada hujan

setelah percakapan

suara bungkam

dan panorama hanya tersisa

satu kedipan mata

 

jangan dulu melangkah

selesaikan alur yang kau buat

tak baik menyisakan aba-aba

untuk menunggu

atau kalang kabut

 

di sisimu gelap hanya purnama

bersenandung duka

tak berharap episode selanjutnya

 

 

SudutBumi, 2016

 


Dari Waktu ke Waktu

 

 

ada kesedihan

menembus pori-pori

mengenang kisah cinta yang berakhir

 

apa lagi

selain kenangan yang terus membuih

kepulan teh panas

jejak-jejak di pantai

juga lingkaran hari di ujung pulau

 

hanya tersisa lagu sedih

suara kereta api

dan gemuruh langkah kaki

mengiringi karnaval kota

 

waktu berlalu

dan cinta belum mau berubah wujud

 

 

SudutBumi, 2016

 


Dalam Redup Doa

 

 

 

masih ada harapan

bayang-bayang meninggalkan tuannya

barangkali mencari takdir sendiri

hanya tersisa gerak bibir

mengeja nama

 

tawa masih menerangi redup kasih

alur cerita tak berubah dari hilir

segala yang pernah terjadi

dituliskan setiap hari melebihi mimpi

 

hujan hanya lewat

menguraikan kenangan dalam pikiran

menunggu jam berdentang atau musim reda

kepastian yang ragu akan terjadi

 

hanya tersisa suara serak

bercampur aroma air mata

dalam redup

senyuman hanya bingkai

dari segala yang seharusnya terjadi

 

 

SudutBumi, 2016

 


Putaran

 

 

riwayat lahir di dinding

menjumpai setiap wajah

raut yang selalu berubah

berusaha mencari rasa

 

beberapa terjerat mimpi

yang ditawarkan gumam

lainnya berlari cepat

tak ingin menyelesaikan

waktu kunjung

 

nama-nama mengingatkan

kenangan yang buram

dan berlapis gula

rasanya ingin segera sampai

agar segala ketakutan berhenti

 

angin mengenalkan rasa dingin

juga hangat sinar matahari

berhentilah memaksa

sebab kehidupan selanjutnya

hanya berupa misteri

entah sampai

atau hanya perputaran nasib

 

 

SudutBumi, 2016

Dian Hartati

Dian Hartati

Kumpulan puisinya Kalender Lunar (2011) dan Upacara Bakar Rambut (2013). Nyalindung merupakan kumpulan puisi stensilannya yang pernah dicetak terbatas dan kini dapat diakses melalui Wattpad. Puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada acara Ubud Writers & Readers Festival 2009. Sesekali mengelola blog sudutbumi.wordpress.com. Dapat dihubungi melalui Twitter.
Dian Hartati

Latest posts by Dian Hartati (see all)