Puisi-Puisi Djoko Saryono; Romansa di Bayang Celaka

in Puisi by
galerihadiprana.com

Minggatnya Ayu Lembah

Istana cuma sawang: cinta mungkin terlihat lebih gemilang. Takhta boleh jadi hanya satu cerlang: hangat rindu kekasih niscaya bagai bermilyar gemintang. Harta dunia hanyalah setara bayang-bayang: teduh asmara kekasih bakal tampak sebagai cahaya membentang, membimbing menuju ruang abadi dendang. “Hai dayang-dayangku, kuharus minggat dari taman kekang: segera, sebelum malam lingsir di barat gerbang”, ujar Ayu Lembah sangat terang. Keraton terasa berguncang di batin para dayang. Suasana tertangkap lengang di hati yang lalu lalang. Tapi, semua lidah pilih senyap ruang. Tetapi, semua mulut memilih tak tualang. Terasakan ketakutan akan kuda-kuda prajurit segera berderap kencang, menguber bayang-bayang perempuan menjauhi gerbang: meninggalkan pusat lambang kekuasaan terpandang. “Kalau kalian mau bersama, berkemaslah segera. Waktu tersedia tak seberapa malam ini: senyampang penjaga terpulas mimpi”, Ayu bersuara kembali. Dan para dayang cekatan menyiapkan diri: ada kasih murni yang tak menjadikan mereka mengikuti jejak Ayu melarikan diri. “Ayo, cepatlah, kita segera meloloskan diri: di sana, di luar gerbang taman sari, Raden Sukro sudah menanti. Lantas dia kita ikuti, dengan kesunyian paling tinggi, kecuali langkah hati-hati biar selamat diri”, sorot mata Ayu memberi isyarat perintah pelolosan diri. Dan waktu seperti mengerti: berkelebat meneluh semua penghuni. Di luar gerbang keraton yang rapuh dan cemas atas intrik kuasa, Raden Sukro sudah siaga menemani. “Kekasih, kita bersua di sini. Dalam pertaruhan hidup-mati!”, bisik mesra Sukro sambil menaikkan tubuh Ayu di atas punggung kuda yang terlatih di medan laga. “Kekasih, kita menyatukan cinta di sini. Cinta kita abadi: maka tak ada hidup-mati. Ini pertaruhan keabadian asmara suci”, tangkis manja Ayu yang sekian lama dirundung demam gairah asmara Sukro prajurit tampan wibawa. Dalam sepi suara, para dayang juga segera menunggang kuda yang telah disiapkan Sukro beberapa. Malam pun berlalu dalam jaga: kuda-kuda telah melesat entah ke mana.

 

Memadu Rasa

Dan purnama kentara kencana di langit jiwa: Ayu dan Sukro makin merasa satu raga. Dan malam terasa menjadi payung raksasa: ruang membebaskan saraf-saraf meronta. “Ayu, kuseru asmaramu dengan kasmaran menggebu. Maka aku selalu nekad masuk keputren menjumpai dirimu: tatkala malam melenakan semua! Dan istana raja istirah dari intrik keluarga!”, kenangkan Sukro saat-saat menemui sang kekasih tercinta, lebih dari segala bernyawa. “Dan aku menyambut hadirmu suka cita: memasrahkan segala yang kupunya! Tak kutata suara cela dan hina!”, balas Ayu sentosa.

 

Asmara di Bayang Bengis Kuasa

Kakang Sukro, kakang Sukro, prajurit terpuji, putera sejati Adipati Sindureja, mengabdi di keraton Kartasura: asmaramu benar-benar menggulung kepastian cinta: dan mana mungkin bisa kutampik atas nama kesetiaan bagi putra mahkota. Ketampanan parasmu mengisap segenap madu cinta: ketegapan tubuhmu melumat asmara: dan kepandaianmu telah memerangkap nafsu sesiapa pada dirimu semata. Maka kusambut gairah kelelakianmu suka cita, menyeberangi tenteram dada, dan meninggalkan rasa setia yang dijaga telik-telik kuasa. “Kakang Sukro, aku masuk bubu asmara sarat simalakama!”, cetus Ayu Lembah tatkala terlumat amat hebat asmara Sukro. Dan Sukro kian kerahkan daya lumat asmara bagi Ayu Lembah semata: terlupa ada bayang-bayang bengis kuasa di langit cinta yang membara: kuasa Sunan Mas si putra mahkota. “Ayolah Nimas, ayo, lumatkan aku dalam gemuruh syahwat asmaramu: biar kelelakianku bisa merasakan kebebasan eros manusia!”, sambut Sukro dalam hilang sadar sukma. Maka dengus asmara yang tercipta dalam sua Ayu Lembah dan Sukro alpa bayang bengis kuasa: yang kian mendekati dada keduanya.

 

Romansa di Bayang Celaka

Langit menggerimis cuka: tak terbayang luka. Sebab hasrat asmara menderaskan gairah eros berdua. Suasana membadai bahaya: tak terasa celaka. Karena nafsu rindu menggemakan desah kapar bersama. “Akankah kita serupa janin dan ari-ari selamanya?”, tiba-tiba Ayu Lembah merusak senyap. “Kita adalah pinang tak terbelah apa pun!”, cetus Sukra terkesiap. Terbit bayang kuda-kuda terlatih tegas berderap. Terasa ada gema teriak pasukan makin lengkap. “Sukra, Sukra kaparkan aku di gelombang nafsumu, selamanya! Biar cemas tak sanggup mendekati, menyorongkan duka!”, rajuk Ayu Lembah sembari berbaring di dada Sukra. Tak ada kata disodorkan Sukra: tapi pohon-pohon bergoyang kencang tertampar dengus asmara. Memang ada suara membadai dari tubuh tegap Sukra: suguhkan gelinjang terpuncak kamasutra. (Bayang-bayang tombak berlarian: perlambang bahaya berkelebatan. Ayu Lembah dan Sukra terus berpagutan: nafsu makin berpautan)

Djoko Saryono

Lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di Madiun, Jawa Timur. Saat ini menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang dan Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Pelanggan fanatik Kafe Pustaka-Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Menulis beberapa buku: Pergulatan Estetika Sastra di Indonesia (Pustaka Kayutangan, 2006), Perempuan dalam Fiksi Indonesia, Sang Tokoh dan Sang Pengarang (Pustaka Kayutangan), Etika Jawa Dalam Fiksi Indonesia (Pustaka Kayutangan), Mosaik Sastra Indonesia, Catatan Peristiwa, Fenomena, dan Problematika (Surya Pena Gemilang), Nilai Budaya Dalam Sastra, Sebuah Formulasi dan Representasi (Surya Pena Gemilang), Kumpulan Puisi Arung Diri (Aditya Media 2013), Kumpulan Puisi Arung Cinta (Penerbit Pelangi Sastra, 2015), Kumpulan Puisi Kemelut Cinta Rahwana (Pelangi Sastra, 2015), Tafsir Kenthir Leo Kristi dalam (Pura-Pura) Puisi (Pelangi Sastra, 2016), dan akan segera terbit Kumpulan Puisi Prahara di Nadi Istana.

Latest posts by Djoko Saryono (see all)