Puisi-Puisi Emi Suy; Bulan Menua

in Puisi by
pinterest.com

Di Kesepian Kopi

 

aku ingin menyeduh secangkir kopi

masih beraroma sepi

pertemuan gula, bubuk, dan air panas

melarutkan rasa cemas

 

kuteguk rasa merasuk

kusesapi aroma kenangan mengepul berirama

kunikmati wajahmu di secangkir kopi rindu

merayakan sunyi dengan secangkir kopi

 

2018

 

 

Ayat-Ayat Hujan

 

kepergianmu musim kemarau

helai-helai rindu yang digugurkan angin

diranggaskan matahari

 

sementara sepi berdesak

berlarian dari sumur sumur ingatan

tabah menunggu gerimis ritmis

dalam pelukan angin

 

: meski doa berulang kali dilangitkan

 

lalu datanglah hujan

perihal rindu tampias jendela kaca

genangan kecil di teras depan:

 

langit yang tak berbatas

terkadang biru memberi rindu

terkadang kehitaman memberi hujan:

 

hidup itu bergegas mengemas cemas

: pada halaman buku.

kisah yang kandas di ranggas musim panas

 

hidup itu bukan kesedihan.

jangan sedih bila orang yang dicinta

tak mampu menyeka air mata

 

setidaknya masih ada hujan untuk mengadu

rindu terdiri meja kayu dan kursi panjang kesepian.

renta di balik cerita.

 

hidup itu belajar bertabah

meski hujan berkali-kali membuat basah

pada memar luka yang dilebamkan kata-kata

 

hidup itu belajar tidak menakar sabar.

tidak membuat batas dari hati yang luas

 

hidup itu belajar jalan meski terjatuh luka

dan mencoba mengobati sendiri.

 

hidup itu belajar sabar menahan nyeri

tetap berdiri dengan kaki sendiri

 

2018

 

Di Laut Lepas

 

Di laut lepas dunia luas perahu-perahu doa berlayar dikepung lidah ombak yang menjilat karang dan mengulum bibir pantai. Betapa diri teramat kecil, sebutir pasir rindu buih membasuh diri.

 

Hidup di jalan panjang di bentangan semesta, perjalanan sunyi di antara badai berganti musim dan kembara, berciuman dengan waktu menuju tidur lelap abadi.

 

2018

 

 

Perindu Daun

 

1/

orang-orang menyebutmu perindu daun, di sekujur tubuh pagi yang embun. ranting dan dahan pasti pernah patah menghalau badai. dadamu matahari yang terkadang teriknya membuat lebam. entah di dingin angin mana engkau berada?

 

2/

basah genting-genting  dan  jendela. sisa embun masih menempel di kaca yang kerap kau pinjam deritnya. dan engkau bergumam lirih. Oh, matahari lekaslah cairkan gunung es itu

 

3/

tibalah hening meminang diam. sunyi di langit oktober kian temaram, di manakah bisa engkau cabut duri menusuk nyeri? adakah di dahan-dahan kecapi perih sendiri?

 

2018

 

 

Bulan Menua

 

1/

malam purnama

bulan tertusuk bambu

kuburan sunyi

 

2/

ranting bersemi

musim kemarau usai

menyambut hujan

 

3/

sepotong rindu

pada helai beludru

di dalam kamar

 

4/

pintu berderit

kenang berlalu lalang

keluar masuk

 

5/

malam meremang

cahaya bulan sabit

teriris sepi

 

2018

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, 2 Februari 1979 dengan nama asli Emi Suyanti. Emi menyukai sastra sejak duduk di bangku SMP. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen telah tersebar di berbagai media, seperti Media Indonesia, Banjarmasin Post, Majalah Story, dan lainnya.Buku puisi tunggalnya yang sudah terbit, Tirakat Padam Api (2011),Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018).

Latest posts by Emi Suy (see all)