Puisi-Puisi Faisal Oddang; Three Worlds, 1955

in Puisi by
95a82bec51348b211bd77c680845b9d2
s-media-cache-ak0.pinimg.com

Drawing Hands, 1948

 

Kau yang menciptakanku.

Aku yang menciptakanmu.

 

Apa kalimat yang paling sesuai

mewakili kesedihanmu?

Senja di musim penghujan,

sungai tanpa bakau dan bangau,

atau sepatu tua yang ditolak

oleh semua jalanan?

 

Kita berwarna abu-abu seperti

langit mendung pada hari Rabu;

gerimis yang jatuh dari

tanganmu akan tumpah

menjadi hujan di tanganku.

 

Tak ada kalimat yang paling

sesuai mewakili kesedihanku,

sebab takdir bukanlah janji

yang bisa kita ingkari, juga

bukan patahan ujung pensil

yang selamat oleh rautan.

 

Kuciptakan kau ketika

kau menciptakanku.

 

 


Fireworks, 1933

 

Kubakar tubuhku demi kebahagiaanmu,

tetapi pesta macam apa yang merayakan

kesedihan orang lain, tanyamu.

 

Kau akan menemukan jawabannya

di langit akhir tahun, ketika

orang-orang sibuk bertepuk tangan

sementara kesedihan dalam diri

mereka telah menjadi kembang api

yang tak hentinya-hentinya dikorbankan

 


The Picture Gallery, 1956

 

Aku melihatmu dari kejauhan

ketika dari jarak yang sama kau

menatap punggungku yang

kau kenali ringkihnya.

 

Kau gadis manis di jendela,

menatap perahu kecil di bibir

sungai, menghidu aroma pesisir

mencoba menerka jumlah

ikan yang berenang ke hilir,

tetapi kau tidak tahu milik siapa

bola matamu yang hijau telaga.

 

Kisi jendela pucat berombak

seperti rambut masa tuamu,

ada rasa takut yang menyamar

menjadi uban dan aroma sampo;

waktu demi waktu kau hitung

semakin cepat ketika detak

jantungmu bertambah lambat.

 


Three Worlds, 1955

 

Kita hitung daun di permukaan

telaga ketika sore hampir tuntas

dan angin telah lelah mengalahkan

ranting kering dari tiga pohon tua.

Kau berhenti di angka tiga ratus

meski aku memintamu terus

melakukannya; jangan berhenti,

kataku, sambil memungut sehelai

lagi dan lagi dan lagi, sampai kau

benar-benar marah dan melupakan

di hitungan berapa kau menyerah.

 

Ini barangkali awal musim gugur,

aku sudah lupa penanggalan,

bukankah kau juga tahu, waktu

hanyalah cara manusia mengakali

rasa malas juga ingatan mereka

yang payah.

 

Kita menunggu riak dari lemparan

batu seorang bocah, menunggu

seseorang mengulur kail atau

memasang bubu, menunggu

air menjadi beku ketika musim

berganti dan kita tidak bisa

menyelamatkan diri dari diri

sendiri, sebab kutahu kau

seekor ikan dan aku hanyalah

bayangan di permukaan telaga.

 


Seated Female Nude, 1921

 

Aku menebak apa yang dipikirkan

cahaya lampu tentang tubuhmu,

aku menebak apa yang tengah

kau renungi, jika sebenarnya

perkara paling rumit di dunia

ini adalah persoalan sederhana.

 

Apa yang kupikirkan tentang

sepasang puting susumu adalah

apa yang kau pikirkan tentang

sepasang bola mataku

; apa yang patut disembunyikan

jika kemaluan telah pindah

dari selangkang ke kepalamu?

 

*puisi-puisi terinspirasi dari karya seni rupa M. C. Escher (1898-1972)

Faisal Oddang

Faisal Oddang

Lahir pada 18 September 1994, sedang menempuh Pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin dan bergiat di Komunitas Penulis Lego-Lego. Terpilih sebagai penulis cerpen terbaik Kompas 2014. Faisal menerima ASEAN Young Writers Award 2014 dan novelnya Puya ke Puya menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2014, diundang ke Ubud Writers and Readers Festival 2014 dan Makassar International Writers Festival 2015.
Faisal Oddang

Latest posts by Faisal Oddang (see all)