Puisi-Puisi Halim Bahriz; Pidato Dedaunan

in Puisi by
runic.com

Pidato Dedaunan

 

 

Telah kurentangkan sepasang tanganku seperti

Angin yang merebahkan dirinya kepada bumi

 

Telah kupejamkan sepasang mataku seperti

Sepetak ladang menidurkan riuh akar padi

 

Aku mengingat siapa dan apakah diriku seperti

Arsitektur hujan membabtis mimpi para biji

 

Dengarlah, kusampaikan titah matahari.

 

 

2016

 


 

Adegan Mencocok Hidung Sapi

 

 

Lehernya diapit dua batang rerumpun pohon pisang,

tujuh mata tunas pada bonggol terinjak, basah melumer

dari pelepah yang robek dan dua lubang hidung sapi

yang menjerit

 

Aku lihat mata ibunya, mirip genangan hujan yang tua

 

“Bening dan merah segar!” kata jantung bocah itu.

“Genggam tangan pamanmu juga merah,” kataku.

 

Aku lihat mata paman membidik, mirip lubang senapan

 

Dua lengan tangan paman tampak merangkum ombak,

dari telapak kakinya seakan tumbuh akar pohon pinang.

Lenguh sapi yang mengental mulai terdengar tidak jelas

apakah takut apakah marah apakah memohon apakah

memanggil apakah meminta tolong?

 

Sapi tahu sang ibu di situ, tapi ia tak bisa melihatnya

 

“Tidakkah ia terlalu kecil?” kata jantung bocah itu.

“Memang. Mumpung. Justru. Karena ia kecil.” kataku.

 

Mata tunas yang sempal, getah pada bonggol, tanah

setengah becek yang dilumat kaki kecemasan yang padat,

leher yang tak bisa menoleh, adegan setelah hidung sapi

menjadi cerita lubang peniti, tak perlu kutulis di sini

 

Paman senang, aku paham: arti lenguh yang kental

 

 

2016

 


 

Meditasi Toge

 

 

Air merendam dingin, gelap, dan diriku

Doa – doa telah tertidur dalam diriku.

 

***

 

Mulai kudengar tikus memanjat perkakas, cicak

berceracap, dan siaran televisi menumbuhkan kata

kata kata kata menjadi kicauan anak-anak

 

Daun mengenalkanku pada udara dan matahari

Pada tangan perempuan ladang dan telur puyuh

Pada pagi dan malam-malam yang ditinggalkan

Pada sejarah penyingkiran, jalur migrasi semut

dalam rekaman mata bajak yang dilupakan

 

Aku mengenal bau pembunuhan di ladang itu

 

Inilah diriku; sebutir kacang yang menginapi janin

sebuah takdir untuk melahirkan sejenis kematian

yang tak mengharukan

 

Cahaya memanggil, aku tumbuh lalu mengakar

dan mampus dalam rutinitas amnesia: makamku

terbuat dari sperma, pula perih selubung kelamin

yang berdongeng tentang cara menghias kepala

dan merek kacamata dan warna hari pada bibir

dan jubah suci pembungkus kata-kata dan kata

yang menyihir knalpot menjadi mimbar dakwah

 

Aku mendengar kesombongan dari bunyi sepatu

 

 

2016

 


 

PUZZLE GAME; Brot!

 

 

1/

Alat itu tidak becus memastikan beban kesunyian

yang berlemak, atau mengukur jauh-tebal lamunan,

dalam kandungan sebatang kelamin yang nyempil

di bawah pusar yang tak berwibawa.

 

 

2/

Ia menulis puisi tiap hari kamis dan senin, pagi

sebelum dengung mesin cuci mati. Menulis seperti

mengelap-ngelap highheels dan membacanya lagi

seperti memajangnya di tengah meja makan bundar

yang kosong-sepi. Seakan mencari kilat dari lampu

yang memantul dari warna sepatu itu.

 

 

3/

Dipakainya deret nama penuh huruf i, bukan siti,

dan berdecak ia kepada diri sendiri, “Biar kurus!”

 

 

4/

Ia membayangkan karpet merah, yang memanjang

lurus, pula sempit. Kakinya memapah bening laguna,

seanggun percikan nada vivaldi di ujung sepatu. Ia

membayangkan anak tangga dan reruntuhan balkon;

babylonia, gurun, dan casanova yang merenung.

 

 

5/

Baca dari no. 3. Lalu 2, 7, 4, 6, dan kembali ke no.1

 

 

6/

Ia ingin mengirim puisinya ke media. Berhari-hari

kepalanya berpikir: menempuh waktu sejauh 122 Kg.

Mirip sepasang kaki yang sibuk naik turun timbangan,

lalu malu lalu marah lalu sedih menyalakan mesin cuci

lalu duduk lalu lesu lalu tersedu di hadapan meja makan

yang angker itu: membuat prolog tentang timbangan.

 

 

 

7/

Ranum. Mirip punggung Audrey Hepburn.”

gumamnya, seraya menatap sebingkai jendela.

Langit memutih, suara bajaj naik ke lantai 23.

 

 

2016

Halim Bahriz

Halim Bahriz

Lahir 11 Februari 1989 dan tinggal di Lumajang. Beberapa puisinya termuat dalam buku bersama. Buku (duet) puisinya yang telah terbit, Punggung-Dada (2012). Meraih juara pertama Festival Sastra Universitas Gadjah Mada kategori cipta puisi (2015).
Halim Bahriz