Puisi-Puisi Hanna Fransisca; Kisah Bunga Tulip

in Puisi by
wallpaperclicker.com

Di Stasiun Kereta

 

Asap tembakau

di kotak kaca ruang tunggu

stasiun kereta

 

Lelaki Hindu, penganut Budha,

penghayat Kebatinan,

Nasrani berkalung salib,

dan Islam.

 

Mereka duduk melingkar,

tersenyum berbagi asap.

 

Seorang perempuan

memandang benci ke arah kaca:

 

Ia meludah,

dan pergi

menjauh

dengan

wajah

dengki.

 

Di luar stasiun, anak-anak bermain layangan.

Dua burung merpati terbang melintas.

Menuju langit luas.

 

Selembar daun gugur

dari pohon angsana.

 

Jakarta, 2017

 


 

Kekasihku

 

Bangau yang terbang

dalam kabut menderu.

Ikan melompat-lompat

di tengah danau

menunggu waktu.

 

Gerimis telah memberi arah,

dan daun-daun

mulai basah.

 

Jangan tunggu

hujan kian menderas

dan merapat.

Jangan kaunanti

permukaan air kian tinggi

dan berkhianat.

 

Ucapkan namaku,

hingga terdengar oleh batu

yang setia menunggu

di dasar telaga.

 

Perahuku akan segera melaju,

menemu rinduku jauh di sana,

pada kekasihku

yang berdiri di antara gugusan mendung, di kaki langit hitam.

 

Di ruang kosong tempat petir turun membakar air.

 

Jakarta, 2017

 


 

Kisah Seribu Satu Malam

 

Gagak hitam telah tiba di teratak.

Matahari senja mengubur bayangan. Hidupmu hanya tinggal

jarak sejengkal.

 

Kau duduk di bawah bayang maut. Kepalamu miring ke kanan,

dan tangan melintang

ke kiri.

 

Tanganmu tetap menggenggam cangkir tanpa cawan. Dalam ingatanku yang gila,

kau semakin dahaga. Rasa haus dunia, mengisap akal pikiranmu, ke dalam jurang

tanpa kata.

 

Gagak hitam yang harus terbang malam,

membawa nyawamu tanpa sempat pamit.

 

Dan…

 

matamu masih menyisakan dahaga.

Pada nafsu yang tak pernah

mengenal ujung.

 

Alangkah mengerikan suara malam.

Aku mendengarnya,

dari bisikan selembar daun,

yang sempat mengucapkan

selamat tinggal.

 

Jakarta, 2017

 


 

Kisah Bunga Tulip

Teruntuk Hian Ho

 

Aku cinta lesung pipimu,

dua kuntum tulip tumbuh

di sana.

 

Aku menerka,

mekar bunga adalah cintaku padamu.

 

Kasih yang hangat

seperti fajar malu-malu,

merangkak ke atas pusara, dan tumbuh

menjadi matahari.

 

Tapi cintaku sangat aneh.

 

Bahkan bunga tulip,

tidak pernah tahu kapan ia

akan bersemi.

 

Jakarta, 2017

Hanna Fransiska

Hanna Fransiska

Hanna Fransisca (Zhu Yong Xia). Lahir 30 Mei 1979, di Singkawang, Kalimantan Barat. Jatuh cinta dengan bacaan sastra dan aktif menulis di dunia maya. Tulisan-tulisan motivasinya bisa dijumpai di andaluarbiasa.com. Menulis puisi dan prosa. Puisi dan cerpennya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, Malang Pos, dan sejumlah majalah sosial. Kumpulan puisinya terbit pada April 2010 dengan judul Konde Penyair Han (Penerbit KATAKITA). Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu (Juni 2010). Selain aktif di organisasi sosial dan profesi Lions Club Jakarta Kalbar Prima, ia adalah seorang pengusaha yang mengelola bisnis di bidang otomotif. Hingga kini, ia menetap di Jakarta.
Hanna Fransiska

Latest posts by Hanna Fransiska (see all)