Puisi-puisi Hans Hayon (Nusa Tenggara Timur)

in Puisi by

Puisi-puisi Hans Hayon (Nusa Tenggara Timur)

Batu

 

Di pintu ia berdiri mengetuk

“Hendak bertemu dengan siapa, Nak?” tanya bibir pintu bertukar getar

“Dengan Sepi. Bagaimana kabarnya, Ibu?”

“Lukanya telah kering.”

: peresmian Gereja pun usai

 

2014

 

Kunci

 

Hari Minggu, kata Ibu. Ini hari Tuhan di mana?

Mulut kami lapar mengunyah doa-doa panjang yang letih

Kepada entah. Beberapa penyair menyebutnya, sunyi

Kaum ateis menyapanya, kemanusiaan. Dan para mahasiswa

memanggilnya, guru.

 

Ekaristi kali ini sengaja dilamat. Cawan meluapkan uang

Lilin-lilin menghanguskan dendam. Keranda merangkul kembang kematian

Anak-anak berebut kemiskinan. Dan di koran mata pembaca mengeja

kaget, “Imam menjual Altar, Kunci, dan Kristus.”[1]

 

2013

[1] Larik ini dikutip dari salah satu satire ketika pada abad XVI Gereja Katolik terguncang akibat kerancuan moral, jual beli kekuasaan, politik uang, dan nepotisme di bawah pimpinan Paus Alexander VI.

 

Hilangku Mampus

 

Berapa langkah yang harus kukayuh

untuk sampai pada hadiratmu?

Telah banyak yang datang dan pergi

lantas hilang di tempat ini

Tanpa jejak

Tanda tiada

 

Berapa banyak subuh lagi harus tinggal aku

di tempat keraguan bagai kapal kehilangan nahkoda

Terombang gelombang

Terseret prahara

 

Bahkan satu-satunya hal yang kita cintai telah mampus

Bukankah sebelum kita

Sebelum Ada

Di belakang bahasa

sesungguhnya ketiadaan?

 

Pada pertemuan kedua

yang tak tahu kapankah itu menjadi seseorang

Mencintaimu membuatku benar-benar kehilangan

: diriku sendiri

 

2014

 

Sejarah

 

Ia gadis peramah

Melewati lorong gelap ia lemparkan

Berkas-berkas cahaya dari matanya

Yang didekap sedari lahir di luar rahim

Seusai waktu bergegas

 

Di depan makam

Ia mengetuk sepi

Dan sesudah pintu dibuka

Terlemparlah kita pada entah

 

Ia gadis pemarah

Di dalam kulkas diawetkannya rindu

Mencoba menyulam gelombang yang pecah

Dari setiap gemuruh mendera

 

Di dalam rahim

Ia masih telanjur setia mengetuk sepi

Sekalipun tiada harap dibuka pintu

Mengabulkan setiap panjat pergi

 

2014

 

Percaya dan Persoalan tentang Melihat

 

Ekaristi berlangsung gugup

Saat di mana gadis itu mengerang

Melafalkan syair yang ganjil

Tentang mengapa tabernakel

Seumpama hatinya

:kosong

 

2014

 

Perempuan-Perempuan Perkasa

 

Sepanjang musim yang garang

Kami memintal rahim-rahim ungu

Padahal hidup terlampau tak adil

Menjadikan segalanya gugur laksana abu

 

Begitu sepi hatimu

Seperti dahaga abadi pantai

Mendamba gelora amuk lautan

Busa sabun lekas pecah

 

Perempuan-perempuan perkasa

Adalah yang menenun hidup mereka sendiri

Adalah api yang berpijar dari penjuru mata angin

Adalah imaji liar para pemburu kawanan domba tambun

Adalah yang di mata lelaki tak lebih dari seonggok tahi kambing

Adalah pelacur bagi institusi perkawinan

Adalah pemimpin terbaik bagi penyesalan-penyesalan

Adalah kami

Adalah kita

 

Bukan puisi aneh

Jika kau dengar kami berseloroh ganjil

Bahkan ketika puisi ini aku baca

Pernakah terlintas dalam benakmu

Sedikit pengertian untuk memeluk hati kami yang luka

Sebuah tempat di mana kalian biasa menyodorkan persembahan terbaik

Kemudian murka menyala di matamu jika tak kami indahkan sesajianmu

 

Kesetiaan adalah kata benda yang gagal menjadi kata kerja

Sekalipun keringat gading kami kalian buat begitu murah

Menjadi sampah bagi pemilik pabrik-pabrik cerutu di Eropa

Pengusaha pemilik berahi paling sejati

Yang gemar mengobral celana dalam dengan dalil pertumbuhan ekonomi

Pertahanan, dan keamanan nasional

 

2014

 

Tuhanku yang Masih Pagi

Aku mencintaimu dengan embun yang tak lekas lenyap
sebelum terpanggang terbit fajar
Aku mencintaimu bersama arakan gulungan ombak
tempat sebuah kecupan ikhlas pantai

Aku mencintaimu dengan kesadaran:
Aku masih sebutir debu.

 

2014

 

Sumber gambar: imgkid.com

[1] Larik ini dikutip dari salah satu satire ketika pada abad XVI Gereja Katolik terguncang akibat kerancuan moral, jual beli kekuasaan, politik uang, dan nepotisme di bawah pimpinan Paus Alexander VI.

Yohanes W. Hayon

Yohanes W. Hayon

Lahir di Hokeng, 26 Juni 1990. Kini sedang menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan opini di beberapa koran lokal, seperti Pos Kupang dan Flores Pos. Ia juga pernah menulis naskah teater yang telah dipentaskan di Maumere. Sekarang, ia sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Hujan di Biara, yang akan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero.
Yohanes W. Hayon

Latest posts by Yohanes W. Hayon (see all)

  • Lee Risar

    Saya tunggu buku puisinya bro…

  • Lusi

    saya suka kamu punya puisi