Puisi-Puisi Hasta Indriyana; Sesuatu Banget

in Puisi by
rankin-photography-08
illusion.scene360.com

Sesuatu Banget

 

Kadang puisi kentara lebay

Ia berdandan dan genit

Kalimat-kalimatnya bahenol

Dibikin menarik minta diikuti

 

Bulu matanya panjang terbuat dari

Ombak yang berkejaran di pantai landai

Bibirnya badai bagai petir membahana

 

Apakah kau suka membacanya?

Mengeja tubuh yang berlekuk-lekuk

Menyusur isi kepala yang penuh lenguh

Dan tanda takluk?

 

Jawabnya adalah kata-kata bernas

Meskipun tidak jelas, tapi banyak

Pembaca mengikutinya

 

Cimahi, 2016

 

 

Lebay

 

Kendaraan ini kelebihan muatan

Si sopir tak mau mengurangi

 

Melaju di jalan berkelok liku ia

Jadi lamban berjalan meski pedal gas

Ditancap penuh dan knalpot

Mengeluarkan peluh

 

Tapi kau tak mengeluh

 

Lampu-lampu dan aksesori nempel

Mirip mindring menggenjot sepeda

Jawa berkeliling kampung menggotong

Perkakas rumah tangga

 

Jika diandaikan, kamu dandan

Ketebelan. Bibir tebal digincu tebal

Pupur tebal rata di kulit gelap

 

Tapi Tuhan berbaik hati memberimu rasa

Pede (atau tak tahu diri, apa bedanya?)

Sehingga ahli bahasa menemukan

Gaya bahasa bernama hiperbola

 

Cimahi, 2016

 

 

Kekinian

 

Malam terasa panjang. Mistar menderetkan

Garis dan angka tanpa finis. Tombol arloji

Kuputar maju-mundur. Malam kian lambat

Dalam laju lembur

 

Di luar, kucing diam di bawah pagar

Suara peronda lewat mendehem seperti

Biasa setiap malamnya. Daun mangga tanpa

Gerak, tapi sesekali burung pleci di sangkar

Mungil bersijingkat

 

Belum terlalu malam. Seorang penjual

Cireng melajukan gerobak dengan pelan

Vokalnya mirip rebab yang digesek

Waktu dalam diriku tiba-tiba seperti henti

 

Suatu hari nanti, jarum jam mungkin berlari

Apa-apa bergerak cepat dan aku rasanya

Tertinggal ditinggal kekinian

 

Cimahi, 2016

 

 

Gokil

 

Jika  masuk  di kamus, tempatnya

Di  antara  kata  gokar dengan gol

Tapi  ia  tak mau diselipkan sebab

Gokar  rumahnya  tak beratap dan

Suka  belepotan, sementara itu gol

Gemar  berisik  suka ngajak teriak

Hobi  begadang,  gemar  berantem

Di luar  keranjang  gawang. Ia tak

Suka dua-duanya

 

Diam-diam ia mangkir ketika

Seorang ahli  bahasa  mengajaknya

Berumah  di  halaman 456. Rumah

Yang bukan kampung halamannya

Rumah baik dan benar yang semua

Penghuninya waras, lurus, baku

Dan kaku

 

Gokil kawan jancuk yang rumahnya

Di Jawa Timur. Gokil temannya asu

Di   Jogja. Dan  ia  punya  kembaran

Namanya edan, punya sepupu  frasa

Luar biasa yang sering disebut oleh

Thukul Arwana. Gokil dilahirkan di

Jakarte, tempat elu dan gue

Dibesarkan

 

Pertanyaannya, di mana alamatnya?

 

Gokil  ada di mana-mana

Ia  berdandan  ala ABG, kalimatnya

Heboh,   gesturnya  seru,   mulutnya

Ember,   ibunya   jempol,  bapaknya

Rasa kagum  dan  penasaran. Kapan

Kapan kuajak kau main bersamanya

Menjabat  tangannya yang binal dan

Liar  agar  bisa  mendefinisikan kata

Ngakak  dan  tersenyum dengan pas

Dalam setiap puisi-puisi kita

 

Cimahi, 2016

 

 

Kepo

 

Pencipta huruf Latin telah

Menemukan tandabaca secara tak sengaja

Ketika dirinya sedang mengamati seorang

Petani memukul-mukulkan sebatang besi

Berbentuk bulan sabit ke tanah berkali-kali

Agar tanahnya campur aduk dan tergali

Sambil bertanya, mengapa; apa; bagaimana

Siapa; di mana (si petani tidak gila)

 

Sang pencipta huruf nyengir lalu pulang

Menuliskan pertanyaan-pertanyaan dengan

Simbol sebuah alat bercocok tanam yang

Entah apa namanya ke sebuah buku kosong

Berkali-kali dan ia yakin akan tiba saatnya

Pertanyaan itu bakal ditimpali jawaban

Gembur nan subur sebagaimana tanaman

Yang ditanam si petani

 

Seusai buku kosong itu penuh berisi

Simbol alat bercocok tanam, ia merasa lega

Lalu berjalan-jalan ke mana-mana sambil

Mengucapkan segala jenis pertanyaan kepada

Orang yang ditemuinya (orang-orang tak ada

Yang ngerti bahwa ia seorang penemu

Seorang filsuf yang suntuk memikirkan

Dunia dengan pertanyaan-pertanyaan)

 

Apakah kamu ingin tahu nama penemu itu?

 

Cimahi, 2016

 

 

Cemen

 

Karena merasa dipenjara di sebuah

Kamus setebal 1701 halaman, ia melarikan

Diri. Aneh, tak seorang pun mengendus

Kelebat tubuhnya. Kaki belalangnya cekat

Membelah angin, menerjang miliaran huruf

Menyusup di antara berlembar-lembar

Halaman

 

Ia yang gampang terharu

Yang kantung matanya bisa memproduksi

Air setiap saat, tak ingin rumah tebal

Yang dihuni jutaan kata itu jadi bertubuh haru

Gampang basah, dan berdada ringkih

 

Maka pada suatu ketika, seluruh

Ibu di bumi mendoakan anak-anaknya tangguh

Tak lekas mengeluh lagi mudah tersentuh

Tiap malam menjelang tidur, didongenginya

Mata kecil itu dengan kisah-kisah gagah

Tipuan si kancil, dan kisah cinta

Sumbi pada anaknya

 

Dan kelak di satu masa, seorang anak

Bertanya pada ibunya, “Siapa yang melarikan

Diri dari rumah tambun ini?” sambil

Diusapnya kedua pipi yang berair mata

 

Cimahi, 2016

 

 

PHP

 

Saya kira ia orang

Madura yang menjual

HP keliling

Nyatanya bukan

 

Ia pantang menyimpan tisu di rumah

Tak ada kata kecewa dalam kamusnya

Dan ia yakin bahwa segala sesuatu

Dapat direngkuh dapat diraih

Seperti kekasih

Yang pasrah

 

Saya kira, ia sedang jajan

Di warung penjual sate

Nyatanya hanya lewat hingga

Sesampai rumah bajunya saja

Yang beraroma daging dibakar

 

Di dalam mimpi malamnya ia nemu

Kosa kata baru: Pehape

Seperti bunyi Tesate penjual daging

Bakar tusuk yang diteriakkan dengan

Suntuk

 

Ia pun percaya bahwa di sebuah

Kata ada masa depan yang kelak

Bisa dipeluk ataupun tidak

 

Cimahi, 2016

 

 

Rempong

 

Di depan bahasa Indonesia yang baik

Lagi benar, mulut ini berasa ruwet

 

Segala hal ingin diucap padahal

Tak semua bunyi bahasa fasih diucap lidah

Dilancarkan ludah

 

Kata-kata adalah orang-orang adalah

Kendaraan adalah benda-benda bergerak

Yang harus diatur, 11:12 dengan lalu-lintas

Dengan pikiran yang melintas-lintas

 

Kalau tidak, kau pasti rempong

Dan tak akan rampung membaca kalimat

Kalimat rumpang dan ruwet seperti

Lalu-lintas tanpa polisi baik hati

 

Cimahi, 2016

Hasta Indriyana

Hasta Indriyana

lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku pertamanya Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003). Buku puisi terakhir terbit tahun 2014, Piknik yang Menyenangkan mendapatkan penghargaan Buku Puisi Pilihan Indopos dan dipilih dalam lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).

Anggitan sastranya dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawapos, ESQUIRE, NOVA, Horison, Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan tergabung dalam beberapa antologi komunal. Saat ini bekerja paruh waktu di Creole Institute, lembaga penelitian dan konsultan bidang pendidikan-kebudayaan.
Hasta Indriyana