Puisi-Puisi Hasta Indriyana (Yogyakarta); Kembang Lembayung

in Puisi by

1889 A Javanese Girl at Her Toilet oil on canvas 64.8 x 53.3 cm Stevenson Scott Kaminer

Bosscha

 

 

Ribuan tahun setelah kaisar Shen Nung

Menemukan teh dan cendekian Lu Yu

Menulisnya dalam kitab, di kampung kecil

Bosscha menyentuh-nyentuhkan sepuluh

Jari di papan piano memainkan nada

Gemerincing itu sebagai daun teh yang

Jatuh melayang dan luruh di sebuah

Telaga bening

 

Pengalengan yang dingin bisa diusir

Sepat-pahit teh. Teh yang menghampar

Di seluas lereng gunung Windu

 

Jalan berkelok-liku dan embun

Yang turun setebal

Kapas menjadi lengkap di antara para

Petani teh bercaping lebar yang berjajar yang

Ditunggui mandor berpistol di sisi pinggang

Sebelah kiri

 

Di gedung besar seorang seniman diminta

Melukis tentang geulis pemetik teh yang

Bibirnya merekah seperti daun teh jatuh

Melayang, dan entah kelak ke mana kan luruh

 

2015

 

 

Daendels

 

 

Jawa digaris sepanjang selat Bali selat

Sunda setelah Inggris menggencetnya dan

Dua ribu serdadu cuma sepertiganya

Bersenjata

 

Petani dipaksa memintal benang menenun

Kain. Pengrajin tembaga Gresik disulap jadi

Pabrik bedil. Pengrajin gamelan Semarang

Dipaksa jadi pabrik mesiu

 

Di mana-mana

Petani mesti menyetor padi, uwi, gembili

Buah, dan sayuran buat menguruk

Pekerja rodi yang mati berceceran buat

Mengganti tulang-belulang pekerja

Yang dibakar di sepanjang jalur

Yang dibikinnya

 

Ada yang belum terangkut

Rempah-rempah dan kitab masakan pribumi

Ketika jalan terpanjang di bumi

Itu hampir jadi

 

Cimahi-Magelang, 2015

 

 

 

Gunung Kidul

 

26 dan 31 Maret 1831

Panji, demang, rangga, ranupati

Dikumpulkan Tumenggung sebelum

Alas Nangka Doyong dibabat

 

Di atas hutan langit gelap

Yang gawat keliwat-liwat

Angker kepati-pati. Jin Gadhung Mlati

Penguasa alas pun bertempur digempur

Mbok Nitisari, dukun Demang Wonopawiro

 

Tak ada yang tak bisa atas

Sebuah usaha. Maka sajen di atas

Tampah tak tumpah tak goyah

 

Nasi tumpeng, bawang merah

Lombok abang ditusuk lidi menusuk langit

Kretek, menyan, sega gilig, gula

Jawa, kembang setaman bergeming

Di tepi hutan

 

Tanah landai

Air melimpah dekat sungai

Tapi siapa sangka asmara bakal menumpahkan

Darah di lipatan kisah, serat, dan babad

 

2015

 

 

 

Ki Ageng Selo

 

 

Setelah ditangkap, petir ditangannya

Diikat di sebatang pohon gandri

Petir yang berkilat dan menggelegar

Gemetar menatap petani lugu

 

Kembali seperti semula, petani gagah

Itu menanam padi gaga dan merawat

Kolam, membuat bleng dan garam

Membuat nila, menanam

Kembang pulu dan maning

Menanam junjutan

Sebagai benang halus

Sutera untuk membikin

Cindhe gedhog membikin joglo

Limasan, membikin motif kain lurik

 

“Tanah adalah kewajiban memeliharanya

Tiap orang. Disebut satu bau dikerjakan

Dua orang. Disebut cacah sakikil jika

Dikerjakan empat orang.”

 

Tak berapa lama, petir yang dipenjara

Diperciki air dari batok kelapa seorang

Perempuan tua

 

Suaranya menggelegar

Keduanya lenyap

 

Lidah lebih panjang dari jalan

Buat memanjangkan kisah tentang

Petani lugu yang menangkap petir dengan

Kilat

 

Gunung Kidul, 2015

 

 

Kembang Lembayung

 

 

“Sungguh, Ayah, saya tak mengerti

Jika buah kelapa di siku tiang itu wahyu

Mohon ampun.”

 

Ki Ageng Giring termangu

Langit layung di ujung kemarau

 

Rara Lembayung tercenung teringat

Bujuk rayu dan cumbu sang Panembahan

Rara runtuh dan patuh, sebab dari tubuhnya

Akan mengalir darah raja

 

Raja tanpa rajah yang meminum

Saripati wahyu dari tangan ayahnya sendiri

Dari rahasia di tangannya

Yang disimpan dalam lipatan perasaan

Perempuan

 

O, jabang bayi

Anak yang dibiarkan mengembara

Yang dadanya membara mencari-cari

Siapa sebenarnya suami ibunya itu

 

Wotgaleh, 2013

Hasta Indriyana

Hasta Indriyana

lahir di Gunung Kidul, 31 Januari 1977. Buku pertamanya Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003). Buku puisi terakhir terbit tahun 2014, Piknik yang Menyenangkan mendapatkan penghargaan Buku Puisi Pilihan Indopos dan dipilih dalam lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).

Anggitan sastranya dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawapos, ESQUIRE, NOVA, Horison, Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan tergabung dalam beberapa antologi komunal. Saat ini bekerja paruh waktu di Creole Institute, lembaga penelitian dan konsultan bidang pendidikan-kebudayaan.
Hasta Indriyana