Puisi-Puisi Iin Farliani; Sebelum Tidur atau Sesudahnya

in Puisi by

Jualan Ibu

 

ada ketidakpastian yang tak ingin disembuhkan

jari-jari mengukur tinggi, lebar dan ketepatan

pada setiap baju dan celana yang disidang

“apakah kita jadi teman atau lawan?”

 

aku terus dilahirkan dari baju baru

jangan gugat warna dan coraknya

ini hasil kesepakatan tersembunyi:

“salam basa-basi, harga yang dibeli agar

hilang rasa tidak enak hati”

 

pelanggan pulang dengan senang

ibu memikirkan ulang cara menolak tawaran

 

Moncok, 2017

 

 

Mei

 

akhirnya kita tiba pada suatu ketika

yang dahulu kau sebut khayalan semata

sebab masih utuh bekas ciuman

tercetak di kilang minyak

bersembunyi dari mata pemancing

juga dari ombak yang terkembang

di belakang bagai bentangan layar

 

sebuah pelukan kekanakkanakan

menjadi tanda tak ada yang salah jalan

sebelum janji melepas ikatannya

betapa tiada yang dapat dinamakan kehilangan

 

segenggam pasir tertinggal di sepatu

dan anyir ikan tangkapan nelayan

kini membantuku menuju

pecahanpecahan tentangmu

 

Pejarakan, 2017

 

 

Daun Mangga

 

daun mangga penuh bintilbintil

terjatuh di wajahmu ketika kau

mengayun kaki di beranda

 

“daun itu terkena kanker”

kau lantas tertawa membayangkan guru biologi

memintamu menyebut ciriciri tumbuhan dikotil

 

akan kau cari jawabnya setelah menyerahkan

puisi berjudul angin sepoisepoi, memainkan rambut

memainkan janggut

memainkan kumis tipis milik seorang yang baru tiba

di hadapanmu

 

bekas kapur tulis dan setitik tinta potlot

mewarnai dagunya

“inikah yang kau sebut puisi?” tanyanya

lalu sunyi di beranda

 

kau membayangkan tak lagi semburat merah

merona di muka

melainkan bintilbintil

menyembunyikan sipumu, sipumu

oh alangkah kepalang!

 

Pejarakan, 2017

 

 

Kembali pada Sajak

betapa ganjil memaksamu keluar, bukan dari persembunyian

tersebab oleh jiwa yang penat menggali ceruk

kau yang diperam pengalaman dan renungan

belum juga cukup diwujudkan

 

di atas kertas ini masih juga sulit menempa

yang dikira hampa oleh si empu

sampai ia tak terlihat lagi berupa jelaga

dan bertemu dengan makna baru

 

Moncok, 2017

 

 

Sebelum Tidur atau Sesudahnya

 

ia bertemu dengan dirinya yang asli dalam mimpi

dengung nyamuk tiba-tiba merusak jaring tidur itu

membangunkan kembali ngilu dari tubuh

 

sempat dilupakan, sekarang melahirkan ungkapan

 

“apakah perlu kelambu untuk menjaga mimpi-mimpi?

ragu apakah esok aku hidup kembali”

 

ia merasa tak pernah benar-benar menjadi dirinya

 

Moncok, 2016

Iin Farliani

Iin Farliani

lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Menyelesaikan studi formal di SMAN 2 Mataram. Menempuh studi penulisan kreatif pada Departemen Sastra Komunitas Akarpohon. Menulis puisi, cerpen, esai, opini dan resensi. Beberapa karyanya dimuat di surat kabar Indo Pos, Suara Merdeka, Riau Pos, Serambi Indonesia, Banjarmasin Post, Metro Riau, Suara NTB, Buletin Jejak-Bekasi, Buletin Tikar-Surabaya, dan Jurnal Santarang.
Iin Farliani

Latest posts by Iin Farliani (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.