Puisi-Puisi Irwan Segara; Di Tubuhmu

in Puisi by
sf.co.ua

Pantai Sawarna

 

Akhirnya jalan menurun

Di bibir bukit, lembah dan gua

Ranting-ranting pohon membingkai

Gulung ombak di tepian pantai,

Seperti jendela yang menyimpan lautan.

Aku tergoda hamparan pasir, kelak

Menyimpan jejak kata-kataku. Langit

Serupa layar biru, terbentang

Dari ujung ke ujung. Menaungi

Laut dalam dan karang Tanjung Layar

 

Dan kulihat sepasang kekasih

Saling membelitkan lengan

Pada tubuh masing-masing. Bibir mereka

Berubah jadi pengisap wc. Di langit

Camar-camar berkejaran dengan angin.

Segala yang kutemukan menjelma lukisan

Setiap potongan gambarnya melemparku

Ke luar waktu. Aku seperti berdiri

Di hadapan keagungan sekaligus keganasan

laut selatan. Tiba-tiba

Alam menjelma tempat sujud batinku

Yang kucari dan tak kutemukan di masjid

Gereja, kuil atau vihara. Justru di hadapan

Laut dan karang, tubuhku menjelma buih

Keyakinanku berubah jadi butiran pasir.


 

Baduy

 

Di Kanekes, hijau hutan serupa permadani

Sayap-sayap angin menyeret aroma dedaunan

Lekuk bukit, pohon-pohon yang kami puja

Matahari menyala di langit keyakinan kami

Rumah kami dari kayu dan anyaman bambu.

Kami urang Kanekes, tumbuh dan mengakar

Seperti pohon. Penyeimbang alam

Turunan Adam. Pohon dan batu

Adalah tempat semayam sang pencipta Nu Kawasa,

Yang menghamparkan hijau hutan dan subur tanah

Bagi mata dan kaki-kaki telanjang kami.

 

Dia yang lahir mesti menetap dan dikubur

Di tanah ini. Dia yang pergi, jangan pernah kembali.

Sekali seseorang jalan ke luar

Melewati batas yang kami tetapkan,

Ia akan hidup di luar bumi batin kami.

Menjaga kemurnian adalah menahan diri

Dari hasrat untuk bebas mengembara

Ke tempat-tempat jauh dan asing.

Di Kanekes, hijau hutan serupa permadani

Sayap-sayap angin menyeret aroma dedaunan

Dari pohon-pohon yang tumbuh subur

Di lubuk hati kami. Sungai keyakinan mengalir bening

Di sepanjang urat nadi kami.

 

 

Di Tubuhmu

 

Di tubuhmu jemariku merambat

Seperti kegelapan

Menyeret selimut malam dengan tenang

Pada kelopak matamu,

Pada dagu dan leher.

Dalam temaram lampu

Bibirmu berkilau bagai permata,

Napasmu hangat dan liar,

Aroma tubuhmu tak dimiliki perempuan mana pun

Kurapatkan daun telinga pada kulit dadamu

Kudengar derap kuda hasrat,

Berlari,

Meringkik dan memburu

Ciuman-ciumanku.

 

Ingin kukecup jantungmu

Seperti kecupan bibir ombak pada lambung perahu

Seperti air menetes pada batu,

Seperti kata-kata yang jatuh pelan-pelan

Ke jurang batinmu.

 

Sepasang tanganku adalah angin

yang tak letih mengembara

Sepasang tanganku

mengitari pinggang dan dadamu,

 

Kau terbuka bagai hidangan terakhir

Bagi pengemis lapar,

Kau terbuka bagai pulau asing

Di mata Columbus

Kutelusuri tiap jalan pada peta tubuhmu

Setapak demi setapak

Kumasuki hutan rahasiamu

Seperti kumasuki hutan tropis negeriku

Kudaki bukit-bukit keagunganmu

Putingmu yang tegak dan

Dingin menikam kalbu

Kulepas mantel keyakinan

Surga-neraka adalah bayang

Yang timbul tenggelam

Tiap kali matamu terbuka

Dan terpejam.

 

 

Lagu Pengembara

 

Akulah pengembara yang tersesat

Di negeri yang penuh peperangan

Setiap jalan yang kulalui

Mengantarku ke medan laga

Setiap kali kupandang langit biru,

Langit menghujani tanah ini

Dengan bom dan duka lara

 

Tanah ini penuh ledakan

Kudengar angin menjerit

Di gurun sejarah

Setan-setan mengenakan jubah keyakinan

Mereka turun ke batin orang-orang

Seorang ibu berjalan tanpa arah

Di pangkuannya, ada bayi menjeritkan tangis penghabisan

Seorang lelaki kehilangan kakinya,

Mengerang dan memanggil-manggil nama

Yang telah tiada

 

Musim-musim runtuh

Ajal berpesta di lengan hari

Arwah-arwah mencari jalan ke langit

Sedang aku berkelana seorang diri

Antara kehidupan dan kematian

Hari-hari perlahan membusuk di tanah ini

Kuseret jiwaku

Sepanjang napas waktu.

 

 

Bersandar Pada Kata

 

Dunia telah mengubur ribuan hikayat

Dan menenggelamkan ribuan dongeng ke dasar waktu

Orang-orang menanam gedung dan menara tinggi

Di bumi yang letih dan hilang arti

 

Masih kusandarkan detak jantungku pada kata

Keriangan dan kesedihan menjadi nyanyian

Yang dilantunkan angin di panggung musim

Aku tak akan menyerah menapak jalan ini

 

Mendorong batu peristiwa ke langit bahasa

Menjatuhkannya kembali ke jurang sunyi

Mendorong batu peristiwa ke langit jiwa

Menjatuhkannya kembali ke jurang bunyi

 

Sebab satu-satunya cara mencintai kehidupan

Adalah dengan menikmati segenap kutukan

Nasib yang digariskan di telapak tangan

Adalah firman yang remuk di genggaman.

Irwan Segara

Lahir di Lebak, 17 April 1989. Puisi-puisinya termuat di Jurnal Sajak, Kompas, dan juga antologi bersama, Buku Nasib (2015) Kavaleri Malam Hari (2017).

Latest posts by Irwan Segara (see all)