Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS; Jangan Jadikan Aku Batu di Kota ini

in Puisi by
brendayork.blogspot.co.id

Namaku yang Kaucatut

andai ada namaku yang kaucatut
simpan saja sebagai kenangan
dan tak perlu pulangkan padaku
: nama yang mungkin kelak

kaugunakan dalam kertas kerja,
laporan keuangan, bantahan
atas tuduhan padamu — juga
surat sakti

menuju surga — tapi bukan ayatayat
yang diturunkan dari langit laksana
hujan dan mendebarkan
kilatan hingga meruntuhkan tursina

jika kau ingin mencatut namaku
sekalian simpan — semoga kelak
bisa menuntunmu meniti
jembatan itu — hidup dan apimu

/2016

 

Berlayar di Laut Kelam

apakah kakiku masih tahan
menyusur liku heningmu?

sunyi tak buat malamku mati
terlempar ke atas ranjang
melebarkan selimut
meniup laut jadi ombak

aku berlayar di laut kelam
pucukpucuk gelombang
mendorong perahuku
lepas, makin lekas ke laut luas

pendar lampu menyalakan
mataku. kilau dermaga
gegaskan perahu. ke lepas
gelombang aku mengambang

tak habishabis waktu
tiada sudah tatapku
ke depan: rumahmu
malam…

/agustus 2016

 

Mula Kucium Tanah

sebab di sini mula kucium tanah
maka tak kutinggalkan kota ini
dan biarlah jalan dan segala tanda
melengkapi namaku, akhir kelak

meski ini kota sudah angkuh
hampir melupakan ciuman pertama
di keningku, adzan dan takbir
di telingaku

sebagai ikatan kasih

kini, kota yang dulu kurasa ramah
pelanpelan jadi pongah
jalanjalan kehilangan rambu,
namanama jalan kian asing

aku berputarputar
menghabiskan umur
sebelum sampai padamu

Kemiling 10 Agustus 2016
Jangan Jadikan Aku Batu di Kota ini

jangan jadikan aku batu
di kota ini –sebongkah
yang kelak kauukir
sebagai patung di taman

berwaktu-waktu hanya
menunggu tamu yang
datang dan pergi. tanpa
senyuman,

apalagi ciuman– tapi jelmakan
aku sebagai air, hujan yang
menyejukkan. bukan banjir
hingga kotaku ini tak bertanda

bukitbukit diruntuhkan, pantai
ditimbun demi kota baru –ah,
untuk kematian kami. sebuah
kematian tak perlu kuburan;
ombak akan mengubur—

maka, sekali lagi, jangan
jadikan aku batu. sebongkah
yang kelak kauukir sebagai
patung menemani
wali kota pada jamjam
kunjungan ke jalanjalan

10 Agustus 2016
Milikku Sunyi yang tak Akan Pergi

kembali aku pada sunyi. selalu milikku
yang tak akan pergi. dari satu sepi
ke lain yang hening. padahal semalam
kita bersama, merumuskan kalimat

dan hitungan paling rahasia; ihwal usia
jalan kenangan, sejarah silam yang
diburuburu namun tak pernah jadi
dadu

kecuali hanya untuk pongah. — poyang
yang gagah, himpunan masa lalu
kian berdebu, dan hampir jadi abu
oleh musimmusim gemuruh —

tapi kita akan terus mencari meski
laut dan udara dilintasi: petang
mendekati kelam. — ke mana kau
pergi, aku dirundung sunyi —

aku kembali sepi

/14 agustus 2016

Isbedy Stiawan ZS

Isbedy Stiawan ZS

lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik yang disiarkan di berbagai media Jakarta dan daerah.

Kumpulan puisinya Menuju Kota Lama memenangkan sayembara buku puisi pada Hari Puisi Indonesia (2014) dan kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (2014). Tahun ini diluncurkan kumpulan puisi terbarunya Pagi Lalu Cinta dan kumpulan cerpen Tumang.
Isbedy Stiawan ZS