Puisi-Puisi Iyut Fitra; Lahilote

in Puisi by
userapi.com

Hari-hari di Batanghari

 

 

masa lampau. di sebuah pulau emas

sayembara itu dimulai

di antara bayang-bayang harta karun

mana raja negeri ini?

lalu api berkobar disiapkan

rendaman sungai tiga hari

sampai digiling kilang besi

sesudahnya bendera putih berkibar-kibar

dari arah tujuh kuto, sembilan kuto,

batin dua belas

orang-orang lagu menyerah

ksatria yang putus asa

berbalik ingin pada angin

pulang sebab gelar tak mampu ditawar

 

kemudian jalan-jalan sulit, rimba belantara,

sungai dan perampok

ditempuhlah segala. ke mana raja dicari?

hingga matahari lengkung ke selatan

di sana cahaya jatuh

dipatut semua yang patut. dijumlah seluruh

yang lebih

dan dendanglah yang menuntun kepergian

berbalik pada kepulangan

berhari-hari. bersinggah-singgah

membawa raja yang dijumpa

 

 

 

maka di kepetangan hari. tegak silsilah dan ranji

tegak negeri jambi

 

tapi batang hari kini

ikan-ikan menjadi bangkai

dari hutan kayu-kayu dihanyutkan

di tepinya orang-orang saling menikmati

 

 

 

Amungme

 

 

sesepuh tua dan mantra-mantra

seorang gadis

mungkin dengan mata terpejam

merapal hari pagi dan malam

mendengungkan bahasa among dan dhamal

maka sebelum pintu terbuka bagi orang-orang gua

berangkatlah burung nuri dan murai. menuju rumput-rumput,

tanah, dan air

permukaan basah. dataran yang kemudian kering

orang-orang amungme berlagu sepanjang jalan

sepanjang lembah baliem

ke barat. ke arah matahari melepas sengatnya

“tanah adalah ibu kami!”

 

amungme manusia utama

amungme manusia pertama

bibit-bibit ditebarkan, binatang,

dan lalu kehidupan yang ditanam

matahari pun melintas gunung

membujur lembah-lembah

leluhur yang diagungkan

di belakangnya ekagi, moni, wolani, juga berlagu

dengan bahasa berderap

tentang segala asal mula. tentang mukim yang disucikan

juga tarian-tarian panen dan perburuan

“tanah adalah ibu kami!”

 

tapi ke mana burung murai

yang dulu di paruhnya mengulum lumut

kini rahim ibu dikeruk. kesucian menjadi tambang

o, gunung-gunung kelahiran orang amungme

gunung yang dirundung murung

ke mana tombak dan panah akan diarahkan

sebelum tiba juga kematian

“tanah adalah ibu kami!”

 

 

 

Banten Lama

 

beribu tahun setelah benteng rubuh

ia pun mencari-cari titah sultan

batas tanah yang murung

sungai dan bekas pelabuhan

utang serta rempah-rempah

di sana sejarah tersandar

antara kenang pos, barak, dan pabrik mesiu

ia terkepung luka-luka lampau

 

di surosuwon. anak panah buta di gerbang melengkung

tapi sebelum derap dan pasukan

burung-burung meninggalkan tempat mandi

membasuh paruh pada genang darah

“berikan kami seribu rakyat setiap hari untuk seribu mimpi

di ujung kulon

serahkan patih pada batavia

bawa keraton ke tanah anyer…!”

dan banten bersimbah

di pintu kebencian pedang diayunkan

utusan yang tak pulang

tiba-tiba matahari disergap gelap

pedih menghitam ke udara

mengubur setiap sudut jengkal. kejayaan yang rata

 

beribu tahun setelah sejarah menjadi kota lama

orang-orang menarikan walijamaliha

ia pun singgah sebagai seorang yang entah

burung-burung berkabung

tapi banten. adalah napas tak terlupakan

Iyut Fitra

 

Kota Pulau

 

 

dari gapi diungkaplah tarinata

diri yang diwariskan

turun-temurun

gunung gamalama hingga pelabuhan

cerita kesultanan sampai alun-alun

juga pulau-pulau tak berhuni

adalah jiwa yang terus tumbuh. jiwa-jiwa karang

serupa lahar yang membakar

menatap matahari. hidup yang percaya

seolah benteng-benteng kokoh yang setia

merawat degupnya

 

berkali langit tertutup. letus-letus yang berulang

bahkan desa yang tenggelam menjelma danau

tapi ternate adalah tubuh-tubuh teguh. tiada kan pergi

bertinggal rapuh

pada hari-hari muram lagu akan disampaikan

“kami kitari gunung ini

sebanyak cinta yang dilahirkan. meredalah!

takkan kami lepas segala yang bernama warisan.”

maka orang-orang pun terus mendaki dengan jumlah genap

menuju puncak kehidupan

 

kebun cengkeh dan pala

legenda danau dan kuasa yang murka

adalah dinding-dinding yang terus memagar

serupa batu-batu yang selalu kembali setiap dilempar

karena ternate adalah gapi. adalah tarinata

 

“di sini tak ada orang-orang menyerah!”

 

lalu kerumunan soya-soya

hentak bagai laskar

berkeliling-keliling irama ganjil

sorak-sorai perjuangan

taqua di kepala. semangat menyala-nyala di dada

o, ternate. awan dan kabut bergelimun tiada ragu

di hatimu gunung laut saling berpeluk dan bercumbu

 

 

Braga

 

 

ia telah berjanji di braga

perempuan itu

dalam sebuah pesan akan menunggu

dengan baju warna merah

serupa gedung-gedung tua

atau lukisan-lukisan lama

ia bayangkan malam akan sedikit nakal

di antara para pejalan yang entah datang

entah pulang

 

“bawakan semua yang selama ini kaupendam

di braga malam tak akan cepat dijemput pagi!”

 

seorang yang entah dari mana

bercerita tentang kota tua

toko musik

pedagang buku

juga muasal kota kembang

seraya mengisap rokok dalam-dalam

lalu pergi begitu saja

 

seorang tua

di trotoar

melukis hitam putih kota lama

bangunan eropa

atau barangkali bekas bioskop

lalu merobeknya tiba-tiba

 

 

hampir separuh malam

bulan merah

ia terima lagi sebuah pesan

“sudahkah kau di braga?

bila malam telah berlalu

kau akan mengerti makna menunggu!”

 

ia telah berjanji di braga

perempuan itu

tak kunjung datang

 

 

 

Lahilote

 

 

ada yang berumah di hulu

sebelum hutan

bersebelah mata air

tempat mengadu tatkala rotan-rotan tak didapatkan

 

“aku lahilote

laki-laki gorontalo!”

 

desir air. angin berbagi siur dengan daun

dalam sendiri

sepi tak berhasil menjerat

ia simpan hari-hari bersama putaran matahari

gadis-gadis datang

orangtua yang melamar

ia adalah pencari rotan belum kasmaran

untuk berahi

haruskah diintip bidadari mandi

 

pada hari yang lain itu

ada yang memanggil dari sungai

air bersimbur-simbur

tujuh perempuan terlihat badan

lahilote tiba-tiba telah dewasa

menyaksikan tubuh-tubuh putih

yang terbuka

 

“kucuri selendang bidadari

karena hidup perlu istri

aku lahilote pencari rotan

siapakah antara kalian sudi bermalam?”

ia alunkan lagu itu

dengan irama paling merdu. lalu bergegas

ke dalam hutan

“kucuri selendang bidadari

karena dengan perempuan hidup akan kuselami

aku lahilote pencari rotan

jadilah mempelai kudambakan!”

maka kembalilah mereka ke asalnya

maka tertinggal satu dalam luka

 

siang mendepa bayang

gubuk itu kemudian didatangi

naiklah!

jadikan lengang sebagai ranjang

bercerita mereka jalan-jalan kehidupan

sampai malam

sampai selendang itu tak juga ditemukan

 

“mari berlayar

di antara hutan-hutan rotan

hulu dan mata air

lihatlah cinta mengalir!”

 

“mari berlayar

lautan tak butuh selendang

yang kutanam di dada selama ini

kuberikan bila malam telah sepi!”

 

 

 

aduhai, dalam perjalanan itu

berkayuhlah mereka

meninggalkan tebing dan tepi

menyusur sampai ke muara

rebah di lenguh malam tak bersuluh

di gubuk tua

hasrat yang menjelma tumpak gelora

berlantun dalam irama rintih bersahutan

menjadi pengantin berpanggilan

 

tapi di sebuah tabung bambu

bungkusnya daun jati

selendang itu terlipat kuyu

selendang yang hilang dulu

di mana lahilote?

bidadari berlari-lari

mencari-cari tubuhnya

membuka semua selubung dusta

kemudian meninggalkan itu segala

bersama sayap yang dijumpa

 

“mata air

hulu sungai

o, rotan-rotan

bawa aku ke kahyangan!”

 

lahilote memburu segala yang hilang

menebus pura-pura

bahwa bidadari yang pergi

membunuh dirinya tiba-tiba

ia unjukkan tangan

ia ulurkan maaf

bersumpah atas nama rasa cinta

diam-diam. matanya terasa panas diam-diam

 

maka kemudian

di gorontalo orang-orang membuka legenda

tentang pasangan yang akhirnya saling percaya

Iyut Fitra

Iyut Fitra

Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk cerpen dan puisi dipublikasikan di berbagai media, seperti Horison, Jurnal Puisi, Jurnal CAK, Kompas, Republika, Media Indonesia, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Koran Tempo dan juga media di Malaysia dan Brunei Darussalam. Bukunya yang sudah terbit Musim Retak (Kumpulan Puisi/Yayasan Citra Pendidikan Indonesia bekerjasama dengan Majalah Sastra Horison, 2005), Dongeng-dongeng Tua (Kumpulan Puisi/AKAR Indonesia), Beri Aku Malam (Kumpulan Puisi/Intan Cendekia Yogyakarta), Orang-orang Berpayung Hitam (Kumpulan Cerpen/Halaman Indonesia Yogyakarta).
Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.
Iyut Fitra

Latest posts by Iyut Fitra (see all)