Puisi-Puisi Jamal D. Rahman; Mahacah’ya Bertahta

in Puisi by
diyphotography.net

Bismillah Bunga Sorga

 

Dengan bismillah bunga di sudut-sudut sorga

Kutulis puisi ini dari hati membara

Dengan wangi ‘ruf-huruf di puncak cakrawala

Berharap pintu-pintu ke tamanmu terbuka

 

Dengan tajam bismillah di pahat-pahat waktu

Aku nyanyikan rindu dari hati yang syahdu

Rindu mengukir sepi di relung-relung kalbu

Rindu memahat doa di dinding-dinding batu

 

Terimalah kiranya nyanyi puisiku ini

Tetesan airmata di reruntuhan sunyi

Sebab tak sanggup lagi rohku menahan nyeri

Hangus terlunta-lunta di bawah matahari

 

Dipanggang api sepi

Padam menyala lagi

Ditindih bara api

Hangus terbakar lagi

 

Aku pun mencium bumi

Menghirup bau ragi

Mengais remah sunyi

Di reruntuhan hati

 

Duhai cinta yang memar

Di puing-puing senja

Mekarlah duhai mekar

Dalam nadi usia.

 

2017

 

 

 

 

Bismillah Langit Biru

 

 

Bismillah langit biru                             Cahaya pun memancar

Dan bergetarlah rohku                         Menggigil dan gemetar                                   

 

Percik cah’ya semesta                          Nyala berkilau-kilau

Pijar piala cinta                                    Menimbang-nimbang kalau

 

Ketika waktu diam                              Mendengar suara hening

Di dalam kau yang dalam                    Di dalam roh yang bening

 

Menjelma Nur Muhammad                 Percikan cah’ya cinta

Membuka gerbang abad                       Dan semua pun bermula

 

Bismillah langit biru                             Aroma wangi rah’sia

Cah’ya hari alastu                                Bertiup angin savana

 

Adalah roh yang tenang                       Menjelma kunang-kunang

Nyala-nyala ilalang                              Menjadi bayang-bayang

 

Nyala dalam tubuhku                          Kerlap-kerlip membentang

Menggaris jalan baru                           s’panjang jalan ilalang

 

Duhai rohku yang tenang                    Duhai mari ke mari

Kunang-kunangku sayang                    Fajar kan seg’ra pagi

 

Ini jalan ilalang                                    Tak ada lagi waktu

Tiada gang tiada ruang                        Yang waw cuma alastu

 

Lupakan bayang-bayang                      Capailah puncak rah’sia

Tinggalkan kunang-kunang                  Agar kau jadi cah’ya

 

Jadilah burung nuri                              Di langit manusia

Mencapai puncak sepi                         Lebur dalam cahaya

 

Bismillah langit biru                             Dan langit pun terbelah

Hingga waktu membeku                      Di kelopak bismillah.

 

2017

 

Bismillah Laut Biru

 

 

Bismillah laut biru                   Dan lahirlah samudra

Dinding rahim jiwaku              Cah’ya kemilau senja

 

Bismillah batu-batu                 Air pun menggemuruh

Dengar wahai jiwaku               Rahasia langit runtuh

 

Menjelmalah gelombang         Berdebur menggelora

Bangkit-lenyap dan tumbang   Sampai kilau mutiara

 

Jadilah pucuk ombak               Bangkit-lenyap dan fana

Sampai laut tersibak                Hingga mencapai baka

 

Menyelamlah segera                Duhai sari cah’yaku

Pecahkan sunyi usia                 Temukan rah’sia biru

 

Temukan rah’sia ombak          Pecahkan rah’sia maut

Selagi tik berdetak                   Sampai kau jadi laut

 

Bismillah laut biru                   Dan laut pun terbelah

Sampai waktu membeku         Di kelopak bismillah.

 

2017

 

 

Mahacah’ya Bertahta

 

Duhai engkau yang lelah oleh perang dan cinta

Merintih-rintih pedih menahan tangis dunia

Menggelepar-gelepar dibakar merah bara

Terlunta-lunta sepi di padang-padang doa

 

Duhai engkau yang kalah dalam perang dan cinta

Kaulihat gelap dunia gelap malam semata

Tapi di mana g’rangan batas gelap dunia

Di batas gelap dunia cah’ya bersinggasana

 

Duhai kau yang menyerah dalam perang dan cinta

Tapi engkau menyerah hanya kepada sukma

Sebab sukma menangga ke puncak airmata

Di puncak airmata mahacah’ya bertahta.

 

2017

 

 

 

Nyanyian Cinta Tarian Rindu

 

Duhai engkau yang lara                       Duhai engkau yang pilu

Dalam gelora cinta                              Dalam gelora rindu

 

Kau coba pendam cinta                       Kau coba pendam rindu

Dalam diam air mata                           Di relung-relung kalbu

 

Tapi dalam air mata                            Tapi di balik kalbu

Cinta masih menggema                       Rindu masih menderu

 

Kau pendam api cinta                          Kau pendam api rindu

Dalam gugusan mega                          Dalam gugusan bayu

 

Di sela langit jingga                             Di sela gugur salju

Cinta tetap membara                           Rindu tetap membiru

 

Duhai g’rangan di mana

Harus kupendam cinta

Di aroma kenanga

Atau di wangi s’roja?

Katakanlah padaku

Tempat memendam rindu

Adakah di melati

Atau di wangi s’runi?

 

Duhai g’rangan di mana

Harus kupendam cinta

Dalam binar purnama

Atau palung samudra?

Katakanlah padaku

Tempat memendam rindu

Adakah di gemintang

Atau debur gelombang?

 

Duhai engkau yang lara                       Duhai engkau yang kelu

Dalam gemuruh cinta                          Dalam gemuruh rindu

 

Kau sembunyikan kata                        Kau sembunyikan pilu

Dalam istana doa                                 Dalam menara waktu

 

Cinta kian menyala                             Rindu kian menderu

Membakar-bakar dada                         Menggebu-gebu kalbu

 

Kau pun tak sanggup lagi                     Kau pun tak mampu lagi

Menyembunyikan cinta                       Menyembunyikan rindu

 

Duhai hati yang lara                            Duhai hati yang kelu

Dalam api membara                            Dalam api membiru

 

Menangislah ya rohku                         Menangislah, Jiwaku

Di dalam pelukanku                            Di dalam dekapanku

 

Untukmu yang tersiksa kunyanyikan puisi

: Matahari selalu baru setiap pagi*)

Cinta adalah wangi hembusan bunga-bunga

Engkau adalah mawar merekah merah saga

Bagaimana kau bisa menyembunyikan wangi

Dari mawar yang merah merekah pagi hari

Rindu adalah hijau daun-daun pohonan

Engkau adalah daun di reranting dedahan

 

Bagaimanakah bisa hijau kau sembunyikan

Dari selembar daun di rerimbun dedahan

 

Cobalah engkau dengar

Burung nuri bernyanyi

Suara denyar-denyar

Di sela dahan pagi

Cobalah engkau dengar

Suara merdu gerimis

‘Nyanyikan siluet fajar

Semburat tipis-tipis

Cobalah engkau pandang

Kupu-kupu menari

Mengepak-ngepak kembang

Antara mawar-m’lati

Cobalah engkau lihat

Daun-daun kelapa

Menari berkelebat

Mengipas-ngipas senja

Itu nyanyian cinta

Yang engkau sembunyikan

Itu tarian rindu

Yang engkau coba simpan

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Bintang dan matahari                          Awan, bulan, dan bumi

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Angin dan burung-burung                    Hujan, mega, dan mendung

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Air di sungai-sungai                             Ombak di pantai-pantai

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Bunga t’ratai dan krisan                       Bunga-bunga flamboyan

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Bunga-bunga kenanga                          Bebunga alamanda

 

Menyanyilah menyanyi                       Menarilah menari

Bunga-bunga iksora                             Bebunga mandavila

 

Menyanyilah ya rohku

Di dalam puisiku

Menarilah, Jiwaku

Dalam doa-doaku.

 

2017

 

*) Matahari selalu baru, setiap pagi —Herakleitos.

Jamal D. Rahman

Jamal D. Rahman

penyair, esai, dosen sastra UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, pemimpin redaksi Jurnal Sajak, redaktur Jurnal Kritik, dan mantan pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan RubaiyatMatahari. Menghadiri forum-forum penyair di Jerman, Iran, Vietnam, dan lain-lain. Juga menyampaikan kertas kerja di forum-forum ilmiah. Penulis, (ko)editor, dan kontributor lebih dari 25 buku tentang sastra, kebudayaan, dan Islam. Penerima Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2016.
Jamal D. Rahman

Latest posts by Jamal D. Rahman (see all)