Puisi-Puisi Jamil Massa (Gorontalo); Memenuhimu

in Puisi by
f4e944adec6b7e658ef8891930ddee63
s-media-cache-ak0.pinimg.com

Pelarian

 

“I buried my heart in a willow tree

You came along, gave it back to me

Now we’re creatures of the night,

we set each other free”

(Run Away – Sarah Jarosz)

 

Rahasia adalah sunyi ladang dan

ulangtahun yang telah berhenti

dirayakan sejak musim semi bermula.

Tubuhnya terkikis embusan badai

berisi ultimatum dan senjata kimia.

 

Ia ingin berlari menjauhi apa pun

yang serupa dengan waktu.

Serupa detik dan detak pada bom

dan jantung yang terkoyak.

 

Tapi malam yang dipuja telah

berhenti memberkati kedua kakinya.

Maka laut pun disihirnya jadi sayap

dan ombak jadi kata-kata.

 

Di pantaimu ia tiba sebagai lelah bocah

yang disongsong ketakutan-ketakutan asing.

 

Sungguh, siapa pun yang berhati jujur

dapat menyaksikan segalanya pagi itu

:pasir keruh, hening angin, dan konstitusi

yang rapuh mengecup keningnya yang dingin.

 

2015

 

 

Kenyataan Rumit

 

“But I picked that coin up

And I ain’t found no luck

Just wanderin’ and stuck

In the mud and the muck”

(Gypsy – Sarah Jarosz)

 

Apakah kenyataan ini terlalu rumit

untuk kau sadari? Gunung-gunung

yang terbelah cuma ada dalam kitab suci.

Atau dalam keinginan liar para pengingkar.

 

Surga bukan lumpur yang menyembul dari

celah dinamit dan mesin-mesin pengeruk tanah.

Bukan karnaval berbaris di jalanan yang

terbuat dari dongeng-dongeng tentang hutan.

 

Sebab kerelaan akan menemukan

batas pada akhirnya. Tak seperti

kata-kata yang kau kibarkan dalam

iklan-iklan apartemen dan perumahan

 

Sebab bagaimanapun, granit dan cadas telah

belajar keras pada hati perempuan-perempuan

tertindas, sementara kau asyik mencetak ribuan

peluru dan peraturan.

 

2015

 

 

Memenuhimu

 

“Sonic satisfaction

Holds my ears in sweet embrace

The endless chain reaction

Of what we give and what we take”

(Floating in the Balance – Sarah Jarosz)

 

Aku ingin memenuhi jiwamu dengan

gelombang-gelombang, dengan getar

senar dan getir yang disitir sajak

dari buku sejarah yang dibakar.

 

Hujan tak akan turun di musim ini

juga kata maaf. Sungguh, lupa

itu bukan penyakit. Dan kekejian

tak memiliki penawar.

 

Aku trubadur gadungan, limbung

menghafal lirik, payah meramu

gerisik lengan mandolin.

 

Sementara tawamu panjang berderau

Serupa suara pelantang di genting surau

yang belakangan jadi pangkal debat dan gurau

 

Aku menyanyi, kau tertawa

seolah sebuah hari adalah

demam dan epilepsi

di antara riuh lagu cinta.

 

Lalu kau mengeluhkan kulit jemariku

yang makin menebal bagai kebebalan

sebuah bangsa, tapi keluhan itu

tak bakal menghentikanku.

 

Aku akan terus menyanyi, menyanyi!

hingga nyanyianku memenuhimu.

 

2015

Menonton Horor di Bioskop

 

Terkutuklah mereka yang menyembunyikan

roh orang mati ke tubuh boneka

 

Juga mereka yang menjadikan anak

kecil sebagai antagonis dalam

mimpi buruk orang dewasa

 

Lampu akan dimatikan sebentar lagi

agar orang-orang dapat leluasa

menyusun rencana pembunuhan

rasa sepi

 

Layar putih telah dibentangkan

untuk menyerap jeritan, yang

lalu dimuntahkan kembali sebagai

berondong jagung dan minuman ringan

 

Jika kau mati, Anabelle, tamatlah film ini

Karena horor itu fana, dan rasa takut abadi.

 

2014

Dari Lukisan Rene Magritte

 

Sepucuk cahaya memanjat naik ke atas meja

tempat surga baru saja raib menyisakan jelaga

 

Ia berdiri di antara rentetan khotbah dan keinginan

memperbaiki dunia, sementara keremangan perlahan

mengerkah tubuhnya

 

“Surga yang berlumur minyak rambut sedang

bersembunyi di celah otak kecilmu, Tuan.”

Cahaya itu berujar seraya menjaga keseimbangan,

menahan kaki meja biar tak doyong dan menjadi profan

 

Cahaya itu menceramahi setiap wajah yang berpaling,

merambati amal yang mengharap imbalan, menggusah

empati setengah tulus, mencerca puisi yang ditulis

tanpa pendirian.

 

Pipa tembakau yang tak rela lepas dari mulutmu itu pun

tak luput dari kesinisannya, seakan itu tamsil paling pilu

dari kemunduran moral seusai zaman pencerahan.

 

Kau tahu, cahaya itu memiliki pertanyaan

yang enggan ia ajukan. Mengenai hidungmu

yang bengkak mengendus-endus wadah kosong

yang telah dijilati entah oleh api yang mana.

 

2015

Jamil Massa

Jamil Massa

lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis Puisi, Cerita Pendek dan Esai. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti: Harian Fajar, Tribun Timur, Jurnal Tanggomo, Jurnal Santarang, Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly), Jurnal Sajak, Suara NTB, Indopos, Gorontalo Pos, Riau Pos, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Kompas. Sejumlah puisinyanya diikutkan dalam antologi puisi bersama: Pohon Ibu (2012), Wasiat Cinta (2013), Gemuruh Ingatan (2014),Jalan Cahaya (2014), Nun (2015); serta sebuah antologi prosa Dongeng Negeri Kita (2015). Pernah diundang dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (2013) sebagai Penulis Muda Indonesia Timur. Saat ini bermukim di Gorontalo, bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo dan mengasuh rubrik sastra di portal berita degorontalo.com.
Jamil Massa

Latest posts by Jamil Massa (see all)