Puisi-Puisi Jamil Massa; Kepergian Seorang Penari

in Puisi by
2dartistmag.com

Mengelus Perut Istriku

 

 

Mengelus perut istriku

yang sedang menggembung seperti roti

dan berdenyut laksana surga

kurasakan panah-panah waktu

menumpul merambati kepala.

 

“Teruslah mengelus agar

kakak tak pernah berduka,”

ujarnya di antara jeri dan jaga.

Antara keluh kontraksi

dan rengsa plasenta.

 

Kuelus perut istriku

tatkala malam makin alum

dan sobekan hujan terhambur di halaman.

Kuelus sebab kudengar napasnya patah

bagai dilukai mimpi;

mimpi yang jadi bisik;

bisik yang jadi gema.

 

Di permukaan perutnya, urat-urat membayang

tak ubahnya peta Sulawesi yang perlahan

dijalari jalur kereta.

 

Rahimnya adalah ceruk suci

bagi segala serat suara.

Sungai tempat janji-janji dicuci,

dilipat, sebelum disimpan

dalam memori rahasia.

 

Di sanalah kau menggeliat

memeluk Beethoven dan kegelapan

menunggu pinangan cahaya

dan nasib buruk dunia.

 

Sementara di luar sini

aku senantiasa berseru kepadamu:

“Jangan takut, jangan takut, jangan takut,

dan jangan takut!”

 

Aku berseru meski memiliki suara

tak selalu membuatku mudah merasa lega.

 

2015

 

Kepergian Seorang Penari

 

“Aku menari untukmu, Siwa

Seperti menari di sempit

candi tanah Jawa.”

 

Begitu ia berkata

dengan membusungkan dada

pekat bisa menjalari nadinya

sejak Antwerp menghilang

di ujung jalur kereta.

 

Hujan salju telah berhenti,

tetapi ia masih tak berani

melirik garis tangan sendiri.

 

“Aku ingin tuliskan

surat untukmu, Vladimir

namun kuku-kuku jariku

telah habis dicabuti.”

 

Ia berbisik, tapi hantu-hantu

itu bisa mendengar.

 

Hantu-hantu itu selalu tugur

terutama di Saint-Lazare

—tempat dugaan-dugaan

atas hidup dan kematian adalah

keropeng yang mesti disingkirkan

 

Jika jenderal-jenderal itu

masih membayangkan, perang dunia

berkecamuk di sabuk dan pinggulnya,

apa yang bisa ia harapkan

selain kematian yang puitis

tanpa kain penutup mata?

 

Pagi itu, ia mengenakan baju biru,

topi kaku; sebuah gejala

Burung-burung gagak berkoak di tembok

seolah berseru, “Hindia! O, Hindia!”

 

Maka ia pun melambai ke arah kerumunan orang

lalu ke arah kegentaran yang telah terkokang.

 

2015

 

Ia Sedang Keluar

 

Ia sedang keluar, ke arah taman,

katakan itu jika ada yang bertanya,

ke mana pergi seleret duka dan sengau

tibia yang dimainkan kemarin malam.

 

Ia sekuntum mawar yang bersedih

nyaris seperti bintang mati.

Seorang pemuda telah membungkuk

dalam-dalam kepadanya dua hari lalu.

Ketika itu, samar ia lihat bibir

sang pemuda berubah jadi ungu.

 

Lantas ia ingat warna kegundahan,

warna langit Oktober di atas kota.

Kapel-kapel sunyi. Getar doa yang

tak lagi mengenali lidah pemadahnya.

 

“Pulanglah, jika yang kau

terima bukan berita gembira,”

begitulah ia berpesan

kepada siapa pun yang

berkeras menunggu.

 

Ia adalah seorang Capulet

—jerit rindu yang dicoret.

Dahinya dingin. Tidurnya

gurau kematian.

 

Meskipun begitu ia tampak gembira

sebab barangkali, sebentar lagi,

ia bakal jadi anonim –merdeka

dari gunjing orang-orang yang

selalu sibuk mempersoalkan nama.

 

Menjelang pembacaan eulogi

pemuda itu kembali

Membawa satu ampul kegetiran

yang kental bak nyala api.

 

“Dosisnya terlalu tinggi.”

 

“Ciumanmu terlalu pagi.”

 

Maka tanpa berkemas mereka pun pergi

Meninggalkan orang-orang Verona

membuat tanda salib di dada.

 

2015

 

Aku Izinkan Kau Membunuhku

 

Aku izinkan kau membunuhku dengan sedikit suara;

misalnya lagu pengantar tidur atau cerita

tentang bajak laut yang menguntit di Selat Malaka.

 

Demi sejumput rempah, dan mimpi-mimpi yang murah,

percayalah, tak ada apa pun di udara

selain ancaman skorbut dan rencana yang

kurang sempurna

 

Kita keliru, William,

karena itu kita dilupakan.

 

Namun kita pernah lebih keliru kala mengira

Tuhan menggelar dunia di atas nampan

—Dan memiliki rasa penasaran adalah

cara paling mudah menepuk pundak kematian.

 

Di pantai-pantai Hindia akan kau jumpai

jerat hujan, lipatan surga, dan orang-orang

kulit putih santun dari Company yang dikepung

desing malaria.

 

Di Agra, seorang gadis lugu Armenia

telah mencintaiku dengan dagu terluka

lantas apa yang salah, kawanku,

jika ingatan adalah kusam belacu

sementara kesendirian merupakan

cobaan terburuk di negeri jauh.

 

Ah, barangkali kita memang berdosa

Sekerat roti berjamur dan seiris

keju berbau kencing tikus belanda

telah kita kunyah tanpa berdoa.

 

Maka aku izinkan kau membunuhku, kawan

lakukanlah saat ombak sedang bosan

—sebelum angin hidup dan layar terjaga.

 

Barangkali aku sungguh berdosa

telah lupa pada warna kupu-kupu

dan cuaca menggelikan di negeri kita.

 

2015

Jamil Massa

Jamil Massa

lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis Puisi, Cerita Pendek dan Esai. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti: Harian Fajar, Tribun Timur, Jurnal Tanggomo, Jurnal Santarang, Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly), Jurnal Sajak, Suara NTB, Indopos, Gorontalo Pos, Riau Pos, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Kompas. Sejumlah puisinyanya diikutkan dalam antologi puisi bersama: Pohon Ibu (2012), Wasiat Cinta (2013), Gemuruh Ingatan (2014),Jalan Cahaya (2014), Nun (2015); serta sebuah antologi prosa Dongeng Negeri Kita (2015). Pernah diundang dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (2013) sebagai Penulis Muda Indonesia Timur. Saat ini bermukim di Gorontalo, bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo dan mengasuh rubrik sastra di portal berita degorontalo.com.
Jamil Massa

Latest posts by Jamil Massa (see all)