Puisi-Puisi Karya Ahmad Yulden Erwin; Mimpi Fukami

in Puisi by
opiomgallery.com

Pasu Shigaraki

  

1 /

Urat syaraf angin

Kipas diputar, pagi itu

 

 

2 /

Lengkung korona matahari malam

Alun sekunar dan ombak hitam

Di luar itu—langit tak punya apologi

 

 

3 /

Bila-bila saja bisa kujelaskan

Makna pasu shigaraki, mungkin

Tiada kata paling sunyi, selain hatimu

 

 

4 /

Percik hijau di cakrawala

Dan rintik hujan, karang terbang

Camar hitam menyelam ke kilau cahaya

 

 

5 /

Pagi ini segalanya

Terasa kian bersahaja—

Umpama pasu yang bahagia

 

 

6 /

Arloji, tidurlah            

 

 


 

Cawan Sunya Song Gi-jin

 

 Sunya bukanlah ketiadaan

namun jeda yang lesap

perlahan tatkala sekuntum ceri

mekar di dinding cawan

Jeda bukanlah kehampaan

namun segumpal awan

ketika angin pun hinggap

pada margin bengawan

Awan mungkin sejelang ombak

sebelum petang surut

tatkala pantai pun lenyap

dalam pasang kabut

Petang ialah setangkai rumput

menjelang dipotong, ketika

seekor kumbang berputar

di atasnya, seakan seluruh semesta

Sunya ialah selingkar sabda

di cermin kolam, berbilang abad

menunggu cahaya matamu

akhirnya lesap di dinding cawan

 


 

Oribe untuk Naya

 

Tidak suka oribe

Pilih shino, itu bagus

Yakin, Rosanjin tua

Tengah tersenyum di sana

 

Tapi, aku akan membawa

Satu cawan oribe

Untukmu, masa depan hijau

Pada dinding keju

 

Dan segala yang dingin

Adalah presensi yang lain

Hingga dapat kaulihat

Kilau warna pada lukisan

 

Atau puisi masa kecilmu

Itulah spektrum paling hangat

Dan binar sepasang mata

Dalam akuarium mimpimu

 

Dan pada saat itu cobalah

Ingat cawan lain dari hatimu

 

 


 

Mimpi Fukami

 

Kau terus saja bermimpi

Tentang sepasang sayap,

Menara tua dan lanskap

Musim salju, kilap sutra

Pada permukaan telaga,

Lalu awan dan angkasa

Bagai sepi musim panas,

Kemudian tentang semua

Yang tak mungkin atau

Tak bisa tersentuh angin,

Sebelum detik pun berayun,

Menduga-duga batas

Lengkung kosmik di balik

Mata rakun, atau kilau

Embun dalam lilitan soba,

Berulang-ulang mimpimu

Tumbuh dan melingkar

Pada cawan + pasu bunga,

Namun kau tak pernah

Berharap semua ini akan

Abadi, tak ada ilusi, meski

Tiada akhir yang sempurna,

Hingga pada suatu senja

Kau pun terjaga dan melihat

Cawan asing itu tersenyum

Dan berkata, ‘Perkenalkan,

Nama saya Fukami, tetapi

Sebut saya lanskap angin pagi.’

 


 

Cawan Biasa Hamada

 

Salju itu hitam, pasti, selalu
Ada malam di tengahnya
Saat kaubuka mata, kembali
Setiap detik adalah samudera

Sekarang, kaumasuki gerbang

Shambala di cawan Hamada
Seruang-seruang, di sini
Setiap benda adalah semesta

 


 

Bizen Kosmik, Kaneshige

1 /
Lelaki itu ia berpikir bisa baku tipu terus soal dunia
Bayang tubuhnya pas teng 12 siang fanatik benar
Dua jarinya terjulur ke ranting jadi tangan Buddha.

2 /
Kini, pas tiga abad menunggu, kemajuan zaman
Tercurah bagai butiran hujan, siluman pensiun,
Para sadhu cemburu—panel sebuah handphone.

3 /
Dari anus buaya jatuh ke rahang singa, sama saja,
Berapa lama lagi bisa tahan hidup sebagai ternak?
Bangun, manusia! Berjalanlah dengan kepala tegak.

4 /
Anjing butuh kelinci untuk diburu. Kucing hilang
Di malam purnama, sang tuan mencari-cari di sudut
Kamar, seekor kelinci lompat keluar—sebutir meteor.

Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin

Lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013) dan “Sabda Ruang” (2015).
Ahmad Yulden Erwin

Latest posts by Ahmad Yulden Erwin (see all)