Puisi-Puisi Kiki Sulistyo; Laut Menatapku

in Puisi by
id.pinterest.com

Laut Menatapku
laut menatapku. laut Ampenan dan bayangan pelabuhan.
tapi tak ada pelabuhan. meski kapal pembawa minyak terapung
di tengah-tengah. hanya sisa-sisa tiang dikaratkan kenangan.
akan datang sekelompok camar. mencari jejak moyang.
mereka kira pelabuhan masih di sana. dengan gudang dan tali-tali tambang.
dengan buruh pengangkut dan peti-peti saudagar.

sekawanan camar. sebagian tak mendapat tiang untuk persinggahan.
berputar-putar saja. membuat garis samar antara batas pasir dan
pulau seberang. selalu ada kelabu. seakan selalu ada yang pasti berlalu.
laut menatapku. aku menatap camar . pucuk gunung di kejauhan.

ombak tenang pagi hari. laut dangkal di sore hari. kerang-kerang
bercangkang hitam menggali pasir. dibawa arus ke pesisir. dulu, mata kecilku
mengincar mereka. kulit mengering dan rambut jadi pirang.
kemana camar yang tak mendapat tiang . mereka bertengkar.
camar-camar bertengkar. berebut tempat persinggahan.

(2016)

 
Penambang Garam
tuak ini terlalu lunak bagi berahi yang tanak di panggung kampung
meski ketipung meniru detak jantung dan kerling penari joged

berselang seling dengan pelet yang lengket di alis bujang amis
tak bisa ia larutkan bayangan laut saat ia laratkan seluruh rasa takut

pernah ia percaya bahwa tambang garam akan selamanya muram
merendam keras tulang, meredakan lidah yang gemar bertualang

pernah pula ia tak percaya bahwa tambang garam selamanya muram
ada juga kelepak elang menyinggung dan punggung penyu rela menanggung

tapi yang terjadi terlanjur terjadi, air tinggi membawa pergi anak istri
sementara ia menyaksi, bagaimana arus membeku jadi asin bongkah dadu

lengang memanjang bagai lengan yang mencuri telur dalam sarang
di pusat malam manakala terang tak terang lagi bagi segenap pengharapan

bahkan tuak ini, tuak semerah mata pemburu leak, terlalu lunak
dan lekas lenyap sebelum berahi sampai ke ujung kaki, ke ambang pagi

maka ditenggaknya lagi, ditenggaknya sekali lagi, sampai tandas ke dasar kendi

(2016)

 
Tiga Alasan Perang
1. dada

di dada ini jazirah membuka jalan bagi ziarah ke gurun mati
setelah hujan garam, garam asam, garam yang pernah membuatmu
jadi patung di taman dengan buah pahala dan rasa haus tak bersudah
di mana kita pernah melata dan terkatung dari dahan ke dahan
2. penebus

para penebus yang berdiam di tiap pertemuan arus, tak bisa mati
dan selalu menyesali mengapa bumi dihamparkan dan setiap makmum
percaya bahwa ilmu tak lebih dari tipu suatu kaum yang nanti bakal turun
ke gurun sebagai penujum yang dari lidahnya memancar racun harpun
3. arang

arang dari kayu wangi, yang dagingnya jadi umpan siluman penghulu
agar membubuhkan bubuk cahaya ke wajah itu, hingga tiap pemandang
merasa tenang dan dengan dada lapang mempersilakan ia mengambil apa saja
yang bisa menjadi nazar agar seluruh amalnya tersiar dan ganjarannya tergandakan

(2016)

 
Jembatan Alkali
aku mulai dari sini, jembatan alkali antara
Ampenan dan Bakarti, di bawahnya sebentang kali
menghanyutkan biografi dan rahasia biologi
aku anak bapakku, aku bapak anakku
seluruh partikel melepaskan diri dari unsur
pembentuknya, manakala aku masuki inti puisi

puisi yang tak punya akta, senyawa kimia dalam
tubuh bahasa

maka aku semata prisma yang menyebabkan warna
dimana sifat-sifat gelombang meledakkan makna
bunyi diksi dan kesempatan untuk melihat
datangnya detik ketika segalanya mati
dan dentuman besar diulang lagi.

(2016)

 

Berjalan di Ampenan
gelembung fajar pecah di timur tanganku. bintik-bintik pagi,
gejala yang menghubungkan keberadaan dan ketiadaan.
aku tiba. pelan-pelan kulihat kota membuka mata. pasar dan bea cukai.
terminal dan tukang obat. burung gereja membuat tanda untuk
hari minggu di permukaan batu.

aku berjalan. dunia begitu ringan. batas-batas memudar.
cahaya diracik dari debu. debu cahaya terpercik ke lidahku.
kuucapkan: Ampenan, Ampenan, tiba juga si anak durhaka.

menjelang pelabuhan. kurahasiakan diriku dari kerumunan.
para penganggur memelihara burung. bertengkar perihal
kicaunya yang murung. yang lain menghirup kopi sembari menatap
laut sepanjang hari. di laut, tongkang mengangkut kenangan.
pelan-pelan kulihat kota memejamkan mata. angin dan amis garam.
gudang tua dan seorang kapitan. lampu-lampu jalan menggoreskan
pucat sinarnya, membuat batas antara lupa dan ingat.

(2016)

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas nonsanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya. Email: pohonkata@gmail.com
Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)