Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM; Prelude Bagi Musik Rock di Sebuah Kafe

in Puisi by
Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM; Prelude Bagi Musik Rock di Sebuah Kafe
Sumber gambar: timeout.com

 

SUATU MALAM DI SEBUAH HOTEL

hujan januari

mengantarkan kami ke sini

 

pada lekuk bibir perempuan rusia

masih mengalun nada nada pesta

bau wiski, gelayut sepi

dan kami terus terjaga

bulan karam di atas meja makan

sebuah hotel

malam bikin kota jadi sedih

lampu sepanjang jalan

menyeret musik ke dalam mimpi

 

antara kami dan pelancong tua

saling bertatap mata

ini darah kami   ini tanah kami!

sepatu yang berat padamkan

nyala rokok di atas lantai

“apakah kau kenal hegel, al ghazali

atau cheng ho?”

seorang pemabuk berceloteh

sedangkan sunyi telah merayap

ke dinding kamar

dan dingin menyapu segala

ingatan tentang masa silam

 

di luar, jalan membentang

dari hotel ke pantai

esok siapa yang akan tiba lebih awal

kapal kapal atau matahari?

 

kubiarkan kota ini bergegas

dengan ransel berisi sejuta kenangan

menyeberang ke pulau pulau tak berpagar

“mari kutuntun ke kamar nomer dua lima

sebelum kau pulang dan sejarah

menghapus kisah ciuman kita”

 

dinding bercat tebal, lukisan marmer,

jendela tak berkaca,

kami saksikan lagi peperangan itu

diponegoro tuanku

dengan sebilah keris kau menyerah

menyeret ombak ke pembaringan

menyeret gunung ke pesakitan

kita mesti menyusun lagi taktik peperangan

di atas laut

di atas perahu layar nelayan madura

di ujung sirip ikan yang menuju muara

 

di sepanjang ranjang tak berbesi

pagi tak kunjung tiba

di luar musik semakin pelan

malam menampakkan istananya

dan pemabuk itu masih terdiam

samar samar di bawah lampu

semakin nyata wajahnya

seperti bayangan kita

 

lalu kami pergi seketika

dari kamar hotel ke pembaringan

pada tanah dan kesia siaan ini

yang tak lagi dikenal

 

 

 

PRELUDE BAGI MUSIK ROCK DI SEBUAH

KAFE

 

-bagiMu

 

di udara terbuka, kafe malam hari

musik membosankan

dan segelas kopi

kata kata membeku dalam buku

puisi bersampul biru

bibirmu, bibir kita mengapa bisu?

tiga tahun seperti misi suci

dalam sepi

dunia gelap dan menakutkan

fotomu dengan senyum penuh

menepisnya, tersimpan di bawah

bantal dalam kamar tempat puisi puisi

tercipta. tempat cemas aku olah

menjadi daya

 

di kafe terbuka.

pelayan kafe tiba. lelaki metro-klimis

memesannya: dua botol bir, sepiring potato

impor.

dengan sinis dan sedikit rasis

seperti kisah bangsa hitam vs kulit putih

amerika.

“hei miss, rambutmu sebagus bulu jagung!”

 

diam diam kau iba. aku tahu kau

cukup cantik dan tak cukup cerdik

menyembunyikan kesedihan. matamu yang

membuatku jatuh cinta tiga tahun silam

bening-terkaca.

ini kehidupan terbuka!

keindahan hari ini selalu sejalan dengan

global kekuasaan; eropa dan amerika.

eksotisme hanya sesuatu yang tak kau

jangkau dengan kakimu yang aduhai

 

come on baby light my fire!

ijinkan aku merokok sebentar sayang

‘kan kubikin sarang bagi bintang bintang

dengan asap para petani pedalaman

anak anak miskin yang tak sempat

mencecap buku dan kopi mahal sebuah kafe

—kopi yang dipetik tangan tangan lentik

ibu ibu yang tak paham politik dan debat

seputar kebudayaan

 

di kafe yang terbakar musik

bakar juga aku, bakar dengan tatapmu

yang ganas sekaligus sunyi

berilah aku harapan pada hidup ini

begitu rapuh

dengan sejuk alunan harpa yang kau

suarakan dari kedalaman jiwa

minggu kita cukup dingin

bagi kota yang kehilangan selera

kemanusiaan

jaring raksasa sengaja dicipta agar

manusia terperangkap di dalamnya

 

di panggung kecil pojok kafe, seorang

musisi tanggung memamerkan aksinya

mungkin juga kau bosan

lirik lirik picisan tentang cinta

dan kegundahan

tak seindah puisi penyair pujaanmu

yang berkisah tentang metropolitan, flat,

new york, apartemen dan barang barang

kantor dan alat alat kosmetik itu

 

pulang? bisikmu

 

amor platonicus!

amor platonicus!

ha.. ha.. ha.. lelaki dan perempuan

yang tak berani tidur seranjang.

dengan sedikit mengedipkan

mata dan senyum indah yang selalu

kubanggakan itu

aku paham, sayang

kau akan pulang pada kekasihmu

dan aku pulang pada kesunyiaanku.

“hanya di alam kematian tak ada

cinta segitiga!”

jam sebelas, dewa dewa mabuk

baru turun dari langit

mengajak berpesta

musik rock akan segera menggema

tapi kita harus pergi, kita mesti pulang

mari senyapkan sejenak

gemuruh yang selalu lahir dalam sua

agar hari hari berjalan wajar

agar hari hari semakin khusuk

mencintaiMu!

 

 

 

FRAGMEN MEDITASI

 

1/

menyendiri di tepi kali yang sepi

senja perlahan berdiri

di sekeliling – bukit bukit.

air di kedalaman tampak tenang

dalam hati terbersit pertanyaan:

mengapa aku di sini?

betapa, aku hanya ingin menjadi

pohon di seberang kali itu

diam dan kokoh dalam samadi

tak bergejolak kecuali

angin dan waktu menumbangkan

dengan cintanya

 

2/

sembahyangku, ibu!

selalu gemuruh angin laut

memberontaki sunyi

sembahyangku, ibu!

selalu kabut pagi

terombang ambing tak pasti

sembahyangku, aku ingin

hening – sepasrah pepohonan itu

menyerahkan langkah

pada gembur tanah

atau cadas batu batu perigi

 

3/

celaka, katamu

langkah yang tak menyentuh

tanah, sedangkan pepohonan

semakin ke atas juga ke bawah

menghisap saripati bumi, menampah

remah remah langit

 

o aku ingin jadi pohon

hidup sesuai kehendak alam

 

4/

aku tengadah dan sulit berserah

tujuh matahari yang mengitari

kepalaku, memaksa mataku

terpejam. sujudku

mengapa tak sesempurna sujud

batu batu?

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar. Aktif sebagai salah satu penggerak komunitas Jatijagat Kampung Puisi, Bali. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Ensiklopedi Pejalan sunyi.
Kim Al Ghozali AM

Latest posts by Kim Al Ghozali AM (see all)