Puisi-Puisi Kurnia Effendi (Jakarta); Cinta Randu Alas

in Puisi by

dewi hujan

CINTA RANDU ALAS

 

Cintaku padamu meniru akar randu alas

Melesak dalam sela batu bumi, mengikat

erat beribu hikayat. Di ranah Sebayu, kurawat

sumur dan tanah gembur

Kuingin anak cucu berkumur kenangan, mineral

yang membangun jiwa mereka subur

 

Cintaku padamu serupa pucuk ranting randu alas

Mencium ubun-ubun langit, memandang cakrawala

berbatas pantai dan bukit. Laut utara menanggung

lara, lereng Gunung Slamet menuang kasih sayang,

mengalir siang dan malam lewat Kali Gung

Jauh sudah bunyi letusan bedil, berganti

berondong mercon setiap awal Lebaran

 

Cintaku padamu ibarat batang raksasa randu alas

Tahun demi tahun menghimpun sari perasan

sejarah. Getah yang melahirkan para perantau,

kaum tahan banting, lengan-lengan yang bekerja

Laju permukiman, industri rumahan, tajuk

ranum kesenian: seriang arakan kapuk

dalam tarian angin

 

Balikpapan-Samarinda, 21 Juni 2014

 


NANGAPANDA SENJA

 

Kaukirim dari mana bebatuan warna-warni ini?

 

Tak kulihat pucuk gunung, mustahil juga dari palung

Menjelang petang, begitu rileks ombak bergulung

Dengan bunyi “kralak-kralak” seperti musik tenung

Berulang kali memandikan pasir dan hati yang suwung

 

Untuk siapa koral dengan aneka rona bertebar di sini?

 

Tak kunjung henti, bertambah jumlah setiap waktu

Tak kunjung mengerti, apa makna hijau, kuning, cokelat, dan ungu

Apakah ini upeti balas budi atau sesaji bagi sang penunggu?

Orang-orang tak menampik rezeki, dari batu berwindu-windu

 

Sejak kapan batu-batu cantik kauserakkan ke pantai ini?

 

Irama mistis hari-hari yang berganti dari sunyi ke sunyi

Desa yang tidur tenteram dalam dekap gelap dan selimut mimpi

Oksigen yang cukup selalu membuat segar saat bangun pagi

Kepada para penambang batu, tak seorang pun merasa iri

 

Ayat-ayat itu, berupa batu-batu, belum saatnya jadi buku

 

Ende Flores, 12 Maret 2015

 


MENJELANG PAGI

 

Pada sisa sepertiga malam kudengar jemari hujan

Mengetuk atap dan jendela tempat menginap di Parapat

Bermain irama dengan jantungku, di sela dingin dan ngilu

 

Angin tegak di ambang pintu, mengucap sapa tanpa suara

Lalu hujan meniru bunyi derap kaki-kaki kuda, melaju ke utara

Memercikkan cahaya ke atas teras, menghapus semua tilas

 

Gerbang hatiku terbuka kembali untuk cinta yang sederhana

Selamat datang keindahan, menyapu kesunyian pagi yang jauh

Langit masih gelap dan kuduga matahari akan terlambat

 

Kulepas doa: ujaran permintaan yang puitis dan sopan

Agar setiap kecemasan tak pernah jadi kenyataan

Sebelum seluruh janji kutepati dan rindu kutunaikan

 

 

Parapat, 10 Mei 2014

 


TENTANG AKU

 

 

Aku, si bajul kelas rendah, hendak mengunjungi para sepupu, komodo

yang keren di Pulau Rinca. Ini musim kawin mereka, menjelang September

yang telengas, ketika api gemar menjilat dan mengunyah batang-batang

kayu kering di perbukitan. Laut amat biru serupa beludru kusut, memisahkan

nusa demi nusa.

 

Aku, si petualang tanggung, tak punya nyali menyelam ke dasar laut

dangkal. Panorama ciamik menggoda dengan terumbu karang dan

satwa samudra yang koleksi warna mereka tak tertera pada nuansa bianglala.

Di balkon kapal berangin-angin menghirup udara yang mempertemukan

kabar musim semi di Aussy dan hawa kemarau Labuanbajo

 

Aku, si penyair musafir, menulis terus tanpa berpikir. Tak mahir membuat

syair satir, namun mencintai Nusantara dengan seluruh kekayaannya.

Kususun kebahagiaan dari peristiwa-peristiwa kecil, mengabadikan

setiap kisah yang nyaris punah, dan memperkaya ingatan dengan torehan

agar pikun tak mempan

 

 

Perairan Labuanbajo-Pulau Rinca, 30 Agustus 2013

 


DEWI HUJAN

untuk Eliana Donna

 

Jauh aku berjalan, untuk menjumpaimu, Dewi Hujan

Telah kukalahkan seluruh ingatan, jarak tak bertuan, demi

memandangmu: air murni yang membentuk paras rupawan

 

Tak sanggup aku menolak pelukanmu, Dewi Hujan

Tiada lagi batas antara tubuhmu dan tubuhku

Mencair sebenar-benar air, mengalir ke taman perawan

 

Alangkah indah pertemuan di antara gemawan, Dewi Hujan

Aku takut kehilangan, menjagamu dengan kedua tangan

Menyimpanmu dalam kenangan: akuarium kutub selatan

 

 

Jakarta-Purwokerto, 2014

Kurnia Effendi

Kurnia Effendi

Lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis pertama kali untuk publik tahun 1978. Di era 80-an gemar mengikuti sayembara prosa dan puisi, meraih sekitar 30 kejuaraan, 8 di antaranya juara pertama. Semasa kuliah bergiat di Grup Apresiasi Sastra ITB.

Buku kumpulan cerpen Kincir Api (GPU, 2005) terpilih lima besar Khatulistiwa Literary Award 2006. Buku kumpulan cerpen Anak Arloji (Serambi, 2011) mendapat penghargaan sastra Badan Bahasa Jakarta 2013. Selain menulis, juga menjadi pembicara diskusi sastra, juri lomba sastra, penyunting lepas, kurator festival, dan pelatih penulisan kreatif.

Sejak 1997 telah menerbitkan 17 buku (kumpulan cerpen, antologi puisi, himpunan esai, novel, dan memoar). Buku kumpulan cerpen Kincir Api (GPU, 2005) terpilih lima besar Khatulistiwa Literary Award 2006. Buku kumpulan cerpen Anak Arloji (Serambi, 2011) mendapat penghargaan sastra Badan Bahasa Jakarta 2013.

Kerap diundang dalam perhelatan sastra mulai regional, nasional, hingga internasional antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX Kayutanam (1997), Panggung Cerpen Indonesia Mutakhir (TUK, 2003), Temu Sastra Kota (DKJ, 2003), Festival Sastra Internasional Utan Kayu (TUK, 2005), Mitra Praja Utama (Disbudpar, 2009), Ubud Writers and Readers Festival (2010), Bali Emerging Writers Festival (2011), Pertemuan Sastrawan Indonesia-Malaysia (2015), Kongres Kesenian Indonesia V (2015) . Selain menulis, juga menjadi pembicara diskusi sastra, juri lomba sastra, penyunting lepas, kurator festival, dan pelatih penulisan kreatif.
Kurnia Effendi

Latest posts by Kurnia Effendi (see all)