Puisi-Puisi Moh. Miftahul Ainin Najib (Jember)

in Puisi by

 mata 

Matagung

 

Mata.

Dari mata kulihat
dengan jelas;
segala yang tampak,
pun yang tak tampak.

 

Mata lahir.

Mata batin.

Mata angin.

Mata air.

Mata pena.

Mata pedang.

Mata-mata.

Mata bermata;
bisu.

 

Tak dinyana-nyana,

kebenaran dipendam,

dan kesalahan teruruk.

 

Lalu, kapan mata-mata itu angkat bicara?

Apakah ia benar-benar bisu?

Atau…

menunggu ajal?

Menunggu matahari terbit?

Menunggu bulan purnama?

Menunggu musim?

Menunggu tahun?

Menunggu abad?

Menunggu tunggu?

 

O, tak perlu,

tak ditunggu pun angkat bicara.

Karena mata-mata itu selalu bicara;

bicara pada ketelitian,

bicara pada pengamatan,

bicara pada pemerhati.

 

Dengan begitu,
mengapa harus ditutup-tutupi,
mengapa harus sembunyi?

Mata-mata selalu memata,
memata dan memata.

 

Meskipun kau berselimut,

di balik tabir gaib Aji Pangilmunan.

Kau tetap dilihatnya.

Matanya adalah penjuru mata angin.

Matanya setajam mata pedang.

Mengalir ke segala arah,

bak mata air.

Memahat dalam sejarah.

Terpahat dalam bukti.

Tertulis dalam kenyataan,

Kenyataan masa.

Masa bertiga yang bersatu

dalam masa kesaksian.

 

Terbukalah,

kau harus terbuka.

Dengan begitu,

mata-mata tak bermata

melihat keagungan

Keadaan yang kentara

dan kau melihatnya pula.

Di mata lahirmu.

Di mata batinmu.

 

Mata-matailah mata-mata itu.

Akan kau temui mata agung,

mata eka.

 

Bagon, Puger

21:51, 16/03/2015

 

 

Matajur

 

Senyum(mu),

amarah(mu),

kecemasan(mu),

kebingungan(mu),

dan semuanya

terpancarkan pada mata(mu).

 

Jujurlah layaknya mata

tak pernah mengada-ada.

 

Bagon, Puger

22:22, 16/03/2015

 

 

MATACI

 

Dorong tuas berbentuk huruf,
yang melengkung, dan akan terkunci.

Matamu adalah gemboknya

matamu pula adalah kuncinya.

 

Guratan-guratan keriput

di samping kiri dan kanan

seperti kaki burung.

Saat bulan muda mengembang di bibirmu,

pertanda senyum kebahagiaan

seperti matahari di pagi berembun sejuk.

 

Ada mata lain yang tak memancarkan kecerahan,

meringis, seperti katak menahan lapar;

itulah kepalsuan.

 

Pilih yang mana?

Kebahagiaan yang terwujud padanya

atau kepalsuan atasnya?

Maka cukup kau buka gembok dengan kuncinya.

 

Bagon, Puger

06:34, 17/03/2015

 

 

Mata, o, Mata

 

Matanya yang menggiurkan

berwarna warni;

merah,

cokelat,

tua,

muda,

hijau,

kusam,

benar-benar menggoda mata

yang melihat mata itu.

 

Banyak mata yang buta karenanya,

karena mata yang terpaku,

dan termabukkan olehnya.

 

Mata, o, mata

 

Bagon, Puger

22:18, 16/03/2015

 

 

Mata Buta

 

Di mata anak desa.

Di mata anak kota.

Di mata orang dewasa.

Di mata seluruh onggok manusia.

Di sini.

Di sana.

Di mana-mana.

Mata-mata yang buta.

Dibutakan oleh cahaya.

Dibutakan oleh gelap.

Dibutakan oleh segalanya.

Mata-mata yang membuta.

 

Bagon, Puger

22:06, 16/03/2015
Sumber gambar: 7-themes.com

 

Moh. Miftahul Ainin Najib

Moh. Miftahul Ainin Najib

Lahir di Jember, 18 Juli 1995. Menulis puisi dan selalu menumpahkan unek-uneknya di blog : unek2enajib.wordpress.com. Kini tinggal di Puger, Jember. Email: najib4848@gmail.com
Moh. Miftahul Ainin Najib

Latest posts by Moh. Miftahul Ainin Najib (see all)

  • Rafa N Rafi

    Untung gak bikin judul Matamu

    • lha itu dia saya juga lupa gak bikin puisi yang judulnya Matamu. hehehe

      • Rafa N Rafi

        Jangan, Mas. Hihihihi…