PUISI-PUISI MUSTAFA ISMAIL; DARI SEBIJI PADI

in Puisi by
foodfile.typepad.com

DARI DIDONG HINGGA SALUANG

 

di sepanjang jalan, kau membentangkan hijau hutan,

suara azan dari surau yang menyusul syair puji-pujian dari

diniyyah putri, cahaya bermekaran di kegelapan

 

menyala dari rumah-rumah gadang, di setiap tikungan,

ditingkahi bansi, saluang, gendang tabuik, hingga serunai

kita memanjatkan doa, katamu, kepada Tuhan Yang Satu

 

aku berdiri di belakang rumahmu, sambil membayangkan:

puisi seperti kembang api yang meledak di kabut gunung

menggantikan kokok ayam di kampung-kampung

 

pagi itu, aku menghadap ke Gunung Tandikek:

melihat seorang petarung mendaki dengan kaki telanjang

“aku adalah pijar-pijar lava di gunung api,” katanya.

 

setiap sore, kau membentangkan almanak dan menandai

satu per satu angkanya

ini adalah jalan kesunyian, katamu, hanya kekal di kegelapan

 

kita sempat bercakap sambil bermain bola di pagi buta

tentang pohon-pohon kopi yang tumbuh di rambutmu

mengekalkan syair didong, pmtoh, hingga seudati

 

terkadang di ujung malam, kau berdendang mirip seorang

pertapa yang merintihkan pepongoten di bebesan

tapi kadang mirip syeh seudati dari kampung usi

 

seperti laron, beranda selalu penuh coretan,

koran-koran tua, juga huruf-huruf yang bergerombol,

bermain petak-umpet dan menggigil di jendela

 

“kami adalah jalan berliku di Lubuak Aluang hingga

Lembah Anai dan Gua Batu Batirai,” katamu.

“Kau adalah perantau yang sekuat bakau.”

 

di kampung jambak, aku selalu melihat didong dan seudati

dimainkan dalam iringan bansi dan saluang,

dan kau menjadi teungku yang dipanggil engku!

 

Depok, Maret 2018

 

 

 

PENYAIR TANGGUNG

 

aku penyair tanggung datang dari kampung

yang koyak-moyak oleh batu-batu gunung

 

aku berkacak pinggang di tubir jalan

menantang angin malam

menyeberang pulau dengan riang

 

kampungku adalah hamparan yang landai

dikelilingi bukit-bukit dan ombak pantai

persis sebuah lukisan yang aduhai:

 

perempuan telanjang dengan gincu di tangan

memoles bibir hingga terbakar

di seberangnya kau menjadi arang

 

kampungku dibikin dari bilahan rencong,

daun ganja, ganas ombak dan bau mesiu,

dari tangis anak-anak kehilangan bapak

 

kau boleh saja menyebutnya dongeng

sambil mengarang cerita-cerita palsu

tentang orang jompo dan preman pasar:

 

seperti dirimu yang berdiri di trotoar

dan membayangkan sedang di atas gunung

membangun kerajaan kaktus

puisi dibangun dari air liur perempuan liar

yang gemar mengaveling malam

— ini malamku, itu malammu —

 

kau pasti tahu: bukan dari biji-biji emas, butir berlian,

apalagi kilau bintang

yang bisa membentangkan jalan menuju surga

 

lebih baik kau tak berjaga menunggu senja

agar encok tak membuatmu mengigau

tentang diksi-diksi lampau

 

puisi bukan jalan pedang

penyair bukanlah pahlawan

tak perlu bunuh diri walau ia buruk rupa

 

aku penyair tanggung datang dari gunung

dari mata rencong tanpa sarung.

 

Jakarta, 30 September 2017

 

 

 

KITA ADALAH POHON

 

kita adalah sebatang pohon

tumbuh di atas tanah pecah

dengan ranting-ranting patah

 

setiap pagi kita berselancar

di dalam gelas kopi

sambil menahan laju matahari

 

“aku adalah daun-daun randu

yang terjebak dalam mimpimu,”

katamu.

 

kau merimbun di jembatan,

aku tersuruk-suruk di trotoar

merambat ke batas dahan

 

“aku bukan layang-layang

yang terbang tanpa benang,”

kataku.

 

setiap sore kita menarik daun-daun

ranting kuncup seperti payung

lesap dalam kegelapan

 

kita adalah sebatang pohon

dengan daun-daun mengering

selalu tegak ketika pagi datang

 

 

Jakarta 22 Februari 2018

 

 

 

 

DARI SEBIJI PADI

 

dari sebiji padi kita menjelma pagi, sepotong sajak dan

secangkir kopi – tumpah di tepi

 

“kau pasti lupa pada pulot, timphan dan seudati.”

 

aku selalu membenci mulutmu yang sebiru mataku

meruapkan aroma Seulawah dengan rumah tua di pucuknya

dan kau pernah berpose di sana sambil membayangkan:

 

                 ada ribuan nisan tak kau kenal

                 nun di gunung, di pelosok malam paling dalam,

                 bersitatap dengan mulut anakmu tak bisa diam.

 

kau adalah perempuan kampung, inong balee

ditinggal pergi lelaki baja

menanami ladang dengan biji-biji padi.

 

“kita telah menjadi sunyi, iklan dan televisi.”

 

dari sebiji padi kita menjelma api, sepotong mata dan

sepiring nasi – yang pecah di kaki.

 

“apa kau masih ingat

 

Depok, Maret 2018

Mustafa Ismail

Lahir di Aceh pada 1971 dan bekerja sebagai buruh media di Jakarta.Buku puisinya “Tarian Cermin” (2007 & 2012), “Menggambar Pengantin” (2013 &2014) dan “Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian” (2016). Buku cerpen tunggalnya “Cermin” (2009) dan “Lelaki yang Ditelan Gerimis” (2017). Ia rajin ngeblog di steemit.com/@musismail dan berkicau di akun twitternya @musismail.

Latest posts by Mustafa Ismail (see all)