Puisi-Puisi Mutia Sukma; Cinta Gila

in Puisi by
oceansbridge.com

Cinta Gila

 

Apalah arti kembang api di tengah mandi cahaya

Apalah arti cintaku yang besar bagimu

Bila seluruh zat mencintaimu

 

Aku menjalankan peta nasibku

Kau rupanya yang menentukan tujuan

Aku menguasai ilmu pengetahuan, peta dunia dan buku-buku

Tapi kau lebih paham segalanya

 

Akulah pembuka lahan di daratan kering,

Memangkas rumput sahara dan membakar reranting

Dan  menjadi pemilik atas wilayah temuan

Tapi ternyata, engkaulah penguasanya

 

Dengan anggur dan kitab suci, aku mabuk memujamu

Tapi pujaanku, mungkin takkan sampai kepadamu

Sebab aku bagai buah-buahan, yang berharap tumbuh di tepian

Sungai susumu

 

Tawan aku jadi kolonimu

Penjarakan aku dalam cintamu.

 

 


 

Ironi pada Sebuah Kafe Kecil Depan Gedung Asia Afrika

 Pukul tiga pagi

Di saat embun mulai basah dipermukaan batako

Udara Periangan menusuk tulang

Aku memandang Braga dari sebuah kafe kecil

Sepi pengunjung

 

Di kafe kecil, lewat jendela yang kecil

Aku memandang

Para bule menari reggae di sebuah bar pinggir jalan

Lagu-lagu Bob Marley mengalun sampai keluar

 

Pukul tiga pagi

Saat embun mulai basah di permukaan batako

Dan udara Priangan menusuk tulang

Aku membayangkan mereka melepas tegang

Seusai konfrensi Asia Afrika

Mata mereka masih menyisakan lelah perjalanan jauh

Pesawat yang delay dan kestabilan negara yang rawan

Maka dipeluk dan kecuplah para gadis bar itu

Mungkin gemetar kelelakiannya,

Atau gemetar dalam diri, membayangkan perang dunia dan kemanusiaan

 

Pada dua diri yang saling bertentangan

Para bule yang kubayangkan sebagai peserta konfrensi Asia Afrika

Menari reggae

 

Mereka menenggak bir, tawa mereka mengambang di antara musik yang kencang

Mungkin sebelum pagi, sebelum harus kembali berdebat sengit

Bicara politik, bicara ekonomi, bicara kelaparan dan perang yang sangar

 

Para bule yang kubayangkan sebagai peserta konfrensi Asia Afrika

Menari reggae

Mereka menenggak bir, tawa mereka mengambang di antara musik yang kencang

Botol-botol telah kosong,

Para bule yang berpelukan dengan gadis bar berjalan keluar

Namun bukan menuju gedung Asia Afrika.

 

 

 

Perjamuan Setan

Bagi instalasi agus rianto

 

 

pagi ini kami datang ke sebuah perjamuan

bentuk meja yang bundar dan membuat aku

dan dia duduk berhadapan

arah duduk kami sengaja menghadap jendela

sebab membuat semakin leluasa memilih hidangan mana

yang akan disantap lebih dahulu

mengisi piring dan gelas kami yang kosong

merencanakan mana yang akan dimakan menjadi pembuka

dan mana yang akan dimakan selanjutnya

 

perjamuan ini rahasia

karena kami berencana makan seadanya

apa yang tertunjuk jari itulah yang akan kami santap

dengan nikmat

tak perlu minum anggur untuk memanaskan badan

sebab pertemuan kami dilingkupi banyak kehilangan

dan rasa dendam

 

kubiarkan mereka menghina kami

membangun sarang buih di sudut bibir mereka yang tebal

sebab nama yang telah lama disiapkan untuk mereka

hanya memperlancar rencana kematian mereka

yang cepat

kami membantu membukakan pintu ajal

dan mereka mengantar kami ke puncak kenikmatan

 

 

 

 

rumah yang terbelah

apa yang akan kucoba mengerti

darimu lagi

kesabaran adalah hantu yang paling

menakutkan

juga kamu yang mengirimkan

perasaan dengan cara acakacakan

sedikit berbaikan selebihnya adalah

rasa tak nyaman

 

bagaimana aku dapat menerjemahkan rumah

sedang tempatku berlindung dari ketakutan

adalah perangkap yang menjebakku pada

kesakitan yang dalam

 

suatu hari

aku ingin minggat dan tak pernah pulang

tapi semua pintu dan jendela tertutup

juga atapnya setiap kupanjat dia berubah

semakin tinggi dan tinggi

mungkin telah menyentuh bintang dan

planetplanet

 

telah lama aku bersekutu untuk melawanmu

membalas kekasaranmu

menganggap kau tak pernah ada dirumah ini

tapi kau selalu terpejam

dan merasa aku tak pernah protes atas sikapku

 

telah lama aku berdoa

karena kumerasa hanya tuhan yang punya telinga:

rumah yang terbelah

terbelahlah rumah

agar aku bisa berlari dan mengetuk dada kekasih

menangis sepuaspuasnya

berteriakteriak sekencangnya sampai aku mengerti bahwa

semua kemarahan tak baik untuk kesehatanku

 

telah lama aku berdoa

karena kumerasa hanya tuhan yang punya telinga:

rumah yang terbelah

terbelahlah rumah

agar kemarahanku bisa terlihat

dan mereka memaklulmi apa yang aku ingini

sebagaimana mereka memakluminya

 

telah lama aku berdoa

karena kumerasa hanya tuhan yang punya telinga:

rumah yang terbelah

terbelahlah rumah

agar aku bisa bisa membangun jalan di dalamnya

lalu orangorang mendengar teriakanku

saat aku mulai merasa terancam.

 

 

 

*Puisi ini adalah tafsir lukisan “Image Of Women “

 

 

 

Samarang

             bagi The Photograf

 

 

sebelum kotamu benar-benar  tak cukup jadi mangkuk

menampung luapan laut dan

kotoran kota

aku ingin menjejaki bekas tapak kakimu

dan mencari di mana bingkai bingkai fotomu

dulu kau gantung

 

“1, 2, 3, senyum, senyum”

serumu dari belakang kamera

tapi di sini,

 di samarang tempo doeloe

aku tak bisa tersenyum

sebab aroma mayat yang menguap

dari tanjung mas

membuatku merasakan kau mati

padahal tak benar-benar mati

Mutia Sukma

Mutia Sukma

lahir 12 Mei 1988. Menulis sajak dan esai. Baru menyelesaikan pendidikan di Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Mengelola Taman Bacaan dan Kelompok Belajar yang bernama Kelompok Belajar Rejowinangun. Pencinta kucing serta cat breeder di Mama BK Chatery. Korespondensi: mutiasukma@gmail.com
Mutia Sukma