Puisi-puisi Putu Gede Pradipta (Bali); Hujan Kemudian Kesepian

in Puisi by
Hujan
pinterest.com

Hujan

 

/1/

Hujan yang singgah

ke rekah tanah

Barangkali menyimpan

petuah pun silsilah

 

/2/

Lewat nyanyi

gerimis yang ritmis

Terudar kabar

dingin yang hambar

 

/3/

Di air yang mengalir

daun-daun melaju

Meriak ke hilir

ke nasib ia menuju

 

(Denpasar, 2015)

 


Filsafat Terbang

 

Terbang bukan semata ke tujuan

Tapi bagaimana membujuk angin

Agar terpenuhi segala ingin

 

Terbang barangkali ketinggian

Mencapai yang tak terjangkau

Menggiring tepuk pun pukau

 

Terbang pada akhirnya hilang

Di rimbun awan melayang

Dan berakhir sebatas kenang

 

(Denpasar, 2015)
Saraswati Puja

tuhan yang cantik

berwajah keemasan

merangkul genitri

keropak juga wina

 

turun ke bumi lata

demi memberi sedekah

pengetahuan kebenaran

yang dinanti dahaga

 

angsa putih mengepak

dan angin jadi detak

segala noda diluruhkan

kebaikan dialirkan

 

oh sang hyang aji

puja saraswati suci

dalam hening diri

jalani ritus semadi

 

mengingkari fana

kebatilan dunia

 

(Denpasar, 2014)

 

 


Sajak Cinta 4

 

/1/

Adakah yang mampu

Mematahkan rindu

Akan senyummu itu

Selain sebuah temu

 

/2/

Adakah yang hendak

Merelakan cintanya

Sebelum ia mencoba

Bersikeras dalam usaha

 

/3/

Adakah yang bisa

Menulis puisi cinta

Selain benar ia

Telah jatuh cinta

 

/4/

Karena ia merasakannya

Maka ia tak akan pernah

Berhenti memuliakanmu

Lewat puisi-puisinya ini

 

(Denpasar, 2015)

 

 


Hujan Kemudian Kesepian

 

Hujan tak cuma menumbangkan

pohonan. Tapi juga mematahkan

keyakinanmu yang kemarau itu.

 

Teriak parau yang membebaskan

tak lagi didengar Tuhan.

Dan kini kau cuma kesepian

yang terdampar di ruang nirwaktu.

 

Sungai pikiran mengurungmu.

Sesuatu yang mengada hanyalah

semata marabahaya.

 

(Denpasar, 2014)

 


Pejalan Tidur

 

Dan kubebaskan diriku

Dari kungkunganmu

Wahai musim keparat–

 

Maka kurelakan darah

Gelegak hampa sudah

Dalam kuali semesta–

 

Dan kuserahkan mata

Batin redup remang

Ke puisi sesat kelana–

 

Maka jalan paripurna

Saat lampu kota nyala

Melapangkan dahaga–

 

Akulah pejalan tidur

Merasa dada rumah

Langkah tak terukur–

 

(Denpasar, 2015)

 

 


Imlek

 

Langit basah

Tanah rekah

 

Biji diri

Tanam kini

 

Di hadapan

Hio yang nyala

 

Terbuka surga

Tercapai doa

 

(Denpasar, 2015)

 


Anjing yang Menggigil

Sendirian dalam Hujan

 

/1/

Di dalam hujan

seekor anjing menggigil

sendirian.

 

Ia tak lagi bisa

menyalak galak

atau memberondong

gonggongan kosong

 

kepada sesiapa

dengan penuh curiga.

Seperti pernah ia

perbuat di masa muda.

 

/2/

Yang lalu terkenang

kesalahan dulu membayang.

Hujan makin deras

halilintar menggelegar keras.

 

Si anjing yang berjalan

sendiri dalam hujan.

Tanpa ada kawan

menemani perjalanan.

 

Langkahnya berat

terasa raga sekarat.

Bulan tak juga hadir

hidupnya betapa pandir.

 

Sesekali cuma bisa diam

mengenang silam

yang penuh kecurangan.

Sambil memandang hujan

yang turun kuyupkan badan.

 

/3/

Angin bersiut dingin

menyapa si anjing

yang terlihat penat

wajahnya memucat.

 

Dari matanya terlihat

terbaca ribuan muslihat.

Yang mengendap liat

telah menjelma tabiat.

 

/4/

Anjing yang tertatih

kini mengutuki takdir

yang dibuatnya tanpa

ditimbang dan dipikir.

 

Matanya tak lagi terang

sudah lama hilang bintang.

Hidup yang terpalsukan

keadilan sering dimainkan.

 

/5/

Sebab di sini hujan

menghunus kebenaran

maka si anjing keparat

tubuhnya pun tersayat.

 

Esoknya ramai diberitakan

dalam gigil hujan sendirian

ada anjing mati mengenaskan

sebab telah berani menduakan

yang namanya kebenaran.

 

(Denpasar, 2015)

 


Kabar Chairil Anwar

 

Apa kabar Chairil

Penyair sejati sampai

1000 tahun lagi

 

Senin pagi di sini

Ada yang ingin

Sedikit kubagi

 

Perihal ingatan

Alangkah tawar

Kurasakan, Anwar

 

Kota bagai kutukan

Memenjara segala

Yang berani hidup

 

Tak ada seling kabar

Yang kini terdengar

Mampu jadi debar

 

Semua jadi pasi

Saling tukar peri

Semua tak pasti

 

Hanya rasa hampa

Terpendam nyala

Mendesak dada

 

Dan apa kau di sana

Rasakan juga hal sama

Gelisah meriak jiwa

 

Menanti kabar senja

Yang tak kunjung tiba

Di pelabuhan kecil?

 

(Denpasar, 2015)

 

 


Semacam Rencana

 

Aku berjalan saja

Waktu telah padam

 

Segala di luar tubuh

Adalah kebisuan panjang

 

Dan langit jadi murung

Berjatuhan burung-burung

 

Ke mana langkah

Harus ditambatkan

 

Kanan dan kiriku

Penuh kubur silam

 

Sementara peta

Tak terbaca mata

 

Sebelum petang tandang

Dan penjuru tersembunyi

 

Bisakah ini raga

Betah dalam jaga

 

Menyusuri ketakpastian

Menyusun tiap langkah

 

Agar arah di depan tercapai

Rencana tergenapkan selesai

 

(Denpasar, 2015)

 

Tualang Kopi

 

Ini kopi

Bermula sebagai biji

Lahir dari sebuah pokok

Yang memelihara gigih

Dari seorang petani

 

Yang semenjak dipetik

Pada hari terbilang baik

Berpindah sekian tangan

Tak pernah terbawa lena

Selalu bersetia berjaga

Dalam ketabahan rasa

 

Ia tak sampai

Menitik air mata

Meski harus mencintai terik

Dan dipilah lalu dipilih

Demi berakhir remuk

Tergilas pun ditumbuk

Hancur berkeping

Sampai merupa serbuk

 

Yang tersimpan rapi

Dalam sebuah kemasan

Maka bernamalah ia

Sesuai kenan juragan

Pemilik galeri kopi

 

Entahlah ia kopi

Berasal dari jauh mana

Entah dari tangkai

pokok kopi yang mana

Entah ia lama semadi

Di kebun petani siapa

 

Tapi kini telah tersaji

Hangat. Menyatu nikmat

Di dalam gelas sedang

Tertakar sempurna

Bercampur susu pun gula

Di sebuah meja datar

Di depan ini lelaki

 

Kopi nan selalu

Membuat bersemangat

Begitu diseruput

Mengawali hari

Menerbitkan harapan

Dalam setiap tegukan

 

Kopi sebagaimana doa

Gelap pekatnya adalah dunia

Ampasnya jadi keinginan

Aroma kopi jadi semayam

Puisi juga Tuhan

 

Sebelum akhirnya kau

Bertemu dengan dirimu

Yang paling hakiki

Setelah lama kiranya

Ia sesat mengembara

 

Lewat bayang diri

Mengambang sepi dalam kopi

Kau bermula kembali

 

(Denpasar, 2015)

 

 


Menjadi Air

 

Kau bisa menjadi air, deras mengalir. Bila keruh yang kau pilih, tentu jernih telah tersapih.

 

(Denpasar, 2015)

 

 


Pelukan Hujan

 

Aku ingin memeluk tanpa mengenakan lengan juga tangan. Pelukan milik hujan yang menguyupkan.

 

(Denpasar, 2015)

Putu Gede Pradipta

Putu Gede Pradipta

mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Dwijendra Denpasar. Buku sehimpun puisinya bersama penyair Asqalani bertajuk Yang Terbakar Yang Tercinta (Garudhawaca, Agustus 2015).
Putu Gede Pradipta

Latest posts by Putu Gede Pradipta (see all)