Puisi-Puisi Retno Darsi Iswandari (Yogyakarta)

in Puisi by

Puisi-Puisi Retno Darsi Iswandari (Yogyakarta)

Api Drupadi

 

ketika dendam berdentum dalam hati

panggilannya menembus jagad dewa

di tengah mantra dan api suci

aku lahir untuk membakarnya

namun siapa sanggup mengubah dendam jadi abu

ia mendekam dalam darah, mengalir sepanjang hayat

 

aku tumbuh di depan wajah ayah yang berpaling

ibuku adalah api suci

ia lindungi langkah-langkahku

dengan lingkar kobaran diri

ia ajari kedua tanganku menyalakan lentera-lentera

hingga para dewa melimpahkan lima lentera ke mayapada

kuberikan nyala mataku, kuberikan nyala jiwaku

 

tubuhku berjalan di antara doa dan kutukan

jika kau coba menyentuhnya tanpa restuku

kelak kau dapati dirimu terbakar

dan abumu terbang bersama debu-debu

tapi kenapa di depan segala lentera

kau coba lucuti kemerahan dari kobaran tubuhku

kenapa kau coba padamkan kesucian dari apiku

 

kini dendam lain telah tumbuh

di luar kuasaku jagad ini kian menyala

hujan dan sungai-sungai tak sanggup menyiramnya

hanya darah para pendosa dan ksatria

kini tiap lelaki yang terkenang merah tubuhku

akan saling berhadapan

aku menyala dalam dendam dan kesucian

tubuhku berjalan di antara doa dan kutukan

 

 

2014

 

 

 

Momentum

: Jogja—Istanbul

 

malam ini bulan pecah serupa kembang api hari raya

berpasang-pasang mata menyaksikan segala yang lekas sirna

aku memanggilmu dari negeri rindu dendam

riuh oleh pesta, sirna oleh lupa

 

tahun demi tahun menempa jiwaku

hingga tiada kehilangan yang muram itu

hujan bisa turun tiba-tiba untuk lekas meninggalkan kita

tiap kali aku menepi, tiap itu pula tepian berjalan

maka biarkan saja basah tubuh ini sesekali

lalu memanggilmu dalam segala kelekasan ini

datanglah, datang pada panggilanku

menyaksikan kembang api itu

mengukiri detik-detik ini

sebelum bulan berganti baru

dan kita tak lagi saling tahu

 

 

2014

 

 

Mori Seribu Kodi

 

gamelan bartalu-talu

juga derap langkahmu

menyerahkan diri telanjang

ke pinggir sungai takdir

luput dari perhitungan

 

Pulebahas!

mori seribu kodi telah kuisyaratkan

kenapa tak kau gulung hasrat itu

kau kafani cintamu padaku

mori seribu kodi kautandu

kau persembahkan bersama hati telanjangmu

 

sebelum kau sibak

yang luput dengan tanganmu

mata keris menancap pada ulu hati itu

mengucurkan cinta dan hasratmu

aku Ciptarasa

telah ditunjuk sebagai lengan

menyeret jiwa para pecinta

ke dalam riwayat pertarungan

 

di atas tanahku

mimpi buruk melayang

jasadmu pulang dalam tandu dendam

darahmu tinggal

merembes dan tumbuh bersama pepohonan

anak cucu kita bangun

dengan sepasang mata curiga

di atas mori seribu kodimu

kelak mereka lukis riwayatnya

 

2013

 

 

 

Peniup Klarinet

 

hitam tubuhnya berbaring

menyerahkan jalan hidup pada kedua tanganmu

napas mu menarik masa lalu

sehembus riwayat tertiup dari lubang klarinetmu

 

jari-jari hitammu menekan bulatan waktu

tapi wajah-wajah dari dunia hilang itu

tak kuasa muncul ke hadapanmu

bernyanyi tentang dirinya

yang direnggut suatu masa

 

mereka menyanyikan rimbanya

fauna-fauna yang enggan bernasib sama

berlari mengepulkan debu-debu

kau tiup lubang-lubang itu

pohon-pohon Grenadilla menjerit

bersama jeritan silam bapak ibumu

 

suara-suara mengeras dan melengking

sedetik saja mereka tutup telinga

suaramu terperangkap di dalamnya

menembus sudut-sudut tergelap dalam kepala

jangan kau tiup keras-keras sudut itu

sebab tiap kenangan akan menghamburkan abu

dari ribuan wajah yang terbakar

 

sesaat klarinetmu berhenti

jiwa penuh api mengheningkan diri

abad-abad itu telah dilecut dan berlari

meski tiap lecutan meninggalkan memarnya sendiri

maka telinga-telinga itu memohon

kau akhiri komposisimu malam ini

dengan tarikan napas terdalam

hembusan melodius terpanjang

tiupan-tiupan kemerdekaan

 

 

2014

 

 

Pesta Bayang-Bayang

 

dalam dirimu sedang berlangsung sebuah pesta

yang tamunya adalah bayang-bayang dirimu

mereka bicara apa yang dirasakannya

mereka memilih apa yang diinginkannya

mereka adalah keputusan-keputusannya sendiri

 

pesta kesunyian

kau menyambut sekaligus disambut

sebuah musik yang kencang dari jantungmu sendiri

ia menarikmu untuk berdansa

dengan bayang-bayang yang begitu ringan

dari asal-usul dan tuntutan

malam hampir melepas gaun hitamnya

segala yang kau undang tengah memasang matanya

kau berdiri di antara kelap-kelip cinta dan benci

bagaimana pesta ini mesti diakhiri?

 

 

2015

 

Sajak Tukang Becak

 

hujan mencuci senja

mempercepat langkah sepasang pelancong muda

wajah mereka penuh cemas

kakinya yang kokoh melangkah lekas

masuk ke rumah kecilku

mau ke mana, tanyaku

ke stasiun, jawab mereka

kututupkan plastik kelambu

yang melindungi mereka dari hujan

sekaligus menghalangi pandangan

aku pun tak bisa melihatnya

hanya tawa mereka yang lepas

sesudah mengatakan bahwa hidup memang berat dan keras

ah, tahukah mereka seberapa berat

rumah kecil yang diisi timbunan minyak kafe ini?

tahukah mereka seberapa keras

betis yang melintas ribuan kilo aspal kota ini?

 

hujan mencuci senja dan keringat seluruh kota

sepasang pelancong muda hendak pulang ke kotanya

hendaklah mereka ingat pula

bagaimana rumah kecilku melaju

melewati jalanan yang berat dan keras itu

 

 

2015

 

 

Sebuah Kereta dari Ujung Timur ke Barat

 

sebuah kereta dari ujung timur

ke ujung barat pulau ini

berjalan belasan jam

seperti juga belasan tahun aku

selalu berjalan menujumu

 

setiap pandangku melayang ke luar jendela

dunia begitu kuat menyerap kita

mengalirkan dalam denyut pikiran

pencarian akan hal-hal hilang

yang kita yakini bagian diri kita

dengannyalah kita akan hidup

dengannyalah kita akan merangkai huruf-huruf api

membakari kecurangan di luar jendela ini

 

setiap telingaku mendengar derit pintu gerbong terbuka

kemungkinan-kemungkinan baru masuk

hal-hal yang senantiasa di luar rencana

dan aku dengar pula peluit dari tiap stasiun

ketergesaan-ketergesaan yang menghantui

bagaimana harus kita putuskan untuk mencintai waktu

memintanya lebih cepat atau sebaliknya

 

bagaimana harus kita putuskan untuk mencintai bumi

yang telah begitu jauh memisahkan kita selama ini

hingga kita lahir dalam darah dan udara yang berbeda

menjelajahi tiap jengkalnya

memberi darah dan udara yang baru

atau membiarkannya sendiri seperti dulu

 

tapi aku telah sampai di ujung barat pulau ini

belasan jam dan belasan tahun

tidak ada yang akan terus-menerus

disembunyikan dunia ini

aku menemukanmu dari dunia yang teramat jauh

kau menemukanku di dunia yang teramat jauh

kita tidak pernah tahu bahwa cinta bisa sedekat ini

 

2015

Sumber gambar: fransiscariasusanti.blogspot.com

Retno Darsi Iswandari

Retno Darsi Iswandari

lahir di Sleman, 5 Juni 1988. Menyelesaikan kuliahnya di Program Pascasarjana Ilmu Sastra, Universitas Gadjah Mada. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media massa dan antologi bersama, di antaranya Jejak Pelangi (2004), Atjeh Sebuah Kesaksian Penyair (2005), Negeri Terluka/Surat Putih 3 Perempuan Penyair Indonesia (2005), Antologi Puisi Perempuan Penyair 2005 (2006), Herbarium/Antologi Puisi Penyair 4 Kota (2007), Ibumi: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (2008), Satu Kata Istimewa (2012), Pawestren/Kumpulan Puisi Penyair Perempuan Yogya (2013), Di Pangkuan Yogya (2013), dan Antologi Puisi Kaum Gemini (2013). Kini tinggal di Yogyakarta dan bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing. Rumah maya: www.retno-iswandari.blogspot.com. E-mail: retnoiswandari@gmail.com
Retno Darsi Iswandari

Latest posts by Retno Darsi Iswandari (see all)