Puisi-puisi Reza Nufa (Jakarta)

in Puisi by

b90f2-plenilunio

Tak Usah Menyalak

 

segala kembali melambat
renyuh tenggelam
mengatup hingga tertelan

 

malam tiga titik dalam dadu
ada yang terkatung nasib matanya sendu
esok pagi dia bangun dengan tak tahu

 

bila menemukan tuhan ia kehilangan diri
kemarikan sebotol lagi dan biarkan ia berdiri
mabuk menuju mati

 

remah beling bekas berkaca itu dipecah bibirmu
wajahmu tiada dua
duhai manisku yang di langit
cukup sekali kuhitung luka di air mata itu

 

musik sudah padam
yang masih bergoyang biar bergoyang
dimainkan angin. tak usah ditanya
kesenangan tak usah ditanya

 

usai pesta kembali senyap
kembali lambat dan terkutuk
tiap orang menyimpan kesepiannya
nujum berdenyar petir silakan menyambar
dada kadung kerontang

 

sebentar lagi sebentar
aku hilang, hilang, ilalang oh bergoyang
oh angin. oh pagi. sebentar lagi
aku mau terkapar
tak usah menyalak


Saya Sudah Membaca

 

Oy, Adonai
Saya sudah membaca
Jadikan saya sempurna sehingga saya tidak butuh dipuji
dan saya menemani kau dalam keheningan
Seperti biji mahoni jatuh menari-nari
selalu begitu dengan atau tanpa penonton,
selalu begitu meski dikata pahit

 

Saya curiga kau memahat hati dari lumpur
Dalam rupanya yang buruk ia mudah digombali,
belum apa-apa sudah meleleh
baru diberi mandat sudah merasa raja
Dan naifnya, ketika kauberi ia kitab suci
ia justru merasa suci


Pasar Malam Datang Lagi

 

Pasar malam datang lagi ke kota saya,
dengan bianglala yang catnya pernah kita rusak
demi menulis nama: kau dan aku,
dan simbol hati

 

Pernah saya cium bibir itu hingga kau pejam
Di sepotong malam
Tak pernah padam memelihara rasa kehilangan

 

Saya ditemu-pisahkan dengan kau
barangkali untuk melahirkan tulisan ini,
yang kelak menenangkan hati banyak orang

 

Memang takdir saya dan kau
untuk menjadi martir, menjadi khidir,
menjadi kepingan timah
kalau-kalau timbangan tak adil

 

Toh rindu saya tak pernah tentang penaklukan
atau kepemilikan
Kau mengenang, saya mengenang,
dalam detak yang sama,
kita abadi

 


Mati Sebagai Orang Biasa

 

Meliuk-liuk
Melengkung
Menukik
Menetes ke langit
Tik… tik… tik…
Hamba. Siapa?

 

Menjadi buih di punggung samudera
Menjadi ombak napasnya angin
Hujan-hujan yang dingin
Tumpah ruah dari pipimu merah membara

 

Tuanmu tukang pukul
Ladang sawah tanpa cangkul
Tanpa gandum padi di bakul-bakul
Masih lagi mau kau pikul?
Malang betul
Orang-orang tumpul

 

Agamamu mengajarkan sabar
Budaya bilang raja tak boleh ditampar
Sungguh mulia engkau
Lalu anak dua belasmu disuapi dedak becek
Bekas bebek

 

Engkau cikalnya bangsa-bangsa
Watakmu memang untuk diperah
Mengalah
Pasrah
Dan jiwamu hanya murka kala
Tuhan tak di rumah

 

Takdir
Biar saja

 

Pagi masih gelap saat matamu kunang-kunang
Memandang surga
Mencelik siang menunda
Bunga lembah gugur melayang
Kau pun mati ditusuknya

 

Tidaklah percuma hidupmu menderita
Air yang turun dari mata laksana perahan jiwa
Agama
Budaya
Larung bersamanya

 

Kau tak lagi butuh identitas untuk eksistensi
Nisanmu semata kaki
Tak berharga
Tanpa nama
Tak ada lagi beban derita
Mati sebagai orang biasa
memang luar biasa


Makhluk Kasar

 

Makhluk kasar
Pemahaman kasar
Meraba-raba tuhan
Nemu koral
Disembah

 

Perut lapar
Bibir gatal
Nemu setan
Marah-marah

 

Oh, siapa salah
Siapa murah
Doyan mencekik
Kulit merah
Mata sebelah
Iblis akhir zaman

 


Bayangan Gelap di Dinding Goa

 

Cintaku. Sayang. Coba kemari
Aku butuh bersandar di ketiadaanmu
Jangan jauh. Jangan jauh. Habibah
Kerling matamu tertinggal di muka sujudku

 

Kulalui setapak malam dengan sabda
yang berangsur padam. Kelam. Rubi
Rindu tanpa haluan
Menafsir nada sebagai bilangan

 

Mereka sangka namamu kusakralkan
Tidak. Seroja. Kau memukau
Kau angin yang tersenyum
Kau bunga yang bernyanyi
Kau tuhan yang berkulit

 

Aku terlahir untuk mengeluh, dan kau, sayang,
duduk merapalnya sebagai doa
kepada bayangan gelap di dinding goa

 

Tapi di mana kekosongan ini bertepi. Sasmaya
Kekasihku
Pagi sudah berkarat sebelum diutus
Aku rindu pada nasihat di basah bibirmu

 


Gadis Kecil Jangan Mendua

 

O, Allah, O, Allah, O, Allah, O, senyum, yang baik, yang terbaik, O, malam, O, angin, yang hangat, yang terhangat.

 

Wajahwajah semesta tertawa, embun jatuh menggigit, api, O, api, berdebar, berdenyar, diam, dalam diam.

 

Kau yang tak di mana, kau yang tak siapa, wahai aku, kuasamu dalam darah dan daging, dan tanah, dan rimba kesendirian.

 

Yang liar punya bahasa, yang beradab saling memangsa, O, daun kelapa, neon dan beton, gadis kecil jangan mendua.

 


Dua Manusia

 

di neraka ada dua manusia yang jatuh cinta
tapi tidak satu sama lain.
di surga ada dua manusia yang saling memeluk
pada jarak langit dan bumi.


Terbuat dari Babi

 

Law,
bau keringatmu terbuat dari apa?
Orang bilang ini aroma babi
Aku sungguh suka
Kalau boleh mau kuendus lama-lama
lekuk lehermu

 

Biarlah aku keluar dari pesing agama
untuk cinta, cintaku padamu
dan mungkin untuk berahi
toh keduanya sama saja

 

Ketika ujung pena
tercelup ke liang tinta,
sebagai manusia kita berjanji,
menjadi satu
tanpa perlu saksi

 

Yang masih kanak-kanak
takkan mengerti
Tapi kau dan aku, dan siapa saja
yang sudah paham hakikat nikmat
tiada terpikir untuk khianat

 

Sumber gambar: energiamaya.org

Reza Nufa

Reza Nufa

Pemuda kelahiran tahun 89 yang kini berbobot 63 kilogram dan masih membenci buncis. Bagian dari komunitas Kampus Fiksi, editor di penerbit Basabasi, dan senang jalan-jalan terutama yang menjauhi keramaian. Silakan disapa diam-diam di rezanufa@gmail.com atau Twitter @rezanufa.
Reza Nufa

Latest posts by Reza Nufa (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com