Puisi-Puisi Royyan Julian; Aroma Tubuhmu

in Puisi by
pinterest.com

Jalan Buntu

 

Aku ingin mengetuk pintu rumah teman-temanku

yang bermukim di pinggiran kota

dan berharap seluruh hari adalah Sabtu.

Meninggalkan kamarku sendiri

yang kerap menerorku dengan suara tangisan

seorang lelaki yang bergaung di dalam kepalaku.

 

Kadang-kadang ia melafalkan

kata-kata seorang filsuf,

“Manusia mati dan tidak bahagia.”

Lalu aku sibuk mencari antidepresan

di kotak obat, laci, atau lemari es.

Tetapi aku tak pernah menemukannya.

Aku hanya bisa menghalau ancaman

dengan menghitung domba

dan berharap fajar segera tiba.

 

Di atas loteng, televisi menyala

tanpa seorang pun menontonnya.

Aku terbaring di lapisan terpisah;

dunia yang terlalu jauh, ingin kujangkau,

namun tak sanggup kurenangi.

 

“Kemarilah, kemarilah,” kata temanku

sambil menawarkan aroma ranjangnya

yang asing, yang kerap membuat insomniaku

kambuh.

“Kemarilah, kemarilah,” kata Tuhan

yang sudah lama pudar di atas sajadahku

yang berdebu.

 

Di kamar mandi, aku menanggalkan

jasadku yang usang dan menyembunyikan

isak tangis dengan ricik dan guyuran.

Tetapi luka itu tak pernah hilang.

 

Suatu kali aku bermimpi

meninggalkan rumah ibuku

dan bermukim di sebuah dusun

di mana kesedihan tak pernah datang.

 

Pamekasan, 2017

 

 

 

Mencari Masa Silam

 

Aku tergagap mengulang

ayat-ayat yang dicawiskan oleh saudaraku;

ayat-ayat yang selalu melemparku

ke masa lalu ketika Tuhan masih

bersemayam di kedalaman ruhku.

 

Perlahan-lahan kuhapus ingatan

kepada apa pun yang berbau masa silam:

tentang kitab-kitab yang dikikir gigi rayap,

berwarna sepia, dan berakhir di mulut api;

tentang wirid-wirid yang kian lamat,

kemudian sirna;

tentang syair-syair nasihat yang dibacakan

penyiar radio dalam irama itu-itu saja;

tentang drama-drama televisi

yang mengundang rasa iba sebab sang mayat

masih saja ditolak bumi.

 

Malam menjelma lubang hitam, dalam,

yang tak pernah sungkan menelanku,

mengisap sisa-sisa kebahagiaan,

dan aku hanya berteriak di ujung lidah

yang tertahan, “Siapa pun itu, tolong aku!”

lantaran Tuhan yang Maha Pengasih sekaligus

Penyiksa telah uzur, renta, dan sakit-sakitan.

 

Di sisi ambinku yang kemarau,

aku berlutut dan mendapati

kolong ranjangku kosong.

Aku meraba-raba, tetapi tak jua

kutemukan ujung jubah-Nya yang suci.

 

Pamekasan, 2017

 

 

 

 

Malam Minggu Cepat Sekali Berlalu

 

Aku telah jatuh cinta sekaligus benci kepadamu

dan mungkin kepada semua orang di kota ini.

 

Aku menghabiskan malam dengan mata

enggan terpejam sebab di sana wajahmu

menghantuiku dengan cahaya temaram

yang menetes dari muka jendela.

 

Lalu kita menonton film horor di kamarmu

yang pengap karena kemarau tak kunjung selesai

dan sama-sama merasa takjub menyaksikan

adegan-adegan ganjil yang selalu terjadi

pada malam hari atau siang yang begitu sepi.

 

Diam-diam aku mendekapmu,

menghidu bau tubuhmu,

membelai rambutmu,

dan berharap mengecup keningmu

sambil berkata, “Semoga mimpi indah”

dengan suara lembut agar segalanya

berakhir manis.

 

Tetapi hari khatam dengan badan menggigil

dan perasaanku menjadi dingin.

Kamu tidak akan pernah mengerti betapa malam

kerap kuhidupi dengan cinta berbahaya,

lalu padam ketika ibumu memasuki kamarmu

tanpa mengetuk pintu dan menghidangkan

secangkir teh panas untukku

seolah-olah ia tahu musim apa

yang tengah menggenangi hatiku.

 

Pamekasan, 2017

 

 

 

Aroma Tubuhmu

 

Aku terperanjat dari tidur waktu duha

ketika bau tubuhmu menyelinap

dan menguasai kamarku.

Angin berhenti dan udara di ruangan itu

tidak berganti.

 

Bau tubuhmu yang aneh mengingatkanku

kepada aroma-aroma raga lain

yang telah berlalu bertahun-tahun silam

namun bersembunyi di sudut kenangan

dan menyeruak ketika aku terpapar

cuaca perjalanan, melewati bukit-bukit,

bergeming di kamar kos sempit,

ngobrol di kedai kopi yang dibuka

pada malam hari, mendekap bajumu

yang tergantung sebelum berakhir

di mesin cuci.

 

Kita berbaring di atas ranjang

yang dipenuhi buku-buku puisi

yang dibaca secara acak

hanya untuk menemukan

kalimat paling tepat

untuk mengungkapkan perasaanku.

 

Perasaan itu telah lama menjadi parasit

yang kerap mendesakku dengan pertanyaan,

“Siapakah kamu?”

Di hadapan cermin aku pun berkata

dengan gentar dan ragu,

“Siapakah aku?”

 

Lalu pertanyaan itu kehilangan tanda tanya

dan menjadi hujan yang membuatku

basah kuyup sementara semua orang

di sekelilingku berkubang

dalam temperatur musim kemarau yang panjang.

 

Kini dadaku tak lagi berdebar-debar

berhadapan dengan setiap potongan tubuhmu

yang janggal dan begitu liyan.

 

Pamekasan, 2017

 

 

 

 

Teror Kecupan

 

Aku tak pernah melupakan

caramu mengecup leherku bertubi-tubi

dengan cintamu yang gemetar,

pun pelukanmu yang amat meyakinkan.

 

Kini tubuhku memar-memar

dan penuh catatan harian.

Setiap aku menghapus

dan membakarnya, setiap itu pula

jasadmu bangkit dari abu sisa pembakaran.

Bekas cintamu yang sengit

takkan hilang dari sejarah

yang tak pernah kusadari.

 

Maka aku mencoba mencintai

semua orang di kota ini

hanya untuk melenyapkan bayanganmu

yang telah menjadi hantu.

Tetapi aku selalu gagal.

Kau kerap menerorku dengan kata-kata

yang bergema dalam kepalaku,

“Jatuh cinta hanya sekali

dan untuk selamanya.”

 

Lalu aku berhenti mengasihi siapa pun

dan menganggap cinta-cinta

yang telah kupertaruhkan

adalah afeksi yang tabu dan terlarang.

 

Pamekasan, 2017

Royyan Julian

Royyan Julian

Tinggal di Pamekasan, bergiat di Universitas Madura dan Sivitas Kotheka. Tahun ini buku puisinya, Biografi Tubuh Nabi, diterbitkan Basabasi.
Royyan Julian

Latest posts by Royyan Julian (see all)