Puisi-Puisi Sofyan RH. Zaid (Bekasi)

in Puisi by

 puisi sofyan

Metamata

ada yang lebih puitis # dari rintik lirik gerimis

yakni sepasang matamu, Alfreda # mata yang menyimpan surga
tatapannya penuh metafor # bumi jadi selebar kelor
serupa jarum bulunya # setia menjahit luka

pada dinding aku melukisnya # diamlah suara padamlah cahaya
mata yang membuatku berkata # “dunia ini alangkah sia-sia”

2015

 

Gadis Dusun, II

kenapa tiap hujan turun # ingatanku padamu pun berduyun

rintiknya seolah jumlah # rasa yang buncah

: ah aku rindu pulang # pada rumah dan ladang

pada tubuhmu menanam mimpi # pisang, jagung dan padi

semoga sepulangku nanti # musim tidak berganti

hujan tetap turun # dada kita mengalun

biarkan kilat dan petir # pada akhirnya akan berakhir

kita menari di bawah hujan # menyanyikan lagu batin kepulangan

kemudian membersihkan diri # dari luka dan sepi

 

sungguh perjumpaan kita # surga yang nyata

2015

Sapi Sepi

“jasadmu tidak bermula dari sapi # begitu juga jiwamu tidak dari sepi
kelak kau temukan asal # buanglah segala misal”

ibu berbisik padaku # pagi dekat tungku
asap mengepul mencari udara # menyisakan sawang dalam kepala
menyeruap terasi bakar # waktu semakin lapar
seperti gelas aku terdiam # menatap mata ibu tajam

malamnya aku mimpi ibu # di kakinya mengalir sungai susu
aku mandi berenang # dengan ruh telanjang

dari dadanya kunang-kunang # terbang menabur kenang
aku terbangun dari mimpi # lenguh sapi terdengar dalam sepi
lalu berlari ke halaman # wajah ibu ada di bulan

2015

 

Filosofia Al-Faatihah, II

anakku berlari di bawah hujan # di antara petir berkilatan
menari memegang kembang # sesekali membuang pandang
: ke langit luas # ke bumi batas

kaki sampai rambut # hujan mengelus lembut

ia pejamkan mata # dengan bibir menganga
“aku jatuh cinta pada hujan” # bisiknya serupa nyanyian
hujan memberinya pelangi # kembang menyeruap wangi

dari atas pohon mangga # sekawanan malaikat melihatnya

sambil mengibaskan sayap # doa-doa basah melesap

hujan reda perlahan # anakku menangis sendirian

2015

 

Sembilan Telur

mencium hangat tangan ibu # sembilan telur diberikan padaku
dikecupnya pipi kanan # yang kiri ditampar perlahan
: berangkat bulat # pulang bulat

tiap aku pamit pergi # halaman rumah begitu sepi

ibu berdiri depan pintu # tenang tanpa rupa ragu
seperti puncak gunung # melepas anak burung

di jalan aku melahapnya # butir demi butir hingga tiba
dari dalam badan # kokok ayam bersahutan
sekawanan bintang turun # meniup ubun ampun

2014

 

Secangkir Kopi

 

1/
secangkir kopi yang rutin # kau bikin setulus angin

berharap aromanya bisa # membuatku segera terjaga
selalu termangu kedinginan # aku bangun kesiangan
malam aku terlambat tidur # sepi dan puisi bertempur
aksara gugur dari udara # menjadikan mata terus terbuka
: bumi moksa # langit terjaga

 

2/
lama aku tak lihat # matahari terbit dari kawat
lebah menerbangkan nama # embun meneteskan makna
kembang mekar kata # angin semilir rahasia
butiran jagungku dipatok ayam # sebelum tunas jadi gurindam
yang tersisa di depanku # hanya secangkir kopi beku

aku meneguknya dengan mesra # hangat cintamu tetap terasa

2015

 

Bismillah

 

kita menjadi kata # berjalan menuju kota

2014

Sajak Kutukan

sajak yang dibakar # pada malam ikrar

hurufnya kembali padaku # dari segala penjuru

aku lempar ke langit # dari puncak sebuah bukit

luruh ke bumi # saban musim semi

tertulis di daun # dibaca oleh embun

dan para pembakar itu # mati tiap tanggal satu

2014

Sumber gambar: imgbuddy.com

 

 

Sofyan RH. Zaid

Sofyan RH. Zaid

lahir di Sumenep 08 Januari 1986. Karyanya terbit di sejumlah media dan buku bersama. Alumni PP. Annuqayah Lubangsa, kini sebagai mahasiswa akhir Falsafah Agama Universitas Paramadina Jakarta. Aktif bersastra dan menjadi editor di Tazkia. Buku tunggal pertamanya Pagar Kenabian (TareSI Publisher, 2015).
Sofyan RH. Zaid

Latest posts by Sofyan RH. Zaid (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com