Puisi-Puisi Sunlie Thomas Alexander (Bangka Belitung)

in Puisi by

necro

Trowulan

 

cities, like dreams, are made of desires and fears.”

—italo calvino

 

di trowulan, telah kutemui puing puing megapolit purba. yang tak mungkin dibangun lagi dari kisah-kisah tua (nampak) berserakan: batu batu gompal, relief retak, guci pecah!

juga dari asa…

tapi, sembari menjual sejarah seharga tiga ribu rupiah—bongkah demi bongkah, orang-orang dusun terus mencetak bata-bata merah seolah hendak menyusun kembali riwayat kejayaan leluhurnya;

yang pernah mengikat nusa-antara

dengan temali layar

dan menancapkan gunungan (oh, ekspansi!)

beraksara jawi di seberang lautan

 

“beginilah cara kami bertahan, beginilah kiranya

kami tak kelaparan

di negeri yang menunggu karam!”

 

di langit, aku melihat bulan pucat samar

seperti mengenang sesumbar seorang mahapatih

yang wajahnya pernah kau lihat di buku

dengan separuh sangsi

 

juga kerdip bintang-bintang yang terus mengirimkan

isyarat pudar dari masa silam:

telinga kanan meng wi, hutan maja,

dongeng-dongeng pengkhianatan

: kisah setengah ilusi

 

di trowulan, nyatanya aku seolah menziarahi

masa depan sebuah negeri

 

dan urung membayangkan

kota-kota sempurna di bumi

yang runtuh, jatuh-bangun

atau bersikeras bertahan—sarat

hikayat, seperti perumpamaan

 

karena ini pun hikayat pengkhianatan…

atau umpama yang berkali

dicampakkan

(seperti pahitnya buah maja)

 

Yogyakarta, November 2013

 

 

Di Ubud Writers & Readers Festival

 

di ubud; di dunia ketiga, yang mengekalkan aroma dupa dan bunga-bunga—aku terangsang melihat paha mulus gadis korea: ah, pesona asia jua, mama!

 

di sebuah resto, aku dikira orang jepang

di sebuah resto, aku teringat wajah mendiang kakek

yang datang dari guandong hampir seabad silam

 

“thiau ngi me kai cipai!

(silahkan dialihbahasakan jadi fucking mother)

: hei, aku lahir di bangka, tak bisa melafal z

dan terkadang lebih fasih bertutur hakka

ketimbang indonesia”

 

toko cinderamata dan gerbang-gerbang pura, pantai dan cuaca cerah, tabuhan musik dan penari cantik

: adakah bagiku juga selembar firdaus

yang tersisa di brosur wisata?

 

dalam sebuah forum diskusi yang aneh, aku merasa tak punya kenangan dan perkara dengan anda, hei tuan-nyonya pirang yang mencintai matahari sebulat telur mata sapi—sebab cinaku (sungguh) bukanlah urusan dunia pertama!

 

Bali, 2012


 

Pembunuh Tak Berwajah

: orhan pamuk

 

bertahun-tahun ia yakin seekor kuda yang digambarkan dengan cepat berdasarkan ingatan, sesungguhnya dibuat dengan bakat, keras upaya, cinta yang bengal dan keluasan wawasan. ah, demikian kiranya—sebagaimana terpatri di hati setiap generasi pengerdil (bukan pelukis) sejak penaklukan timurleng yang perkasa—kuda yang mendekati kuda dalam pandangan allah!

 

maka, sebagai pembunuh yang dilaknat surah al isra ayat 33, ia pun meninggalkan jejaknya yang beranyir darah di cuping hidung terpotong dua ekor kuda: seekor kau tahu telah lecek tatkala diangkat dari pengapnya dasar sumur, seekor lagi berdiri dengan anggunnya di halaman kitab yang sedang dikerjakan untuk sang sultan mulia.

 

hingga seketika menjelmalah kami jadi anjing pelacak yang penuh gairah mendengus halaman demi halaman kisah dengan semacam kesedihan yang dibangkitkan oleh segumpal salju kecil yang jatuh, dengan kebeningan yang hanya dimiliki seorang murid tampan di bengkel kerja iluminator, dengan kebutaan yang menjadi karunia seorang empu ternama dari herat dan tabriz.

 

sebab bukankah seorang pengerdil konon tak pernah menggambar apa yang dilihatnya selain yang dilihat sendiri oleh allah? atau kami seyogianya harus percaya bahwa seorang pembunuh terkutuk memang selayaknya tak berwajah serupa ilustrasi husrev saat pertama kalinya dilihat shirin di pinggiran kota.

 

ah, ini perkara dengan kerumitan desain dan hiasan ala timur, kafirkah mereka tergoda pada kemahiran perupa kaum frank hingga tak najis menatap segalanya dari mata seekor anjing buduk di tepi taman?

 

sebab sebagai seorang pecinta dongeng detektif yang setia, kami teramat tekun melacak karya-karya para empu lama, kitab-kitab tua dengan detail ilustrasi yang berabad tersimpan sebagaimana rahasia di ruang penyimpanan harta istana—sampai hakkul yaqinlah kami, ketika seluruh sejarah terungkap, bangsa kuda bakal membalaskan dendamnya!

 

oh, gambar-gambar yang tahu (diri) kalau mereka hanyalah gambar, oh kuda-kuda khayalan terkuat dari kemahiran seniman, oh pengulangan-pengulangan memukau yang diwarisi ketinggian khasanah, berdosakah kami jika tak memandang dunia ini dari menara masjid di mana waktu bakal membeku bersama tinta?

 

sesekali kami mungkin menyaru jadi anjing yang ia torehkan dengan kedua tangan berlumuran darah di atas perkamen murah, lantas mencerca para pengikut nusret hoja sebelum malam penghancuran kedai kopi itu tiba. sesekali pula kami barangkali ikut tergoda melirik ibumu yang jelita di ambang jendela dan terpukau laksana melihat kuda coklat keemasan feridun syah melintasi sungai tigris (birahi karenanya).

 

tetapi kami teramat sabar, teramat tabah mencari tandatangan yang tersembunyi. walau semua tokoh seolah berebutan bersaksi, bahkan mayat di dasar sumur kau bangkitkan demi menyesatkan kami. walau sekeping uang emas dan sebatang pohon, juga kematian sendiri ikut nimbrung dalam perkara ini!

 

karena itulah, sebetulnya kami menghormati ia, si pembunuh yang bimbang hati: yang gentar memberi nyawa tapi lancang mencabut nyawa; yang takut memiliki gaya tapi penasaran pada potret diri. demi allah! demi halaman-halaman kisah yang diam-diam bikin kami jengah.

 

Yogyakarta, 2011


 

Di Goa Maria Belinyu

 

(1)

via dolorosa:

bukit karet

awetkan kisah hantu-hantu

di mata kanak-kanakku

yang degil dan penakut

 

kunujum akar dan ranting

jadi palangmu

(terpancang senja senyap)

o siapa yang tersalib di rerimbunan ini:

tuhan atau masa lalu?

 

diberkatilah ketakutanku yang kudus

dalam remang lilin-lilin putihmu

yang terus menciut

 

sementara, kenangan berkelok

di kaki bukit ini, bening

seperti waktu, serupa

perih lambungku

 

(2)

setiap bulan mei, hantu-hantu

bangkit seperti untaian doa rosario,

menjamah dosa anak-anak

yang manis di hatiku:

hutan karet penuh rahasia,

nama-nama yang menyimpan

kutuk permandian

 

maka kembalilah

aku menyeru ibu

di depan replika pieta

sembari merayakan

kedegilan didimus yang berdiam

dalam namaku; meski berulang sudah

jari ini kucucukkan

ke lubang lambungmu!

 

Belinyu, 2012


 

Bakauheni, 2

 

kembali aku mencari

masa remaja yang hilang:

lengking kapal dan truk-truk sarat muatan

dengan resah penumpang mengendap

bagai cinta tak tersampaikan

 

santa maria, di sini tak ada tuhan

yang menggulingkan kubur batu

pada hari ketiga

selain penjaja buku tuntunan iman

“tiga sepuluh ribu, tiga sepuluh ribu!”

 

dan nasib tetap seperti teka-teki silang

di antara kantuk dan iseng, haus dan kangen

 

“bapa kami yang ada di surga,”

kudengar seseorang bergumam

di masa silam:

“jadilah kehendakmu di atas

penyeberangan ini

seperti di dalam surga”

 

kembali aku merasa kehilangan

 

Yogyakarta-Palembang, Juni 2012


 

Di Baturaden

 

(1)

seseorang terpukau pada binar matamu

 

meski di baturaden,

waktu telah lama membatu

serupa patung-patung cinta

yang dikuduskan di tepi air jatuh

 

di sini tak ada dali—katamu—

yang meniscayakan arloji meleleh

di hatiku dan hatimu

 

tapi aku membayangkannya:

matahari menyusut, bulan menyisih

dan kita mengulang penanggalan sejak mula

 

agar kelak (mungkin) seseorang akan

mengulang kisah tentang seorang

dara istimewa dan lelaki

yang berkelahi dengan sang kala

 

(2)

masihkah kita percaya

pada dongeng-dongeng romantis

yang berakhir bahagia?

 

jika cintaku serupa kutuk

dengan wajah lelaki sepenuhnya arca

 

mitos batu,

kisah tragis

kekal sepanjang usia

 

daun-daun terus gugur juga

di atas kolam air mata;

 

kudus dan rahasia

 

: seolah waktu kembali lajang saja

 

Purwokerto-Yogyakarta, 2010-2012

Sunlie Thomas Alexander

Sunlie Thomas Alexander

lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Ia menulis cerpen, puisi, esai, kritik sastra, ulasan seni rupa, dan catatan sepakbola di berbagai media yang terbit di Indonesia, serta sesekali mengerjakan terjemahan. Buku puisinya yang berjudul Sisik Ular Tangga diterbitkan secara terbatas oleh Halaman Indonesia (2014). Buku cerpennya yang telah terbit adalah Malam Buta Yin (Gama Media, 2009) dan Istri Muda Dewa Dapur (Ladang Pustaka & Terusan Tua, 2012). Sementara itu, novel karya Mo Yan, The Garlic Ballads (Balada Bawang Putih) yang diterjemahkannya akan segera diterbitkan oleh Penerbit Serambi.
Sunlie Thomas Alexander

Latest posts by Sunlie Thomas Alexander (see all)

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co