Puisi-Puisi Tia Setiadi (Yogyakarta)

in Puisi by

604036_1396694097239003_1097527298_n

BENIH

(Di Hadapan Lukisan-Lukisan KH. M.Fuad Riyadi)

/1/

Untuk  naik

                  Kau harus turun

 

Sebab inti langit bukan di langit

Inti bukit bukan di bukit

 

Birunya biru

Hijaunya hijau

 

Inti dari inti

Ada dalam benih

 

                              Maka untuk naik

                                                   Kau harus turun

 

/2/

 

Tapi tidak:

Kau lalu lalang atas punggung bumi

 

Menjadi tua dan bungkuk

Tanpa pernah turun melainkan jatuh

Kau injak-injak benih

Pontang-panting mencari-cari diri

 

Ke selatan ke utara ke timur ke barat

Padahal dalam benih berawal dan berakhir segala arah

 

                                                    Maka untuk naik

                                                                    Kau harus turun

 

 

/3/

 

Dalam benih kau akan menemu:

Inti dirimu bukanlah dirimu

 

Kau adalah arus awan

Yang diciptakan dari mimpi orang lain

 

Kau adalah air yang memercik

Saat si nelayan memukulkan dayungnya di ceruk pagi

 

Tapi kau juga api, angin, pelangi

Dan pepasir:

 

Kau adalah semua itu dan bukan siapa pun

 

 

/4/

 

Dalam benih telingamu menjadi kuil

Yang menampung segala suara

 

Sepasang matamu tasik

Yang membeningkan debu-debu kenangan

 

Ribuan kehidupan datang dan pergi

Pada bentangan kanvas Asmara Khondi

 

Kau berputar dan menggasing

Bak selembar daun penuh cahaya matahari

 

Berputar dan menggasing

Mengikuti pusaran thawaf dzikir putih.

 

 LIAN SAHAR

 

 

Seraut warna gemetar

di jurang kesunyian

menanti saat penciptaan

 

seperti tatapan mata

yang terpesona

pada yang tak dikenal.

 

Lalu dengan jemari

yang hampir-hampir beku

kau lukis wajahmu

 

sedang bermuka-muka

dengan kefanaanmu

sendiri.

 

Sementara malam—

seakan-akan permukaan cat air—

memantulkanmu

 

dari kejauhan.

 

2011

 

 

SEBUAH PELUKAN

 

 

*

Sebuah pelukan

Seperti jembatan yang gemetar

Antara sejarah dan kenangan.

 

Antara getar api di dalam

Dan gaung kebisuan

 

*

Sebuah pelukan

Menulis segala yang tak dicatat matahari,

 

Sebuah pelukan

Adalah semburan darah kata-kata

Terkaca seluruh arah dan cinta manusia

 

 

*

Sebuah pelukan

Mengubah kata menjadi tubuh,

 

Tubuh menjadi alam

Dan alam menjadi bayang-bayang.

 

*

Sebuah pelukan

Menghimpun cakrawala dan laut

 

Dan waktu lenyap meniti buih-buihnya.

 

*

Sebuah pelukan

Seperti hujan di telapak tangan

Menghapus seluruh bentang jalan

 

Ia juga akar

Puisi dan api

Debu yang merindukan debu

Keheningan gunung

Dan kepastian bintang-bintang

 

Atau mungkin awan, awan yang lewat…

 

Tapi ah, bukan:

 

Sebuah pelukan

Adalah inti air mata.

 

 HUSREV DAN SHIRIN

 

Pagi hari di sebuah taman

Shirin menyingkapkan

cadarnya

di hadapan tiga kuntum mawar

yang memerah

dan mekar

seketika.

 

 

Matahari sembunyi di kerajaan

rambutnya

dan serumpun lili air

sibuk menampung mimpi-

mimpinya

yang berjatuhan

dari geraian awan-

awan

 

 

Shirin menyangka aman

menunjukkan parasnya

di hadapan tiga kuntum mawar

tanpa tahu

kecantikannya telah meloloskan diri

menembus setiap pintu

memantul pada ribuan cermin

dan terlukis

 

pada sebait sajak Husrev

tentang kecantikan

seorang

gadis.

 

 

Husrev belum pernah

memandang

kecantikan yang begitu agung

sebagaimana terjelma

dalam sebait sajaknya

maka kala itu juga

ia jatuh cinta

pada gadis

ciptaannya

sendiri.

 

 

Ia biarkan tangan-tangan mungil gadis itu

meneruskan merangkai baris-baris

sajaknya

ia biarkan tangan-tangan mungil gadis itu

menyusun batuan, kolam,

jalan,

dan mengatur jumlah dedaunan

pada bebatang

palma

 

 

Saat Husrev membuka tirai jendela

segala yang dilihatnya

tampak berbeda:

gumpalan awan, pohonan,

perbukitan

bagaikan ditata ulang

oleh sepasang tangan

yang terampil

dengan sangat

perlahan

dan hati-

hati

 

 

Saat itulah Shirin lewat

di jalanan

dan kebetulan sepasang matanya

berpapasan

dengan sepasang mata

Husrev

 

 

Husrev tak bisa membedakan

antara pandangan seorang gadis

dalam sajaknya

dengan pandangan Shirin

Shirin tak bisa membedakan

antara pandangan Husrev

dengan pandangan

tiga kuntum

mawar

hanya beberapa jenak beradu pandang

namun keduanya paham

takdir telah membuhulnya

dalam legenda

dan masmur-

masmur

baka

para

pencinta.

 

 

SAJAK UNTUK SAJAK

 

 

Karena Arjuna bisa memanah dalam gelap

maka penyair tua itu pun mencoba menulis sajak dalam gelap

 

Ratusan jagat raya dan galaksi datang dan pergi dalam rasi angannya.

namun ia kesulitan menuliskannya, sebab kegelapan memiliki bahasanya sendiri

 

Tangannya gemetar menyusun huruf-huruf untuk mengisahkan pengalamannya yang kaya

Namun huruf-huruf itu menampiknya, dan bersikeras mengisahkan dirinya sendiri, sekehendaknya.

 

Maka penyair tua itu menyerah: ia biarkan suara-suara lain bicara

Suara yang merupakan miliknya sekaligus bukan miliknya, suara yang didengarnya

sekaligus tak didengarnya.

 

Saat sajak itu selesai menuliskan dirinya, hasilnya sama sekali tak sesuai harapan si penyair tua:

Sajak itu bukan sajak tentang dirinya, tapi sajak tentang sajak, bukan sajak untuk dirinya, tapi sajak untuk sajak.

 

Rahasia dan makna kata-katanya tak bisa tersingkap dalam ruang dan waktu manusia

melainkan hanya membukakan diri dalam ruang dan waktu kata-kata itu sendiri

 

Huruf-hurufnya seperti ratusan lembar cermin yang saling berhadapan dan berpantulan:

lambang menafsirkan lambang, umpama berkaca pada umpama.

 

 

Bila sajak itu ditempatkan di  taman, maka sejenak kemudian taman itu akan berubah:

sajak itu akan menyusun ulang komposisi pohonnya, memangkas rumput-rumput liarnya,

menjernihkan air mancurnya.

Bila sajak itu ditempatkan di langit, maka sejenak kemudian langit pun akan berubah:

Sajak itu akan menggubah warna dan bentuk-bentuk mega, menata ulang bintang-bintang, menyulih arah peredaran planet-planet

 

Di tempatkan di mana pun, sajak itu selalu mengubah segalanya menjadi ciptaan baru

Maka gunung, laut, dan langit menjadi gunung, laut dan langit yang lain

Hijau menjadi hijau yang lain, biru menjadi biru yang lain.

 

Tiba-tiba penyair tua itu menyadari, bahwa ia sudah sampai pada batas tepi mimpinya:

Puluhan tahun ia menulis aneka sajak untuk menyaingi Tuhan, namun baru sajak inilah

yang berhasil

 

Kini, dalam gelap, parasnya tampak bercahaya bak paras seorang bayi yang terberkati

Jasad tuanya terbaring di samping sajak terakhirnya, agung dan sendiri,

 

Seakan-akan sebuah perahu yang telah angkat sauh

dari tepian pantai di jam larut malam, untuk kemudian menghilang nun di jauhan.

 

Sumber gambar: senimanhikmah.blogspot.com

Tia Setiadi

Tia Setiadi

lahir di Subang, 7 November 1980. Menulis sajak dan esai-esai bertema budaya, sastra dan filsafat pada pelbagai media di antaranya; Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Jurnas, Suara Merdeka, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Horison, Mata Baca, Jurnal Cipta, Jurnal Diskursus, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Puisi Rumah Lebah, Ruang Puisi, Jurnal Sastra Digital, Jurnal Sajak, Jurnal Poetika, Jurnal Kritik. Ia juga telah memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya; pemenang dalam lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta (2007), Pemenang terbaik dalam lomba esai Majalah Horison (2008), Pemenang kedua lomba kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta (2009), Pemenang terbaik dalam lomba kritik seni yang diselenggarakan Dirjen Kesenian RI (2011), Pemenang Utama Sayembara Esai Pena Kencana Awards (2012), Pemenang Hadiah Sastra MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2013, untuk kumpulan puisi Tangan Yang Lain. Buku ini terpilih juga untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diikutkan dalam Frankfurt Book Fair 2015. Kini tinggal di Yogyakarta. Email: tiasetiadi@yahoo.com
Tia Setiadi

Latest posts by Tia Setiadi (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com