Puisi-Puisi Toni Lesmana; Batu Pangeunteungan

in Puisi by

Situs Kesedihan

 

Kubekal sedap malam kesukaanmu

Juga melati dan beberapa larik puisi

Kesedihan. Di gerbang kunyalakan

Tiga patah kata yang kini dupa

 

Selubung cungkup seperti kuncup

Mekar. Kelopak yang terbuka

Kursi sunyi, jejak kaki angin

Dan aksara-aksara dipeluk embun

 

Di pusar pusara, selalu kubayangkan

Menyerahkan diri ke rahim

Penciptaan, lalu tubuhku

Pecah bertebaran menjadi mantra

 

Memburu pintu batu-batu

Di mana kau, selalu, menunggu

Sambil memeluk gemuruh

Kemurungan waktu

 

Di tanah merah, rambutmu

Tergerai menjelma akar di tanah

Seperti seribu jalan setapak

Yang melilit dan menarikku

 

Kuhadiahkan sedap malam kesukaanmu

Juga melati dan beberapa larik puisi

Kesedihan. Kutemui kau kutemui aku

Kucium kau kucium aku

 

Dari batu ke batu

Yang dingin

Dari ada ke ada

Yang tiada

 

2018

 

 

 

Batu Anggana

 

 

O, seseorang menyepi

Kesedihan ditimang kesendirian

Ibu tinggal abu

Ayah genang kenang

 

O, seseorang menepi

Luka dan duka ditempa tapa

Melupa rupa dunia

Berjumpa rupa dia

 

O, seseorang, seseorang

Berlayar di atas batu, di atas perahu

Ratusan tahun, ratusan tahun

Sendiri mencari akhir semadi

 

2018

 

 

Batu Pangeunteungan

 

 

Di batu ini kutangkap nyala wajahmu

Betapa gerhana membuatmu

Lebih bercahaya dari kata-kata

Yang mengabarkan perjalanan

Purnama di batu-batu yang lain

 

Di batu ini kupeluk tubuhmu

Yang bersandar dari abad ke abad

Tengadah ke arah langit

Memandang dirimu sendiri

Memandang dirimu sendiri

 

Di batu ini kukecup kucup cermin

Kesedihan:  Bibirmu yang basah

Airmatamu

Airmataku

 

2018

 

 

Serat Bunisora

 

Suaraku selalu saja mesti sembunyi

Rapat disayat kelebat isyarat khianat

Kutempa suaraku menjadi patrem

Yang menempuh jauh ke timur sebagai tangis

 

Abadi. Suaraku memang selalu mesti sembunyi

Setia merawat pewaris luka yang kencana

Kutempa lagi suaraku menjadi makuta

Yang berjalan ke barat sebagai cahaya

 

Kekal. Seperti jirim angin, suaraku masih saja sembunyi

Dalam timbun abad-abad. Di sini, di tanah kawali,

Sesekali berbisik, menempa siapa saja

Yang datang menyapa dengan tapa

 

2018

 

 

Menuju Sinar Resmi

 

 

Gerimis memandikan bukit

Padi sepanjang jalan seperti dinding

Biji-biji matahari senja, menggeliat

Mengirim warna kasmaran tubuh

Yang samar dalam kabut

 

Wangi bumi selalu berhasil

Membangkitkan berahi langit

Sepasang lengkung pelangi

Layaknya gerbang pertemuan

Persetubuhan yang merdu

 

Burung-burung menyembur

Jari-jari turun  gemetar menarik

Gaun kabut lebih tinggi, lebih basah

Huma-huma tersingkap

Cahaya menciumi tanah

Lembut mendaki ke puncak

 

Bukit. Sama-sama kuyup

Saling meneguk rindu

Awan merona jingga

Sebuah erangan panjang

Entah di bawah entah di atas

Seperti selarik puisi yang abadi

Keindahan yang mengekalkan gairah

Senja, dan, malam tertahan

Entah di mana.

 

2018

Toni Lesmana

Toni Lesmana

lahir di Sumedang. Menulis puisi dan prosa. Karyanya pernah dimuat di Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, serta media lainnya. Buku sudah terbit Kumpulan cerpen “Kepala-kepala di Pekarangan” (Gambang, 2015), kumpulan puisi “Tamasya Cikaracak” (Basabasi, 2016). Menetap di Ciamis, Jawa Barat.
Toni Lesmana