Puisi-Puisi Umi Kulsum; RUMAH TAK BERPAGAR

in Puisi by
artmajeur.com

SILSILAH KERAMAT

1.
Dialah rahasia itu
biji yang jatuh dari pohon tua
menancap jadi akar
di rimbun hutan metafora
bau ketuban lama yang keharumannya
menggetarkan udara di pelosokpelosok desa

Kendil itu masih kekal tersimpan
di samping pintu
ia adalah awal waktu
yang tak harus kucari dan kutemu

2.
Dialah tangis pertama
yang mengucur dari pelupuk mata
menggenangi jagat kandungan
dari zaman ke zaman

Selempang tali pusar
tak ubahnya perahu bersayap layar
yang keluar
mengarungi samudera sabar

Tubuh bayi telanjang
terpampang diam
diayun gelombang abad yang berjalan

3.
Namanya tak ada pada kitab
dan pada kitab ia hanya
bagian dari hurufhuruf semata
bermainmain dengan matahari
berlayaran di ambang pagi

:
Adam
yang abadi
menyimpan pertanyaan ini

Bantul, 2017

RUMAH TAK BERPAGAR

Di halaman rumah ini
kuimpikan engkau
yang tak pernah segan bercocok tanam
masjid, kuil, vihara, pura dan gereja
membangun jalan bagi yang maha sempurna

Ujung jarimu menyusup stupa
diiring salawat dari kubah masjid
ada semilir wangi aroma pura
serta konser lonceng di klenteng dan gereja

Angin berkesiur menebarkan warna warni doa
membelah angkasa dalam bias cahaya
dari sudut yang berbeda-beda
menuju arah yang sama

Lalu, dari pagi ke malam
kita melihat bolabola dunia
banyak warna mengapung di udara
ditiup mulut yang menyanyikan surga

Aku, kau, ia dan mereka
menyatu dengan rumput di taman
tengadah ke langit
yang senantiasa menebar cahaya

Bantul, Yogyakarta. 2017

LUKISAN YANG SAMA

Aku melukismu dengan tanah dari segala pulau
di kanvas alun-alun kota
di gang-gang kampung
dan jalan-jalan raya kota Yogyakarta

Rumah-rumah terbuka bagi siapa saja
warna kulit garis mata dan asal bahasa
di sini tak lagi ada beda

Matahari yang satu
bersinar di atas segala kepala
udara yang berembus menembus jendela
dihirup bersama dengan hidung yang berbeda

Yang semula sagu
di sini bertemu dengan beras juga
yang semula kopra di sini bertemu dengan santan juga
menikmati malam yang sama
duduk di taman pinggir kota

Aku bertemu mereka
melukisi bajunya
dengan warna yang tak sama
tentang peta yang tak beda

: Aku pun ada di dalamnya!

Bantul, Yogyakarta. 2017

DI PINTU GUA SELOK

Tubuh itu menggelantung di pintu gua selok
matanya mirip sebuah kamera
yang merekam wajahmu
wajah yang diasapi dupa dan remukan bunga
amsal segala ritual

Jangan bicara kematian! Jangan hilangkan pikiran
agar jiwa tak sekosong gua
dan dijadikan tempat bersarangnya
aku punya tuhan
kau juga
kita semua punya

Biarkan bergelantungan saja di sana
hati kita bukan pohonan
yang bercabangcabang seperti lidahnya

Cilacap, 2017

Umi Kulsum

Pegiat sastra di Bantul. Tulisannya dimuat di beberapa media massa. Tahun 2016 buku kumpulanpuisinya“Lukisan Anonim” dan tahun 2017 buku kumpulan puisinya “Akar Ketuban”mendapatkan Anugerah Hari Puisi Indonesia sebagai Buku Puisi Pilihan, oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia.Di tahun 2017 buku kumpulan puisinya “Lukisan Anonim” mendapat penghargaan dalam kategori Sastra Serius oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Aktif bergiat di Sastra Bulan Purnama, Tembi Rumah Budaya Yogyakarta.

Latest posts by Umi Kulsum (see all)