Puisi-puisi Wa Ode Wulan Ratna ( Jakarta): Jumat Putih

in Puisi by

jumat putih

Rumah Mati

 

Dan akupun pulang menujumu

Rumah mati

Rumah tempat kata-kata menjadi sunyi

Dan abadi

 


Jumat Putih

 

Selamat pagi

Jumat putih

Aku tersesat dalam hutan sunyi

Bersama kaki kecil yang telanjang,

berlari-lari

Menangkap puisi yang tak beralas kaki

 

Jumat putih turun dari gereja, masuk ke masjid, hinggap ke pura

Bersemayam dalam dada tuhan dan manusia

Terbang di atas kepala dalam kristal matari

Disapu gerimis menjadi bola-bola pelangi

 

Selamat hari

Jumat suci

Aku bertapa dalam sukma sepi

Mari kita telanjang, sayang

berlari-lari kecil tanpa alas kaki

Seperti puisi


Sribajala dan Wabula

 

Ketika lakambaebunga mulai membaca peta yang dulu pernah kujelajah

Tibalah aku di kuilmu

Asal muasal gigi putihmu yang kemilau

Tempat mimpiku runtuh

Tempat kembali pulang ke kampung halaman

Gigimu adalah mercusuar

Silau yang memanggil-manggil seperti daun kelapa

Diriku yang tersesat di samudera jiwa

Terseret ombak dan tiba di permukaan hatimu yang putih

Belahan kelapa di tanganmu adalah pasangan belahan lain

yang kita pertemukan

Tahulah kita, cinta kita memudar

Sebab ibu telah menjadi sejarah, legenda,

dan dongeng negri tercinta

 

Adik bungsu yang seputih susu

Ibu kita telah menjadi buku

Bagi tetua bagi silsilah dan raja-raja

Bagi jelata

Yang terbaca di setiap usia

Lalu ke mana cinta kita akan kubawa

Terselip di saku dungkung cangia

Punggawa setia  yang menancapkan bendera aneka warna

Pada tubuh lakaembaebunga

Yang terlunta-lunta beratus-ratus kali berganti rupa

menaklukan samudera

 

Di koncu, benteng tertua berdiri

Aku menulis syair panjang tentang dirimu

Langit tak lagi menakar cintaku padamu

Maka kubiarkan ia membahana seperti kupu-kupu

Terbang dengan sasar ke jendelamu

 

Kuhadiahi tempat ini namamu

Kupahat besar-besar pada prasasti

Dengan aksara rahasia bahasa cia-cia

Agar semua orang berbagai generasi

Mengenangmu sebagai arca yang bertumbuh

di antara jurang dan bukit

Kali-kali jernih yang berbintang

Seperti gigimu yang gemilang

 

Jika laut surut berkilo-kilometer

Mereka akan mengenang kulit putihmu

Yang senyap mutiara

Yang di atasnya

Cintaku tergenang antara ada dan tiada

Kekal selamanya

 

 

Catatan:

*Sribajala adalah kakak dari Wabula yang merantau mengelilingi dunia dengan kapal Lakambaebunga. Wabula adalah putri bungsu Wakaaka, raja Buton pertama. Kini Wabula adalah nama tempat yang indah di Buton Selatan (dari cerita masyarakat setempat). Asal kata Wabula adalah Wabula-bula yang artinya putih, sebab diyakini Wabula berkulit putih seperti orang Tiongkok/Mongol.

 


Lelaki Bermata Satu

 

Di mana gerangan kau

Penyebab rontoknya bunga-bunga di mataku?

Yang berlari memunggungiku

Setelah usai mencuri hatiku

 

Lihatlah, di mana pun kau berada

Lihatlah sebelah dadaku

Di antara dua gunung kemilau itu

Ada lubang gulita milik hatiku

Kekasih jantung sahabat empedu

Hilang kau bawa lari

 

Ke mana gerangan kau

Penyebab layunya rekah kelopak bibirku?

Yang tiada meninggalkan bayangan

Setelah hatimu menjadi batu

 

Lihatlah, di manapun kau berada

Lihatlah akibat perbuatanmu

Kau tinggalkan sidik jarimu di dadaku

Lubang sebesar kepalan tanganmu

Yang tlah mengoyak

Dan mengeluarkan hatiku

Ke mana kau bawa lari?

 

Demikianlah kau berlari

lelaki bermata satu

Yang telah kulempari batu-batu

Hatimu lekat di batu

Hatimu adalah batu

Semakin keras kau berlari

Semakin kau membatu

 

Cinta

Selamanya harus berluka

 

Demikianlah kau

Kisah lelaki bermata satu

Sepanjang hidup melihat dunia hanya satu

Yang tak mau membuka sebelah mata

Kecuali untuk batu

 

Cinta

Selamanya harus ada duka


Padang Eva

 

Kau adalah bunga-bunga yang mekar di padang eva

Senyummu laksana akar harum mawar yang merambat lembut menusuk jantungku

Membiarkanku terjerat, menghapus seluruh jelaga dan tanya tentang:

di manakah pelabuhan terakhir air mata?

Di matamu itu, matahari tumbuh dengan subur

Sehingga sulit bagiku menebak dan terjebak

Padahal kuingin sekali

 

Ohh rerumpun ilalang

Bisikkanlah rahasia embun yang basahi dirimu kala fajar

Yang mengundang galau pada kelopak kastalia dan magnolia

Dan mengusir kabut-kabut yang tenggelam dalam cahaya

 

Katakanlah, di mana gerangan kan kutuangkan rindu-rindu biduri…

Cawan-cawan telah dipenuhi susu

Sedang kuingin bibir manismu mencecap rindu ini

 

Jikalau awan datang

Jikalau mimpi terbang

Oh tuhan, izinkanlah aku tumbuh

Sebagai perdu kelabu di sampingnya

Di padang eva itu

 

Ya, di padang itu!

 


Jejak Puisi

kekasih, yang muda belia dan merdu
kekasihku, yang senantiasa lugu dan pencemburu
aku datang padamu

dengan segenap rambu rambu dan lakon dramaku
maafkanlah aku
yang ragu dan malu
mencintaimu terburu buru
dan membuatmu bingung tak tahu
tapi jangan kau pergi tinggalku tanpa jejak
sebab tanpamu aku laksana puisi dalam belantara kata-kata
selalu labil dan mudah tersesat

 

Jalan-Jalan ke Salon

di salon aku ditelanjangi
tubuhku dibolak balik seperti boneka barbie
seluruh tubuh diberi minyak yang licin dan wangi
dipijat dengan krim pemutih dan dilulur dengan green tea

di salon aku seperti manekin
aku disuruh berdiri bugil
lalu tubuhku dicat putih pakai kuas dinding
aroma masker susu sapi pun terasa gurih
tapi aku gigil dan merinding
sebab masker susu sapi setengah kering
terkena AC dan udara dingin

usai mandi
rambutku lalu di creambath
ditarik-tarik dan dipijat kuat
lalu seperti roti rambutku diberi selai
campuran royal jeli dan stroberi
manis sekali seperti permen loli

setelah membayar
tubuhku bau sapi dan rambutku harum stroberi
sekarang aku tahu
beginilah nasib perempuan masa kini

 

Sumber Gambar

https://id.pinterest.com/pin/411235009703106070/

 

 

Biodata Penyair

 

Wa Ode Wulan Ratna. Lahir di Jakarta 23 Agustus 1984. Menyelesaikan kuliah sastra di Universitas Negeri Jakarta. Menulis cerpen dan puisi sejak 2003. Buku kumpulan cerpen pertamanya pernah mendapatkan penghargaan Khatuliswa Literary Award pada tahun 2008 untuk kategori penulis muda berbakat. Saat ini menjadi pengajar untuk mata kuliah Sastra dan Creative Writing.

 

 

 

Deskripsi:

 

Jumat putih turun dari gereja, masuk ke masjid, hinggap ke pura

Bersemayam dalam dada tuhan dan manusia

Terbang di atas kepala dalam kristal matari

Disapu gerimis menjadi bola-bola pelangi

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna

lahir di Jakarta 23 Agustus 1984. Menyelesaikan kuliah sastra di Universitas Negeri Jakarta. Menulis cerpen dan puisi sejak 2003. Buku kumpulan cerpen pertamanya pernah mendapatkan penghargaan Khatuliswa Literary Award pada tahun 2008 untuk kategori penulis muda berbakat. Saat ini menjadi pengajar untuk mata kuliah Sastra dan Creative Writing.
Wa Ode Wulan Ratna

Latest posts by Wa Ode Wulan Ratna (see all)