Puisi-Puisi Yohanes W. Hayon; Aku Datang

in Puisi by

untuk puisi Hans Hayon

Aku

 

Engkau yang berjalan dalam maut,

Tunjukkanlah rohmu

Engkau yang berkibar dalam senja,

Kumandangkanlah usiamu

Engkau yang berjalan dalam kebebasan

Hadirkanlah setiamu

Engkau yang tewas dalam lepas,

Lafalkanlah mulutmu

Engkau yang terlepas dari diriku,

Siapakah aku.

 

(2014)


Aku Datang

 

Aku datang dengan baju

Engkau bilang masih

Aku datang bersama mawar

Engkau bilang perih

Aku datang saat ajal

Engkau bilang sudah dekat

Aku datang usai mati

Engkau bilang hampir

Dengan telanjang aku datang

Menemukanmu enggan membukakan

Pintu makammu

 

(Maret 2014)


Kebarek Lewo[1]

 

/1/

Seekor anjing masih berbaring

di samping tungku dengan api yang hampir padam

Sungguh tak lagi imbang

mengapa nyeri di mata kian mendekam

 

Dikibaskan sesekali ekornya

setelah ina[2] terjaga dari mimpi

Tersadar mengeja temali air ketubannya

yang berangsur kering menjelang pagi

 

“Mudah-mudahan anakku kali ini laki-laki,” bisik inak

dalam hatinya yang kalut akut

Ketika hidup mereka terbelenggu tradisi

Mematuhi norma dipikir begitu perlu agar amarah leluhur tak tersulut

 

Perempuan itu sederhana

Hidup secara sederhana dan mati pun

dengan lebih sederhana dibuang ataupun disepelehkan

Dikuliti rambutnya sepanjang usia jika bertahan hidup

 

/2/

Air yang singgah di rahim bak jentik

setelah melewati sempitnya lorong vagina akhirnya mencapai titik pada detik

Sialnya, kata ama Tokan[3] dukun bersalin,

“Janin itu perempuan”.

 

Tahulah ina, prahara telah di ambang pintu

Berharap pada ama yang kepala suku adalah mubazir

Perempuan tetaplah perempuan

Sampah tetaplah sampah. Betapa pun berharga kotoran itu bagi bakteri

 

Dikencangkannya tali pengikat now’i[4]

ama[5] kembali mendapati janin penuh murka

Bara api berdiang tidak lagi ia jumpai

Hanya seekor anjing yang setia meringkuk di sebelah kaki isterinya

 

/3/

Tuak dalam nawing[6] terasa basi

Terlanjur berdebu kayu pada likat[7]

Takdir diikat enggan erat

bak ikhlas yang pahit pada asi

 

Sepi ini nyaris lengkap

ketika nuba nara[8] makin angkara

Tak ada wewangi saji atau pun dupa berasap

padahal purnama di Ile Boleng[9] hampir sempurna

 

Di akhir bait syair miris

ina terlepas dari gigitan kewatek

anak gadisnya seupa gerimis

:putus-putus bak kotak

 

/4/

Dilarikan anak itu ke kota

pikirnya, “Di sana tak ada belenggu tradisi”

Atau pun Ama yang garang serta

menata korke[10] sepanjang petak narasi

 

Panasnya kota luput dari tatapan polos ina

Membayangkan keterjaminan hidup dan keramaian membungkus misteri

Ina belum cerdas membaca tanda-tanda

Apalagi demi Barek, puterinya yang lugu

 

Gelombang bergelora menderu

Menghalau berok[11] menuju tepian

Dan tersadarlah ina akan nasib Arakian

:betapa bergemuruh badai di dada puteranya itu

 

/5/

Di kota, Barek tergelincir di sudut-sudut jembatan

Digiring pergaulan bebas

Dipangkasi nasibnya oleh deretan makhluk asing bernama teknologi

Sadarlah ia, ikatan belenggu kota lebih hebat dari yang ia amati di desa

 

Digigit rasa rindu

Dijejali bertumpuk ilmu

Pulanglah Barek bertuju kalbu

Menemu rahim inak masih sesegar dahulu

 

Mata inak bertelaga saat mendegus aroma tubuh bidadari

Barek yang datang bak halimun

Sesekali nyata lestari

Sesudahnya tiada. Samar ranum

 

/6/

Hancurnya hati inak mengkista

bersamaan dengan datangnya warta bergegas

Barek raib di kota

walaupun sering akrab di mata headline berita

 

Pagi itu, direngkuhnya anjing ke dalam dekap

Laut yang tenang di dadanya mulai membuncah kuat

Dan hasrat ina berhasil lengkap

jika ama yang di ladang pulang telat

 

Kembali ina mengandung janin segar

yang di mata budaya lebih laknat

Terkejutlah ama jika langkahnya berat

Menatap bayi serupa anjing kian mekar

 

(2013)

[1] Kebarek lewo (dalam bahasa Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur) berarti gadis kampung. Gadis yang masih memegang tradisi kebudayaan yang ketat. Kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada keputusan dewan adat yang berlaku universal.

[2] Ina adalah panggilan untuk seorang ibu.

[3] Sebutan untuk sebuah suku yang dianggap sebagai dokter atau dukun kampung.

[4] Kain sarung yang khusus dikenakan oleh kaum lelaki bermotif gelap.

[5] Panggilan bagi untuk seorang ayah/bapak atau orang yang dituakan dalam masyarakat.

[6] Nawing merupakan sebuah wadah yang digunakan untuk menyimpan tuak. Wadah ini berbentuk lonjong dan terbuat dari potongan bambu yang tua.

[7] Likat, sebuah tungku api yang terdiri atas susunan tiga buah batu guna menopang sebuah wadah ketika memasak sesuatu.

[8] Tempat persembahan, tempat diletakkannya kurban sajian atau Mime Morok, dalam ritus adat tertentu.

[9] Gunung tertinggi di wilayah Adonara.

       [10] Rumah adat dalam budaya Lamaholot, Flores Timur, NTT.

       [11] Sampan atau perahu.

Yohanes W. Hayon

Yohanes W. Hayon

Lahir di Hokeng, 26 Juni 1990. Kini sedang menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan opini di beberapa koran lokal, seperti Pos Kupang dan Flores Pos. Ia juga pernah menulis naskah teater yang telah dipentaskan di Maumere. Sekarang, ia sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Hujan di Biara, yang akan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero.
Yohanes W. Hayon

Latest posts by Yohanes W. Hayon (see all)