Punai Merah

in Cerita Pendek by
smallandsimpletruths.com

Nenek pernah bercerita tentang orang-orang yang telah mati. Mereka hidup kembali sebagai burung, kata nenek. Burung-burung itu terbang dan membuat sarang di pepohonan yang tak jauh dari rumahnya. Mereka bernyanyi untuk membangunkan anak cucunya di pagi hari, dan menghibur mereka dengan lagu-lagu riang.

Aku sedang mengamati burung-burung yang berkejaran di halaman. Naskah Punai Merah bertumpuk di atas meja, siap dieksekusi. Tiba-tiba saja ia muncul di depanku tanpa kuketahui dari mana datangnya.

“Apa kau tahu yang terjadi padaku di masa depan?” tanyanya. Aku tak merasa mengenal perempuan itu. Ia berdiri di seberang, di bawah jendela besar. Burung-burung masih bernyanyi riang di halaman.

Naskah Punai Merah yang sedang kukerjakan adalah naskah lama yang tersimpan di rumah besar ini. Konon rumah ini dulunya adalah sebuah keraton kecil yang runtuh karena penyerangan. Beberapa bagian telah direnovasi. Seorang penjaga ditugaskan untuk membersihkan dan mengurusnya. Kadang-kadang pemilik rumah datang untuk menginap satu-dua hari. Sebagai rumah yang ditinggalkan, rumah ini rapi dan terawat. Beberapa kali rumah ini akan menjamu kedatangan tamu dari jauh sepertiku. Rumah ini lebih mirip museum. Benda-benda antik dan langka layaknya museum tersimpan apik dan rapi, termasuk naskah Punai Merah yang sedang kuselesaikan ini.

Aku membaca naskah lama yang masih menggunakan huruf-huruf kuno itu dan menerjemahkannya. Tugas ini kuselesaikan sebagai tugas akhir yang mengantar gelar magisterku. Kisah Punai Merah dituturkan dari waktu ke waktu secara turun temurun. Kisah tentang pembunuhan yang menjadi awal runtuhnya sebuah kerajaan. Naskah asli tersimpan di rumah besar ini sebagai koleksi pribadi.

“Apa kau tahu apa yang akan terjadi padaku?” desaknya lagi. Aku menggeleng. Aku yakin sedari pagi tak ada orang lain di ruangan ini. Apakah ia hantu? Ini siang bolong dan matahari bersinar terang di luar. Apa aku tertidur? Apa aku sedang bermimpi? Kutatap wajahnya yang kumal. Bayang sepia menyelimuti wajahnya yang murung. Pakaiannya koyak, motif dan warnanya telah pudar dan usang. Debu dan gumpalan pasir menempel di tubuh dan wajahnya. Rambutnya yang hitam dibiarkan terurai tak terurus. Namun semua kelusuhan itu tak dapat menutupi wajahnya yang cantik. Bayang ungu kecoklatan menyelimuti sebagian tubuhnya.

“Sejak kapan kau tinggal di sini?” tanyaku gemetar. Aku pernah mendengar cerita tentang jin yang gentayangan di rumah tua. Rumah ini tak kalah tua dengan rumah yang ada dalam cerita-cerita itu. Dilihat dari cara berpakaian dan bahasa yang digunakan, ia adalah seorang yang datang dari masa lalu. Barangkali pula satu dari burung-burung yang terbang di pepohonan trembesi di luar seperti yang pernah diceritakan nenek padaku.

 “Ini adalah tahun ketiga. Sebulan setelah kepergian suamiku ke Pulau Serunai. Tiga tahun dikurung di ruangan ini, aku tak diperkenankan melihat apa pun. Sesekali tangan penjaga mengulurkan makanan, itulah satu-satunya yang bisa kulihat.” Suaranya dingin, seolah mengeraskan getir yang ia rasakan. Sebagai sesama perempuan, ada yang menyentil ulu hatiku saat mendengar pengakuannya. Rasa sakit itu seolah berpindah padaku. Tatapan matanya kosong menerawang.

“Bahkan aku tak pernah melihat matahari. Mereka tak membiarkan cahaya masuk. Mereka ingin membuatku buta dan gila dalam kegelapan, hukuman untuk orang-orang yang tak mau mengakui kesalahan. Tapi aku tak akan gila. Aku tak akan buta. Aku bukan pembunuh. Aku akan membuktikannya.”

Aku tertegun. Angin berdesir dari jendela lebar yang terbuka di depannya. Tidakkah ia bisa melihatnya? Tidak cukupkah cahaya dari jendela besar itu? Aku menelan ludah. Barangkali perbedaan dimensi waktu yang membentang di antara kami menjadi jarak yang memisahkan indra dan tubuhnya denganku. Ia berada jauh di masa lalu, sedang aku berada di sini sebagai hari ini. Aku menarik napas dalam, mencoba membuat argumen paling masuk akal. Mungkin jendela besar itu belum ada ketika ia berdiri di sana. Dan sama seperti yang kulihat padanya, di matanya barangkali aku hanyalah bayang sepia seperti aku melihatnya. Membayangkan itu, bulu kudukku menegak.

“Mereka menuduhku membunuh Puan Meka,” katanya memecah kesunyian. “Aku tak pernah membunuh siapa pun.”

“Siapa yang menuduhmu?”

“Dame Intan. Suamiku adalah Putra Pratama, yang kelak menggantikan tahta Raja. Aku berasal dari Tanah Pasir. Sudah sewajarnya aku dekat dengan Ratu Ibu untuk mempelajari adat di wilayah ini, sebab ketika suamiku naik tahta, maka akulah yang menggantikan Ratu Ibu. Dame Intan bersahabat dengan Puan Meka dan membunuhnya.”

“Puan Meka?”

“Ia anak bungsu Raja. Ia bersikeras mengikuti pelayaran ke Pulau Serunai, padahal pelayaran itu bukan pelayaran biasa. Itu adalah pelayaran perang dengan misi penaklukan. Raja menugaskan dua anak lelakinya, suamiku dan suami Dame Intan dalam pelayaran itu. Puan Meka menganggap Raja tidak adil. Ia mendiamkan Raja dan seluruh isi kerajaan. Raja dan Ratu Ibu telah memahaminya, dan membiarkannya bersikap seperti itu. Ia selalu seperti itu. Itu tak akan lama, kata Ratu Ibu ketika aku mencemaskannya. Beberapa kali aku mencoba bicara padanya namun tak berhasil. Dame Intan mendekati Puan Meka, merayunya, menjadikannya sahabat, dan menaburkan kebencian pada Ratu Ibu, dan mungkin juga padaku. Ia putri yang manja. Hampir semua kemauannya dipenuhi oleh Raja. Dame Intan menggunakan cara itu sebagai siasatnya untuk menyingkirkan aku.”

“Menyingkirkanmu?”

“Ia mengundangku ke taman anggur untuk merencanakan perburuan kijang. Ia duduk di sana bersama Dame Intan, di bawah bayang-bayang pohon anggur yang teduh. Ketika aku datang, seorang pembunuh bayaran melemparkan jarum kematian ke arah Puan Meka, tepat di urat nyawanya. Jarum itu berlumur racun. Puan Meka meninggal saat itu juga. Dame Intan memberi kesaksian palsu. Ia menuduhku telah membunuh Puan Meka.”

Perempuan itu tetap diam memandang kosong di depannya. Tanganku gemetar. Naskah Punai Merah tersusun rapi di depanku. Kisah itu telah selesai kuterjemahkan. Kisah yang dituturkannya bertentangan dengan naskah yang tertulis.

“Bagaimana Raja dan Ratu Ibu bisa mempercayai ucapannya?” tanyaku pelan.

“Para dayang melihat aku datang seorang diri ke taman anggur. Sebagai istri Putra Pratama harusnya aku membawa satu dayang bersamaku. Dayang Sunggi tidak menyertaiku hari itu karena sakit. Aku tak mengira itu juga telah menjadi rencananya.”

“Apa maksudmu?”

“Dia merencanakan semua itu. Dame Intan menghasut Puan Meka. Ia mengatakan bahwa Raja benar-benar telah mengabaikan Puan Meka karena menangguhkan rencana berburu kijang. Semakin marahlah Puan Meka pada Raja. Aku datang untuk mengingatkan Dame Intan agar tahu diri.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Ia memasukkan racun pada minuman Dayang Sunggi dan membuatnya diare. Tiga hari itu aku menghabiskan waktu di kamar dan menulis epitaf, hingga datang undangan darinya. Ia menuduhku bahwa hari-hari itu aku pergi ke tabib dan membeli jarum kematian. Ia telah membayar tabib itu untuk bersaksi di hari pengadilan.” Suaranya tertekan. “Ia bahkan bisa membuat Dayang Sunggi, dayang kepercayaanku, membenciku. Ia mengatakan aku meracuni minuman Dayang Sunggi untuk semua rencana ini.”

Aku terkesiap mendengar ceritanya. Aku tak tahu untuk apa dia datang ke hadapanku. Aku tak tahu, apakah ia memintaku untuk mengubah isi naskah untuk mengubah masa depannya.

“Apa kau bisa membaca masa depanku? Apa yang terjadi padaku di masa depan?” tanyanya putus asa. Aku menggeleng. Kulihat ia mengusap air mata.

Di depannya, tak mungkin aku menceritakan bahwa kematian Puan Meka menyulut peperangan dengan negeri Tabal. Puan Meka telah dipersunting oleh Putra Raja Tabal. Pembunuhan Puan Meka menghancurkan hubungan baik dua negeri itu. Putra Raja Tabal sangat mencintai Puan Meka. Keluarga kerajaan habis terhunus pedang Putra Raja Tabal sebagai pembalasan. Beberapa kali sebelum itu, Puan Meka menyelundup ke pelabuhan untuk menemui Putra Raja Tabal yang menyamar sebagai nelayan. Mereka berdua saling mencintai. Mereka kerap berbincang di tepi pantai. Puan Meka menceritakan ketidakadilan Raja. Seluruh kisah itu ada di dalam naskah yang sedang kuselesaikan. Kini di hadapanku semua sejarah itu belum dimulai. Di hadapanku perempuan itu masih merupa tahanan yang memohon pengampunan, pembebasan terhadap sejarah yang menuduhkan kekejian padanya.

Burung-burung masih berkeciap di halaman. Nenek pernah bercerita tentang burung punai merah yang selalu terbang menuju tempat kematiannya. Seekor burung yang percaya akan datang sosok yang melepaskannya dari kejahatan dan ketidakadilan. Burung punai merah adalah jelmaan seorang yang teraniaya. Kehidupan masih memiliki utang keadilan padanya. Oleh karenanya, ia tak berwarna biru seperti burung punai lainnya. Kepalanya merah dan bulu-bulu sayapnya kelabu.

Aku menekuri naskah di hadapanku dengan masygul. Kisah itulah yang sedang kusalin saat ini. Aku menarik napas panjang. Benarkah dia adalah Punai Merah, perempuan yang tertulis dalam risalah sebagai penyihir yang terpasung dan mati di rumah ini? Ia mati dalam keadaan gila, dalam kegelapan ruang tahanan. Tentara Putra Tabal menyerang negeri itu tak lama setelah mereka mengalahkan kerajaan di Pulau Serunai. Mereka membunuh seluruh keluarga kerajaan namun tidak bisa menyentuh penyihir yang telah membunuh Puan Meka. Penyihir itu tak bisa dibunuh dengan pedang. Mereka memasung perempuan itu di ruang selnya. Penyihir itu mati karena terpasung mantranya sendiri. Di akhir hidupnya, ia membaca mantra untuk memohon hidup abadi. Dewa-dewa kasihan padanya dan mengubahnya menjadi burung punai berkepala merah.

“Mereka datang! Arak-arakan dan suara genderang! Suamiku datang!” katanya nyaris melonjak. Aku terkesiap, menatap matanya yang tiba-tiba bergolak. Aku menegakkan telinga. Bagiku ruangan ini tetap hening. Aku tak mendengar apa pun kecuali cericit burung-burung di luar.

“Kau dengar? Suara terompet itu berarti kemenangan! Suamiku pulang dengan kemenangan!” katanya. Ia berdiri ke arah pintu. Aku tak dapat melihatnya. Aku hanya mendengar kakinya berlari ke sana kemari. Ia mulai berteriak memukul-mukul pintu dan memanggil-manggil pengawal. Suaranya bergema menggetarkan seluruh sendi tubuhku. Suaranya berakhir dengan tangisan panjang yang memantul ke dinding-dinding ruangan, lalu lamat-lamat menghilang. Ruangan kembali hening.

Kesedihan menyelubungi diriku. Putra Pratama tidak memaafkannya. Mereka bertarung dengan Putra Raja Tabal dan mengalami kekalahan besar. Kerajaan diruntuhkan hingga nyaris rata dengan tanah, tinggal puing-puing dan beberapa bagian ruangan, satu di antaranya adalah rumah ini. Ruang baca ini dulunya adalah jajaran sel tempat Punai Merah dipasung. Para tentara putus asa karena tak bisa membunuhnya. Sihir yang dimilikinya membuat para serdadu kewalahan. Mereka memasungnya. Aku tak tahu mana cerita yang benar di antara keduanya. Ia terjebak jerat fitnah yang tercatat dalam sejarah yang ditimpakan padanya hingga saat ini. Kisah itu abadi dalam naskah Punai Merah yang kupelajari.

Kututup naskah. Kupejamkan mataku yang telah lelah dan penat. Kengerian mengepung diriku. Matahari tak lagi tinggi. Burung-burung masih bercericit di halaman.

Apa yang terjadi pada perempuan itu? Benarkah dia si Punai Merah, perempuan yang membunuh adik iparnya sendiri demi menghabisi seluruh isi kerajaan? Ataukah ia perempuan yang menjadi korban kedengkian dan kebencian wanita iri?

Kembali kususun rapi naskah Punai Merah di hadapanku. Aku hanyalah seorang yang belajar tentang naskah-naskah kuno, dan menerjemahkannya supaya lebih mudah dipelajari. Namun semakin aku mempelajarinya, semakin remang dan berjarak kisah-kisah itu dariku. Pandangan matanya, kepedihan, dan juga nasib buruk yang dialaminya terus mengiang di telingaku.

Aku bergegas meninggalkan ruangan. Kutinggalkan ruang baca yang sepi itu dengan kegamangan yang sulit kumengerti. Burung-burung masih gembira bernyanyi di antara pohon trembesi. Aku berjalan melewati lorong demi lorong rumah ini. Aku tak berani menengok ke belakang lagi.

Surakarta, Desember 2016

Karisma Fahmi Y

Karisma Fahmi Y

Lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Tumbuh dan besar di kota itu hingga SMA lalu menghabiskan masa kuliah di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret jurusan Sastra Indonesia, Surakarta. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai majalah lokal maupun nasional dan tergabung di sejumlah antologi. Hingga kini tinggal di Surakarta sebagai pengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta. Kumpulan cerpen terbarunya adalah “Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian” diterbitkan oleh penerbit Basabasi Yogyakarta. Salah satu cerpennya tergabung dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Tempo 2016 bersama 15 penulis lainnya.
Mengajar dan menulis adalah dua dunia yang digelutinya saat ini. Baginya menulis adalah kesenangan yang hendak ditularkan kepada anak-anak didiknya agar Indonesia lebih cerdas melalui tulisan. Fotografi, museum, dan candi, adalah kesenangan yang lain saat liburan.
Karisma Fahmi Y

Latest posts by Karisma Fahmi Y (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.