Rai

in Cerita Pendek by

bcarbone.weebly.comJalanan ini masih saja lengang. Padahal seratus meter dari tempat ini, sudah banyak perumahan didirikan. Padahal, hanya lima puluh meter ke timur, sudah jalan raya beraspal dan selalu terisi deru kendaraan, nyaris 24 jam sehari.

Aneh. Jalan ini seakan tak tersentuh pembangunan sama sekali. Masih saja tanah, yang kalau kemarau, akan menghambur-hamburkan debu ke segala penjuru. Haha… aku jadi ingat si Rai; perempuan setengah waras yang dipasung di…  ah, di mana rumahnya, kini?

Ya, si Rai itu, aku lupa siapa nama lengkapnya, tiap hari—tentu saja jika kemarau panjang tiba—selalu meraup debu, memupurkan ke wajahnya sendiri, lalu menghambur-hamburkannya ke segala penjuru.

Kalau hujan tiba, jangan kau tanya seberapa banyak lumpur yang tersedia di jalan ini. Dan tentu saja, Rai akan mandi lumpur sesukanya; sering kali dia akan berebut kubangan melawan kerbau-kerbau Pak Rais. Ah, mengapa semuanya mendadak bermunculan?

Nama-nama, wajah, peristiwa, yang sudah 30 tahun—mungkin lebih, terpendam di sudut paling sempit di hidupku, mendadak berlompatan. Tetapi, ke mana orang-orang itu?

Jalanan ini lengang sekali. Ada, tentu saja rumah-rumah tua. Pekarangan berilalang. Halaman dengan pokok-pokok pisang batu yang lebih mirip pohon kering ketimbang pisang, atau pagar-pagar bambu yang lepas dari tiangnya.

“Gi…, ayo ikut, di sana ada arak-arakan!”

“Di mana?”

“Sana…,” katanya seraya menunjuk ke timur.

Itu pasti suara Rai, anak setengah waras yang tak betah di rumah. Dia selalu mengajakku pergi ke suatu tempat.

“Arak-arakan apa?”

“Pengantin sunat.”

“Siapa yang disunat?”

“Tidak tahu. Yang penting ada arak-arakannya… ayo nonton….”

Ah, Gi kecil yang penakut, ragu-ragu. Tapi ucapan Rai lebih berbunga dan nyata daripada ancaman emaknya. Kata “arak-arakan” memang satu-satunya hiburan, dan itu pun jarang sekali ada. Tak heran jika setiap anak, akan segera terlontar ke alam mimpi, bila mendengar kata itu.

Lalu Gi dan Rai berlarian. Bertelanjang kaki, menyelasak ilalang, menuruni jalan kecil yang sedikit berliku, dan menyisakan debu tipis di udara. Suara tetabuhan sayup terdengar.

Ada anak kecil, mungkin umurnya 6 tahun, berpakaian layaknya seorang sultan, lengkap dengan topi berkerlap-kerlip, penuh warna merah dan kuning. Dia mengenakan jubah sultan, juga kerlap-kerlip. Si sultan cilik itu duduk di atas punggung kuda kecil, yang oleh orang-orang disebut kuda kencak. Di sampingnya seorang laki-laki memayunginya dengan payung besar, yang pinggirnya berumbai merah-kuning-hijau.

Kuda kencak adalah kuda istimewa, karena dia tidak takut akan suara tetabuhan, bahkan senang dan karenanya menari-nari mengikuti irama tabuhan. Di belakang kuda kencak itulah para penabuh musik berjalan; ada yang bermain gendang, angklung, slompret, dan gong kecil. Mereka pun mengenakan pakaian yang indah, meskipun agak lusuh.

Di belakang para pemusik, barulah keluarga si sultan dan kerabat serta—tentu saja—anak-anak kecil yang selalu saja tertawa-tawa dan bersorak-sorak.

“Aku ingin punya kuda kencak…,” ucap Rai.

“Buat apa?”

“Kutunggangi dan menari-nari sepanjang hari.”

“Menari sepanjang hari? Apa nggak capek?”

“Biar saja.”

“Mereka mau ke mana?”

“Ke rumah mbah dukun sunat.”

“Di mana rumahnya?”

“Aku nggak tahu. Kamu tanya terus, sih, Gi?” protes Rai, lalu berlari bergabung dengan anak-anak lain bergembira ngarak pengantin sunat.

Dan… kini, di matanya, jalanan itu kosong.  Jalan kecil saja, yang tetap bertanah liat dengan debunya di musim kemarau. Tak tersisa keramaian arak-arakan, tak sebisik pun teriakan dan gelak tawa anak-anak terdengar. Hanya deru suara mobil atau sepeda motor terdengar. Gelak tawa itu, di mana sekarang?

“Hei, ke sana yuk…,” suara itu memecah kesunyian. Gi, laki-laki itu, seperti ditarik seseorang menuju arah yang ditunjuk. Lalu kembali suara renyah Rai mulai menguasai hidupnya.

“Ada apa di sana?”

“Arak-arakan lagi.”

“Ada yang sunat lagi?”

“Bukan. Ini Muludan…ramai pasti….”

“Tapi…nanti aku dicari emakku lagi….”

“Penakut…. Ya, sudah…kamu di sini saja….”

“Tapi…aku kepingin lihat….”

“Hmmm… kalau gitu tidak usah tapi-tapian….”

Dan di sana Gi kecil menyaksikan makhluk sebesar sapi, bersayap seperti angsa, namun wajahnya manusia. “Itu namanya buroq.”

“Kok, kayak ceritanya Mbah Saimin….”

“Ya…, itu katanya kendaraan Kanjeng Nabi waktu ke sorga,” jawab Rai sekenanya.

“Sok tahu kamu.”

“Protes melulu, kamu. Tuh…, tuh, lihat… ada naga… ada gajah… ada… wooo…, singo barong,” Rai terus nyerocos mengomentari apa yang dilihatnya. Lalu gelak tawanya berderai.

“Buroq, kan, bisa terbang?” tanya Gi kecil.

“Memang.”

“Kok, itu, jalan kaki?”

“Itu, kan, buroq-buroqan, tolol….”

“Tapi, kan…harusnya.”

“Nggak pake tapi-tapi…,” sergah Rai.

Lalu percakapan terhenti, tepatnya terhalangi oleh pemandangan indah dan musik bambu yang ditabuh berirama riang, ditingkah tambur yang dibunyikan sesekali.

“Bagus, ya,” ucap Rai sesaat kemudian. “Aku kepingin punya buroq.”

“Katanya kepingin kuda kencak, sekarang buroq.”

“Buroq bisa terbang.”

“Kuda kencak, bisa menari….”

“Terus kalau aku kepingin punya buroq, kenapa?” tanya Rai sambil berkacak pinggang.

“Yaaa… nggak apa-apa… terus kuda kencaknya buat aku saja, ya….”

“Nggak boleh!”

“Pinjam sebentar, saja.”

“Nggak boleh.”

“Kenapa?”

“Kamu masih terlalu kecil.”

“Aku sudah besar!”

“Sudah sunat?” tanya Rai mencecar.

Gi kecil menggeleng ragu.

“Nah, kenapa belum sunat?”

“Takut….”

“Nah, itu tandanya masih kecil!”

“Aku sudah besar!”

“Masih kecil. Kalau sudah besar nggak boleh takut sunat.”

Gi kecil terdiam. Aku tersenyum sendirian. Sunyi kembali melingkupi. Entah bagaimana, seingatku, suatu hari Rai tiba-tiba mengamuk. Dia teriak-teriak. Yang kudengar dari emakku, katanya dia mau dikawinkan dan menolak. Dia memang sudah tumbuh menjadi remaja yang—menurutku, si Gi kecil yang selalu diomelinya itu—cantik. Dia memang beberapa tahun lebih tua dariku. Karena mengamuk itulah dia dipasung. Lalu ada penggusuran kampung. Dan… ada lubang jeda gelap yang tak berisi kenangan apa pun, dan tiba-tiba sudah tiga puluh tahun.

Kutatap jalanan kecil yang lengang ini. Lurus saja. Jalanan tanah biasa. Ada perdu semak di kanan kirinya. Dulu, kuingat padat sekali rumah di sini, lengkap dengan jemuran sarung atau baju, bergelantungan di depan rumah. Sekarang, hilang semuanya.

Rupanya seluruh penduduk kampung ini telah digusur dan dipindahkan entah ke mana. Aku sendiri hanya ingat diajak emakku pulang ke kampung, membawa kenangan tentang sosok Rai yang gila, yang nakal, yang selalu mengajakku nonton arak-arakan, yang membuatku lebih bergembira—paling tidak pada hari itu.

Mungkin aku dituntun oleh semacam rasa rindu. Pada kampung ini, atau pada Rai? Benarkah? Atau, barangkali saja aku merasa pernah hidup di kampung ini, yang mungkin saja tak banyak memiliki sesuatu untuk dikenang. Mungkin. Paling tidak, aku bisa ceritakan pada anak-anakku, bahwa ada cerita yang barangkali saja tidak terlalu bagus, tetapi cukup layak untuk dikenang: aku pernah berlarian di jalan kecil ini, mengejar arak-arakan dari kampung ke kampung….

Yanusa Nugroho

Lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Menulis cerita pendek, cerita bersambung, dan novel. Buku-bukunya yang telah terbit, di antaranya: Bulan Bugil Bulat (1989), Cerita di Daun Tal (1992), Menggenggam Petir (1996), Segulung Cerita Tua (2002), Kuda Kayu Bersayap (2004), Tamu dari Paris (2005), Setubuh Seribu Mawar (2013).

Cerpennya, “Salawat Dedaunan”, mendapat anugerah cerpen terbaik pilihan Kompas pada 2012. Selain itu, sejumlah penghargaan pernah ia terima, di antaranya: penghargaan Multatuli dari Radio Nederland Belanda untuk karyanya, Kunang-Kunang Kuning (1987); Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia untuk karyanya, Wening (2006); Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa untuk novelnya, Boma (2007); dan Penghargaaan Kesetiaan berkarya dari harian umum Kompas.

Latest posts by Yanusa Nugroho (see all)

  • Rai - November 4, 2016