Ramadhan dan Ironi Manusia

in Celoteh by
guardian.ng

Penyusun kitab Durratun Nasihin, Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad, menyitir sebuah hadits yang menggambarkan keutamaan bulan Ramadhan dalam suatu perbandingan, bahwa keutamaan bulan suci ini—jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain—sama dengan keutamaan Allah Swt. atas hamba-hamba-Nya. Alangkah betapanya! Kiranya, gambaran tersebut cukup gamblang untuk dijadikan iming-iming buat menarik kita lebih tekun beribadah di bulan Ramadhan.

Kenyataan di lapangan juga demikian. Ketika masuk bulan puasa, masjid-masjid memang lebih semarak daripada sebelum-sebelumnya. Terdengar orang mengaji juga lampunya yang berwarna-warni. Orang-orang sepuh meramaikan masjid dengan tadarus al-Qur’an, anak-anak kecilnya meramaikan jalanan dengan mercon. Remaja tanggungnya rame ing medsos, sepi ing masjid.

Dalam khotbah-khotbah Jum’at dan ceramah menjelang buka puasa, keistimawaan tersebut—berikut amalan-amalan yang mestinya kita kerjakan dalam menyambutnya, terutama amalan istimewa yang hanya dilakukan di bulan ini, yakni shalat Tarawih—disampaikan berkali-kali, setiap tahun. Televisi dan media cetak pun ikut-ikutan menempuhnya. Dan bersamaan pula dengannya, adu pendapat soal jumlah rakaat Tarawihnya, empat salam atau dua puluh tiga rakaat, akan pula turun meramaikan media sosialnya.

Pada saat kita diajak merenungkan peristiwa besar Nuzulul Quran, saat itu pula, masalah-masalah furu’ (bukan masalah pokok) lainnya, akan dibikin menukik lagi perdebatannya, apakah Nabi pernah melaksanakan tarawih satu juz per malam sehingga khatam dalam sebulan atau tidak? Begitu seterusnya. Dan ketika malam likuran kita dijanjikan malam Lailatul Qadar, di saat yang sama, kita bakal lebih seru lagi perang dalilnya: lebih otoritatif mana rukyat (melihat bulan) atau hisab (menghitung tanggal) untuk menentukan awal Syawal? Bagaimana hukum melihat bulan jika menggunakan teleskop sementara di zaman dulu tidak ada teleskop?

Di antara kebahagian para hamba yang berhasil menuntaskan puasa tanpa mokel, kenikmatan es pudeng saat berbuka puasa dan kenikmatan agung yang dijanjikan kelak, manusia tetaplah tidak puas berpuasa. Mereka akan meneruskan cekcoknya. Celakanya, masalah-masalah perbedaan pendapat yang mestinya dibahas oleh pakar dan orang-orang yang mumpuni di bidangnya malah juga dicawe-cawe oleh warganet yang modalnya terkadang hanya paket data untuk Google dan Wikipedia. Hebatnya lagi, akun yang sudah memiliki pengikut banyak lantas ngetwit—dengan modal pas-pasan tadi—lalu disorak oleh para pengikutnya secara membabi buta dengan modal logika (masih mending jika sempat mikir) tanpa mementingkan dalil dan hujah dari kaul/pendapat yang bersumber dari kitab-kitab karangan para ulama.

Damai dan “rusuh”-nya, sepakat dan cekcoknya, semua ini akan terus berputar setiap tahun, setiap Ramadhan, menjadi ladang penghidupan bagi penulis untuk menggarap esai, menaikkan rating bagi stasiun televisi. Dan seperti biasa, masyarakat akan menjalani dan menikmatinya.

Ironi-ironi tumbuh di sembarang tempat. Itulah yang kita lihat meskipun terkadang tanpa kehendak untuk menyadari. Pada saat kita berdebat soal jumlah rakaat dalam Tarawih, ada pula yang keasyikan dan tidak melaksanakan shalat Tarawih. Pada saat ada dua orang yang saling lempar argumen tentang qunut pada shalat Subuh, saking asyiknya, mereka tidur pukul tiga pagi lalu bangun kesiangan, tidak shalat Subuh. Hidup manusia memang penuh ironi.

Persoalan “bertentangan” seperti ini tampak di hampir semua ranah kehidupan publik. Di antara kesakralan bulan puasa, bulan perjalanan menuju pensucian diri di hari raya, kita bertarung dengan syahwat dan selera; mencari kesempatan di tengah kesempitan; memanfaatkan kebutuhan orang lain untuk menindasnya dengan pinjaman rentenir. Ngeri bukan? Begitu banyaknya pertentangan ini terjadi hingga ia seolah tampak bukan sebuah ironi lagi, malah santai dijalani dan akhirnya dianggap biasa karena terjadi setiap hari.

            Perhatikan orang yang sibuk menambah jam ibadah di bulan puasa tetapi tidak sempat mengurangi dosa-dosanya, baik dosa kepada Allah maupun kepada manusia, sosial, dan environmental. Di surau mereka iktikaf dan mengaji, tetapi saat pulang ke rumah, nyerobotnya, serampangannya, tipa-tipu kawannya, tetap berlangsung juga, sama seperti di bulan-bulan lainnya.

Masalah besar yang diidap oleh orang seperti ini adalah melihat satu hal hanya semata-mata hal, tidak berkelindan dengan yang lain, semacam tahu tapi tidak tahu diri. Contoh yang mudah adalah seorang suami yang sedang menunggu istrinya berbelanja untuk kepentingan buka puasa. Ia tetap berada di dalam mobil yang mesinnya terus menyala (padahal mobil diam saja), mungkin ia mengaji al-Qur’an, dan itu benar. Sementara di belakangnya; penjaga toko, penjaja perabot dapur, ibu-ibu, bapak-bapak, pohon-pohon, harus menerima siksaan polutan dan oksidan dari knalpot di saat yang di dalam menikmati kesejukan AC.

Orang seperti ini, andaipun dia berpuasa, mungkin  tidak sempat berpikir untuk bertanya: Mengapa ada orang seperti dirinya yang menyalakan mesin mobil di parkiran umum pasar tradisional untuk menikmati kabin ber-AC seorang diri? Yang dia tahu: harga BBM masih terjangkau, bisa dibeli. Yang dia tidak tahu: BBM-nya berasal dari energi fosil yang tak dapat terbarukan dan cadangannya terbatas; polusi udara dan polusi suaranya tidak dapat ditebus dengan mata uang apa pun.

Contoh lain bisa kita lihat, misalnya, saat menjelang isya, saat orang bersiap untuk Tarawih; atau beberapa menit menjelang shalat Jum’at. Mengapa di antara mereka ada yang naik sepeda motor dengan cara melawan arus menuju masjid “hanya” demi shalat berjamaah? Yang dia tahu: shalat berjamaah itu sunnah, berpahala 27 darajah dalam rumus fikih ibadah. Yang dia tidak tahu: melawan arus adalah dosa menurut “fikih jalan raya”.

Masih ada sekian banyak contoh ironi kehidupan manusia, saleh dan religius di satu sisi dan jahat di sisi lainnya, pada waktu bersamaan pula. Di bulan puasa, ironi yang lain juga terjadi di atas meja makan. Contoh untuk kasus ini yang relatif banyak.

Sebagaimana kita tahu, di bulan Ramadhan, daya beli masyarakat meningkat tajam bahkan andaipun nilai tukar rupiah sedang loyo di hadapan dolar. Barang-barang naik, terutama kebutuhan dapur. Pasar nyaris semakin ramai semakin ke belakang. Di bulan tersebut, banyak kebutuhan pokok yang raib dari pasar tradisional dan kalaupun ada, harganya sangat melambung.

Salah satu tanda bulan puasa adalah naiknya selera makan. Masyarakat memanjakan lidah dengan alasan menghormati (orang yang  ber-) puasa. Menghormati puasa atau sekadar ngeles dari pelampiasan dendam karena sehari tidak minum dan tak makan? Itulah pertanyaannya. Orang menyediakan takjil dan buka puasa gratisan, di perumahan, di masjid, di alun-alun. Ada kalanya mereka mengundang tetangga untuk makan bersama. Ironinya? Banyak makanan berlimpah dan terbuang begitu saja. Banyak orang membeli segantang padahal kebutuhannya setangkup. Mereka membeli segalon padahal yang mereka butuhkan hanya segelas. Dalihnya hanyalah “demi menghormati” atau karena “suka-suka saja karena uang sendiri”. Bukankah ini sebenar-benar ironi?

Tak ayal lagi, bumi yang memang telah renta menanggung beban limbah makanan semakin dikerjain lagi secara tak sadar oleh kita, makhluk yang numpang hidup di bumi Allah. Kita tidak sempat berpikir akan mata rantai yang panjang itu: oseng-oseng kangkung yang tidak termakan dan jadi sampah di meja makan itu juga membutuhkan cahaya matahari dan air saat masih tumbuh di tanah. Ia juga diangkut dengan kendaraan yang menghabiskan energi fosil, mungkin juga masuk ke ruang pendingin lebih dulu yang menyedot daya/listrik, juga menyerap minyak saat ditumis, dan seterusnya. Tumpukan limbah ini tampak sepele. Namun, dari data yang dikumpulkan Elizabeth Royte, jika seluruh sisa makanan di dunia ini dikumpulkan, maka ia akan setara dengan sebuah negara penghasil limbah terbesar nomor 3, setelah Tiongkok dan Amerika.

Anjuran untuk memberi suguhan yang mengundang selera terhadap orang yang berbuka puasa itu ada tuntunannya. Sebaliknya, larangan untuk mubazir juga ada aturannya. Yang turut melanggengkan kemuraman ini, salah satunya, adalah “adat ewuh-pakewuh” yang sepintas baik tapi nyatanya tidak produktif, semisal adanya aturan tidak tertulis untuk menyediakan makanan—pada acara-acara tertentu, seperti pada momen buka puasa bersama—jauh lebih banyak dari yang semestinya mampu dimakan. Mengapa? Alasannya adalah “takut dituduh pelit” atau “tidak pantas kalau terlalu sedikit”. Kenyataannya, setiap berlangsung acara makan-makan seperti buka bersama secara prasmanan, pemubaziran makanan selalu saja terjadi. Belum lagi kita bicara sampah anorganik yang diproduksi pada saat yang bersamaan.

Mengapa ini terjadi? Seperti sudah disebut di muka, masyarakat kerap berpikir bahwa “mampu membeli/membayar” itu sama dengan “boleh mubazir”, padahal dua hal ini sama sekali berbeda. Celakanya, yang melakukan ini adalah orang-orang yang sedang berpuasa di muka bumi, di mana satu dari tujuh warganya sedang menderita kelaparan.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)