Rapor Shalat dan Indikatornya

in Celoteh by
teknokent.cukurova.edu.tr

Menjalani hidup keseharian, terutama yang menyangkut hal-hal ibadah-ubudiyah, tak ubahnya kita sedang menjalani proses belajar di sebuah madrasah/sekolah. Nilai akhir hanya diperoleh/diketahui setelah penyerahan rapor di akhir tahun pelajaran. Analoginya, poinnya baru akan kita ketahui setelah kita beres dengan urusan duniawi dan mulai berurusan dengan hal-hal yang baru mulai sesudah mati.

Lalu, apakah amal yang kita lakukan kita selama ini, seperti shalat, hasilnya hanya dapat ditebak-tebak saja? Meskipun lulus-tidaknya belum diketahui di awal, di pertengahan, atau bahkan di saat-saat akhir masa pembelajaran, ada indikator yang akan menunjukkannya. Hasil pasti memang tidak diketahui, tapi indikator tersebut dapat membuat kita bisa mengira-ngira, seperti apa kira-kira hasil akhirnya.

Contoh: Karena Nidin memang sangat jarang masuk kelas, maka itu sudah menjadi pertanda baginya untuk tetap atau tinggal kelas. Nidin melakukan itu (jarang masuk kelas) hanya karena malas. Atau, mungkin dia merasa mampu bikin rapor sendiri dan meluluskan dirinya sendiri dengan rapor pesanannya sendiri tersebut yang dapat dicetak di tempat ia biasa nyablon kaos. Persoalan mengapa dia jarang masuk atau bahkan nyaris tidak pernah masuk sama sekali itu adalah hal lain yang tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Intinya, amal seorang mukmin (ibadah) tidak berhubungan langsung poin akhir (surga), yakni dengan kelulusan dalam istilah tahun pelajaran. Akan tetapi, sekali lagi, ada indikator yang dapat memberikan gambaran umum karena itulah yang terhubung langsung dengan “dampak” atau “manfaat” daripada pelaksanaan (implementasi) dan penghayatan (internalisasi). Artinya, ketika Nidin mengikuti mata pelajaran bersuci (taharah) di kelas dan dia dapat mempraktikkannya dengan benar pada saat berwudhu, itulah pelaksanaan (implementasi)-nya. Ketika dengan taharah yang benar tersebut dia lantas menjalankan shalat dan dengannya ia dapat tercegah dari perbuatan fahsya’ dan munkar, itulah penghayatannya (internalisasi).

Di sekeliling kita, terdapat banyak sudut pandang yang salah satunya melihat dengan cara “Nidin Terbalik”, yaitu menganggap amal dianggap hasil akhir dan tidak mempedulikan indikasi pada indikator.

* * *

Gampang-gampang susah kalau bicara indikator ini. Tapi, mudahnya begini: segala amal ibadah harus dilakukan dengan tulus ikhlas dan tanpa memikirkan imbal-baliknya, untung-ruginya, supaya tidak seperti barang dagangan. Salah satu contoh indikator terkait ibadah dan harta (baca: urusan duniawi) digambarkan secara simpel oleh Al-Haddad dalam kitab Hikam-nya dengan model pengelompokan jenis indikatornya. Ada empat kelompok/indikator yang dikategorikannya.

Pertama, “Nabiyyin” alias kelompok para nabi, yaitu mereka yang mudah dalam melaksanakan ibadah, namun seret dalam urusan rezeki. Kedua, “Ashabul Yamin”, yaitu mereka yang juga mudah dalam melaksanakan ibadah dan mudah pula mendapatkan rezeki duniawi. Ketiga, “Mustadrajin”, yaitu mereka yang berluber dan berlimpah ruah rezekinya tapi susah sekali untuk melaksanakan ibadahnya. Keempat, “Mamqutin”. Mereka adalah golongan orang yang susah dalam hal dua-duanya, baik dalam hal urusan duniawi maupun ukhrawi. Kelompok terakhir inilah yang paling apes secara majazi maupun secara hakiki.

“Susah” dan “mudah” yang tergambar di atas adalah indikator untuk menentukan di kelompok mana seseorang itu berada. Tentu saja, indikator tersebut tidaklah mutlak, tapi sudah dianggap cukup sebagai pars pro toto, sebagai bagian yang menjadi wakil dari keseluruhan. Masih banyak indikator lain yang juga mewakili. Mengapa di sana yang disebutkan hanya ibadah dan urusan duniawi (bisa disederhanakan dengan “urusan harta benda”)? Sebab, dua hal ini yang sebetulnya selalu menjadi persoalan seorang hamba selama hidupnya.

Dalam banyak ayat, Allah memberikan gambaran-gambaran indikasi dengan indikator yang berbeda-beda untuk kualitas ibadah hamba-hamba-Nya. Taruhlah contoh yang mudah: shalat. Kita tahu, shalat merupakan indikator terpenting dalam merujuk kualitas ketaatan dan taqarrub (proses mendekatkan diri kepada Allah) yang paling utama. Oleh sebab itu, shalat dibahas dalam berbagai proses indikasi, sebut saja misalnya kebahagiaan sebagai indikator “kesuksesan” shalat seseorang. Dalam Surah Al-Mu’minun, ayat 1-6, disebutkan beberapa indikator. Yang pertama adalah mereka yang khusyuk di dalam (melaksanakan) shalat (pengertian khusyuk dibahas panjang lebar di dalam banyak tafsir, namun yang terpenting adalah soal ‘hudur’ atau kehadiran atau totalitas: hanya ingat Allah di dalam shalat; menghadirkan sepenuh hati di hadapan Allah; orang sekarang mengistilahkannya dengan connected). Setelah itu, pada ayat ketiga hingga keenam, dijelaskan lagi indikator yang lain.

Begitu pula, indikator orang yang celaka. Tentu, nasib celaka yang dilekatkan kepada orang atau kelompok orang ini banyak ragamnya pula. Namun, di dalam Surah Al-Maun (ayat 4-7), status celaka dilekatkan kepada orang yang melupakan shalat, yakni orang yang tidak memperhatikan shalat; tidak melaksanakan shalat, bukan lupa di dalam shalat. Sementara dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, indikator shalat dikaitkan dengan kemampuan pelakunya untuk mencegah diri dari perbuatan fahsya’ (keji) dan munkar (kemungkaran). Di dalam banyak hadits, disebutkan—dalam redaksi yang sedikit berbeda-beda—seperti hadits dari Ibnu Mas’ud: bahwa “Tiada shalat bagi orang yang tidak menaati shalat, dan ketaatan shalat hendaklah dapat membuat (orang) tercegah dari bebuat fahsya’ dan munkar”.

Di dalam kelas, melalui proses pembelajaran pada setiap harinya, dapat kita lihat indikator-indikator keberhasilan seorang siswa dalam menyerap pelajaran. Siapa yang paling menguasai paling banyak bidang studi, dialah yang “paling mungkin” akan menjadi “yang paling berhasil” pada penyerahan rapor nanti. Namun, nilai aktivitas dan amal keseharian tetaplah sebatas status “mungkin” karena nilai yang “paling pasti” hanyalah berada di akhir tahun pelajaran, atau setelah Hari Perhitungan bagi umat manusia.

Namun, perlu pula dicatat akan adanya konsep lain, yaitu konsep “hidayah” dan “istidraj”. Keduanya adalah konsep “prerogratif” dan “antitesis”. Prerogratif artinya bahwa kuasa penuh hanya ada pada Allah. Yang dekat dengan masjid tapi tidak mau shalat itu karena tak mendapat hidayah; begitu juga yang shalat terus tapi main judi dan mabuk juga karena belum mendapat hidayah. Sementara istidraj adalah antitesis daripada usaha. Contoh: tidak beribadah tapi tetap digerojok duit dan kesehatan, semacam anak pungut yang diberi ruang di dalam rumah tangga tapi justru menghabiskan kekayaan tuan rumah dan berlaku sewenang-wenang.

Dari prinsip ini, kita lantas tahu bahwa banyak orang yang tertipu oleh amalan-amalan yang sifatnya lahiriah. Bahwa hanya yang lahir itulah yang dihitung dan dianggap “selesai”. Jika memang demikian, maka tidak ada cerita tentang Ibnu Muljam (dan sejenisnya) yang dapat dijadikan contoh, yaitu orang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari namun akhirnya membunuh Sayyidina Ali.

Di sekeliling kita, pada hari ini, dapat dengan mudah ditemukan orang yang rajin ibadah, telah melaksanakan semua rukun Islam dan iman, taat bahkan dalam melaksanakan sunnah, tetapi di saat yang bersamaan ia juga melakukan perbuatan keji dan kemungkaran. Yang salah shalat atau pelakunya? Tipe seperti ini akan memiliki pola pemikiran sesat tapi malah suka menyesatkan. Akibatnya, ia akan menyalahkan guru yang membaca kitab terlalu cepat, padahal dia sendiri yang sangat lambat dalam mencatat; menyalahkan ini-itu ajaran yang baru dan sesat, padahal dia sendiri yang baru tahu itupun hanya sebatas permukaan; atau seperti orang yang mengeluh karena tidak ada angkutan yang sudi berhenti saat dia mencegat, padahal salah dia sendiri karena posisi berdirinya untuk mencegat itu ada di tikungan atau tidak di halte yang telah disediakan.

Dan satu hal lagi, bahwa amal ibadah itu bisa menjadi bumerang jika ia dilakukan secara serampangan. Ibarat kata, rapor amal akan dikembalikan kepada pelaku yang serampangan itu secara kasar, diserahkan dengan cara dilemparkan ke muka pelakunya karena memang rapor tersebut tidak ada isinya, tidak ada angka-angkanya. Ia ibarat buku yang kena return karena cacat produksi.

Walhasil, pada saat shalat—rukun ini harus dijadikan contoh pertama karena ia adalah yang utama—sebetulnya kita telah bisa meraba-raba indikator diterima-tidaknya. Karena shalat itu adalah mikrajul mu’minin alias mikraj-nya orang mukmin, maka seberapa connected kita dengan Allah ketika menghadap-Nya di kala shalat, sebegitu pula dapat kita taksir return-tidaknya amal kita.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.