Renungan Puisi dan Manusia dari Mars

in Rehal by

Judul: Perjalanan Menuju Mars

Penulis: Irwan Segara

Penerbit: Gambang Buku Budaya

Tahun Terbit: Juli, 2018

Tebal: 69 halaman

ISBN: 978-602-6776-59-4

Peresensi: Muhammad Aswar, Penulis Lepas. Mukim di Yogyakarta

 

Di awal milenium baru, dunia puisi kita beranjak dari tema-tema romantis dan mistis ke tema-tema identitas. Demikianlah, puisi-puisi suasana dan spiritual yang akrab bagi penyair 1980-an bergeser ke puisi-puisi yang mengangkat persoalan seksualitas sebagai bagian dari agenda gender dan feminisme, kemudian muncul tema-tema keagamaan yang lebih formal seiring naiknya kelas menengah Islam pascareformasi, selain muncul tema etnisitas seperti suara kaum Tinghoa yang lama ditekan secara politik serta semangat kedaerahan yang “ingin diakui Jakarta”. Mereka bicara dengan gaya liris yang lembut, rapi, dan melankolis, di samping pilihan bahasa yang vulgar dan erotis bentuk ketakjuban pada kebebasan yang baru terbuka setelah Orde Baru.

Tentu saja, tema identitas telah memberi warna dalam dunia sastra kita—dalam hal ini puisi—dan semakin menemukan ruang persemaian berkat adanya teknologi media yang baru. Dalam konteks itulah sastra mengalami persebaran sekaligus pergeseran. Dari tinjuaun gaya, muncul keinginan untuk tampil manis, rapi, dan ringan. Sedang dari segi tema muncul semangat untuk mengolah isu identitas dalam kemasan normatif dan akademis, seperti misalnya “sastra berbasis riset”. Dengan persebaran dan pergeseran tersebut, sastra bisa menjadi bagian dari semangat “kekinian” dalam ruang kekebasan dan demokrasi. Seiring dengan itu, terjadi perkembangan ekonomi yang mengubah gaya hidup (termasuk di kalangan sastrawan), selera bahasa dan visualisasi sastra—sampul buku yang lebih berwarna, bahasa yang cenderung romantis, kafe-kafe tempat para sastrawan berdiskusi—sesuai gaya hidup kelas menengah perkotaan yang sedang tumbuh—kelompok yang melahirkan sekaligus publik (baca: pasar) dari sastra masa kini.

Semua berkah tersebut—kebebasan, media, dan ekonomi pasar—telah membawa sastra dalam arena kontestasi yang penuh dengan citra di mana ujung terjauhnya, meminjam kajian Katrin Bandel, menjadi kelompok yang disebut “selebriti”. Fenomena tersebut telah memosisikan sastrawan seperti tokoh publik pada umumnya seperti penyanyi, bintang film, bahkan anggota legislatif dan kepala daerah. Begitulah, motif awal itu disambut dan tercapai hasilnya, sebagaimana puisi menjadi bagian dari linimasa media sosial dan menjadi bagian sehari-hari masyarakat media.

Panggung semacam itu merupakan hadiah dari usaha para sastrawan untuk mendapatkan publik pembaca yang luas, termasuk beradaptasi dengan generasi pembaca sastra yang baru. Namun, tepat pada titik itulah persoalannya. Dalam proses tersebut, tidak sedikit dari kalangan sastra yang lupa untuk mempertanyakan problem-problem kemanusiaan baru yang sedang bermunculan. Dari segi media, dampaknya telah mencipta alienasi dan bahkan anomi sosial. Dari segi ekonomi, terjadi model eksploitasi baru yang berdampak pada kemiskinan dan kefakiran baru.

Tema-tema identitas yang muncul merupakan bagian dari problem yang disebutkan di atas. Kontestasi antargender, etnis, dan agama, yang semua merupakan ekspresi kebebasan yang terbuka setelah Orde Baru, telah menjadi masalah di kemudian hari, terutama konflik horisontal di kalangan masyarakat, yang kemudian disebut dengan istilah “populisme”. Masalah ini tentu bersumber bukan dari nilai-nilai budaya identitas tadi semata, tetapi terutama berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik. Di sinilah sastra perlu hadir untuk merenung dan bertanya tentang akar masalah dari fenomena ini, tentang perlunya semangat keadilan dan kemanusiaan yang berangkat dari diagnosa terhadap model ekonomi dan politik yang berbeda. Jika sastra berpaling muka dari problem-problem tersebut—dengan melahirkan karya-karya yang tidak kritis— mungkin tak mengubah posisi sastra di hadapan publik, namun secara substansial sastra bukan lagi jalan keluar dari masalah melainkan justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

Tak ada pilihan lain bagi kita selain kembali menjadi kritis di tengah keterasingan dan eksploitasi ekonomi yang bekerja secara virtual serta banjir informasi yang tidak baik. Dalam kerangka tersebut, mayoritas/minoritas dari kita bukan lagi dipandang Jawa/Cina, laki-laki/perempuan, Islam/Kristen, tapi kaum miskin yang tidak sadar dirinya miskin yang harus menjalani hidup dengan menggunakan hal-hal yang bukan miliknya: kontrakan, kafe, motor, kulkas, bahkan pengetahuan, bahasa, dan ideologi. Semua kita peroleh secara kredit; betapa pun nyaman, semua barang itu adalah pinjaman yang belum kita lunasi.

Di tengah kondisi itulah puisi-puisi Irwan Segara yang terkumpul dalam antologi Perjalanan Menuju Mars (Gambang, 2018) hadir sebagai karya yang menyegarkan dan layak disambut dengan baik. Tentu belum sehebat Pablo Neruda dan Nizar Qabbani (meski tebakan saya Irwan dipengaruhi oleh keduanya), tapi cukup mewakili semangat kritis terhadap kondisi zamannya yang dikemas dalam ungkapan yang jelas dan langsung serta dengan sentuhan liris yang indah. Penalaran yang logis dengan penggambaran yang realis amat dibutuhkan untuk memasuki kenyataan, dan gaya lirisnya dapat membantu pembaca untuk bertahan merenungkan keadaan yang sering tidak manusiawi.

Pendekatan tadi digunkan oleh Irwan untuk mengolah tema seputar alam, kampung halaman, cinta, dan kondisi sosial kita; jajaran tema yang terus berulang dalam puisi-puisi masa kini yang umumnya ditulis oleh para penyair yang memilh kota-kota besar dibanding kampung halaman mereka. Hal tersebut merupakan romantisme puisi-puisi modern kita yang terus melakukan penyangkalan terhadap kondisi perkotaan di mana mereka menetap, lalu membayangkan kampung halaman masa kecilnya yang tidak mungkin lagi ditemuinya.

Begitu pula penyair Irwan Segara yang lahir di daerah pesisir Banten, kemudian pindah dan memulai kehidupan kepenyairannya di Yogyakarta. Dalam beberapa puisinya ia memotret impresi-impresi yang diberikan kehidupan perkotaan kepadanya: Pada sebuah nisan/Kudengar mayat menjerit/Lantaran dua hotel menghimpit makamnya/Siang malam kudengar jerit/Yang panjang/Mimpi-mimpiku berdarah karenanya (“Kudengar Jerit yang Panjang”). Namun sejatinya, apa yang ia rasakan di perkotaan, seakan potret masa depan bagi kampung halamannya: Pohon-pohon yang ditanam leluhur/Telah ditumbangkan/Batu-batu yang menyertai kita/Telah direnggut dari jantung kesunyian/Pasir pantai yang menyimpan masa kanak kita/Telah diangkut ke dalam truk-truk (“Dengarlah Suara Ini”).

Apa yang khas dari semangat romantik Irwan dibanding banyak penyair lainnya adalah bagaimana ia menyadari dunia berubah lewat situasi ekonomi dan politik, dan segala yang ada berupa ombak dan kampung halaman bukanlah miliknya seorang. Bahkan ia menyadari, sekali ia menginjakkan kaki dari tanah kelahiran, pada saat itulah hubungannya dengan kampung halaman terputus (“Alam Baduy Dalam” dan “Baduy Luar”). Dalam romantisme itu, Irwan menambahkan degup-degup perjalanan untuk mencari tanah berpijak, yang lepas dari segala kesangsian dunia—sebuah pilihan yang harus diambil karena masalah objektif ekonomi-politik, bukan lagi romantika hidup damai di alam yang hijau.

Demikianlah Irwan mencari sebuah dunia baru. Dalam puisi “Perjalanan Menuju Mars”, kita menemukan nuansa Space Oddity gubahan David Bowie, namun belum sekuat pesimisme “Manusia Pertama di Luar Angkasa” Subagio Sastrowardoyo dalam kaitannya dengan janji-janji ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, dalam bentuknya yang paling menjanjikan seperti robotik dan astronomi, hanyalah suatu proses meninggalkan masa lalu untuk menuju masa lain yang sama hampanya: Namun kita hanya bergerak/Dari sunyi ke sunyi yang lain/Dari lembar khayali semata. Baginya, perjalanan mencari dunia baru telah membawa pada suatu kesimpulan untuk menerima segala yang terberi. Sebab satu-satunya cara mencintai kehidupan/Adalah dengan menikmati segenap kutukan/Nasib yang digariskan di telapak tangan (“Bersandar Pada Kata”). Penyair ditakdirkan menjadi Sisifus, dengan keterasingan dan pencarian akan keadilan karena eksploitasi dalam segala bentuknya, dari zaman lalu hingga menjadi bitcoin sekarang ini.

Penyair dan puisi haruslah menjadi sebuah dunia Bagi mereka yang tak sanggup berkata/Bagi mereka yang tak mampu bernyanyi/Yang hidup dalam lapar dan nestapa/Yang terusir dari segala tempat. Puisi, dalam segala kondisi zaman yang berjalan, haruslah tetap berdiri, menyadarkan manusia tentang kondisi zamannya, keterasingannya, kemiskinannya. Di sinilah puisi-puisi Irwan Segara mengambil sikap di tengah maraknya semangat sastra sentimental yang merefleksikan keyakinan diri yang rapuh dalam menghadapi keadaan. Dengan segala kelemahan yang dimilikinya, puisi Irwan Segara telah menghadapi tekanan dari kecenderungan umum dalam sastra serta lingkungan sosial di luarnya, bahkan di planet Mars—hunian yang dibayangkan sejumlah insan di masa depan.

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Sastrawan, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Muhammad Aswar

Latest posts by Muhammad Aswar (see all)