Reportase Musim Gugur; Puisi-Puisi Bernando J. Sujibto (Turki)

in Puisi by
reportase musim gugur autumn
Sumber gambar Ggpht.com

Reportase Musim Gugur

—Sebuah Perjumpaan bersama Jalaluddin Rumi

 

Suatu siang awal musim gugur matahari terseret pada ceruk awan
kubah hijau menusuk langit dan burung-burung bebas beterbangan
suara nay yang ditiup oleh jiwa-jiwa yang haus meringkusku habis
hempasan debu seketika menyapih tubuhku menjadi amat ringkih
seonggok tengkorak berziarah ke sebuah halaman akbar
seseorang yang wudhunya tertinggal di setiap stasiun; karcisnya
disimpan untuk tiket pulang; rute perjalanannya digambar pada
diagram keramaian pasar; doanya dipanjatkan untuk setiap sepi
yang mengancam; tubuhnya yang dipipih kenikmatan dunia
aku datang sebagai sebutir debu yang menempel di liang pesona
dekaplah tubuh ringkih ini, Maulana! Basuhlah menjadi dahaga
tempalah menjadi pandai yang tak henti-henti menyalakan api
remukkanlah menjadi waktu yang meretas semesta alam raya
tutuslah menjadi seorang hamba yang lupa jalan pulang dan
tersesat ke jalan cahaya yang memandikan Cinta bersamaNya
Aku melangkah melintasi para darwish, orang-orang yang
meneteskan luka demi Cinta. Dzikir dan doa dipanjatkan
kemesraan abadi musik-musik digesek oleh nurani
mengalir deras menuju sebuah taman bunga para pecinta
saat suara adalah kesunyian dan warna adalah penyatuan
semakin jauh meninggalkanmu, Maulana, aku seperti
seorang bayi kembali belajar merangkak. Ingin menyusu
cahaya-cahaya yang berkilatan di istinamamu. Sampai
aku lupa bahwa kematian adalah malam pengantin langit
paling sempurna!

Konya, September 2013

 

 

Interval Musim Dingin

[Masjid Peninggalan Saljuk]

sebuah pintu terbuka
dua kerak pada lobang kunci
seperti bekas ciuman perpisahan
aku-kau saling mengintip sejarah
pada lubang yang sama
di bawah palang kayu aku-kau berdiri
sama-sama tak hendak bergerak
kembali atau pergi adalah teka-teki
mataku menatap ribuan tahun lalu
di balik dinding: doa dan ratapan
matamu merancang masa depan
ke tengah lembah dan tanah kering
aku menyapamu
“siapa pun tak kan pernah bisa menyimpan
amis darah, asin airmata dan sekuntum bunga
yang ditanam untuk sebuah musim panen
bernama dusta!”
bibirmu lalu mengatup
seperti kelopak bunga tulip
“di balik dinding ini kemenangan adalah segalanya
sementara timah-timah darah yang luruh di tanah
secepatnya punah sebagai kisah kemenangan
menyusun masa depan.”
wajahmu berbinar menatap hari-hari di masa depan
aku tenggelam menekuri timah-timah darah
tiga langkah ke pintu masa depanmu
Konya, 2014
 


Pohon Zaitun

di sebuah bukit pantai, kota Amos
reruntuhan waktu menua pada dinding batu
Hellenic dan sesembahan untuk Athena
aku menemuimu Pohon Zaitun, seperti bisikan ayat suci
daun ringkih dicacah matahari dan angin berhembus keras
aku tertunduk pada sebidak altar, sumber doa-doa berkibar
tak ada yang mengabarkan kesunyian dari pantai Mediterania
tentang matahari pagi yang menyapa lancip daun-daun Zaitun
sebelum burung-burung camar berebutan di atas gelombang
memancarkan cahaya seribu warna ke sebuah pantai yang fana
laut ini seperti lekukan mimpi yang tak pernah punya akhir
saling direbut dan ditaklukkan oleh tentara-tentara Tuhan
di seberang kiri, mereka terus awas nyalang mata perang
bau mesiu, pekik dan tangis para bayi membelah semesta
di seberang kanan, mereka melambaikan tangan, sambil
berbisik “selamat tinggal, reruntuhan. Kami abadikan
di ruang kenangan, tempat kami saling menyapa.”
aku kini berada lurus ke Selat Gibraltar, pintu Laut Mediterania
di mana matahari akan tenggelam. Untuk sejenak, tak perlu
menafsir bayangan pada tubuh. Karena malam akan menuntun
pada satu cahaya di ujung doa….
Bukit Amos, Agustus 2015

 

 

Keterasingan Ini

Kutanggung sebagai Kutukan

Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
antara jarak derak daun gugur
dan tanah yang menyimpan akar
aku telah sempurna tersandera liar
berhamburan dari tanah kelahiran
lorong-lorong tak menyimpan batas
merayakan pesta demi pesta kepergian
menuju entah, o pesona yang menyiksa
Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
bersama orang-orang lupa jalan pulang
tersesat pada selembar alamat benderang
Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
kemana aku pergi kapan aku pulang
kenangan menyergapku sebagai tamu
di sebuah rumah di mana aku pernah lahir
ia menjadi situs-situs tua. Aku mencatat
nama-nama terkelupas pada dinding kayu
para tetangga memanggil akrab namaku
mereka memeluk hangat sebagai saudara
tapi aku harus berkenalan lagi satu per satu
aku butuh mengingat nama-nama mereka
aku menjadi turis di tengah-tengah mereka
dari jendela sawah-sawah padi mekar
sebuah dunia baru tua renta
Keterasingan ini
kutanggung sebagai kutukan
ibu datang menghidangkan sarapan
—sebuah panorama pagi
menatapku penuh awas dan curiga
aroma waktu kanak-kanak lenyap begitu saja
menjadi tamu-tamu baru yang saling meringkus
ingatan dan masa silamku sendiri
mendaraskan nama-nama asing
tetapi ibuku terus merangkulku
menutup mataku dari jin-jin nakal
hingga benar-benar sadar
aku hanya seorang kelana
tersandera kenangan
tanah kelahiran!
Turki, 2013/2015

 

Di Çanakkale

kuseret tubuhku dari Timur ke Barat, mencari garis batas
di mana akan kubelah tubuhku sebagai persembahan mitos
di sebuah selat kecil menamai keagungan, menciptakan kudus
demi sesembahan untuk gala dinner, tubuh mulus dilukis halus
maha kecantikan yang berakhir getas di atas ranjang. Di sini
aku datang dengan setumpuk mimpi buruk, peradaban yang dijilat
ribuan orang Timur, si Sifus baru yang terpesona haru Tanah Biru
separuh tubuhku kulayarkan ke Timur, membusuk bersama sejarah
gong kebesaran ditabuh menyambut para pendosa jatuh ke bumi
menemui Hector yang terkapar demi kehormatan pada sebuah perang
mereka saling merangkul dan bercumbu, lalu bertikai, lalu bersatu
ke perih darah jerit tangis, adakah tubuhku butuh seorang Nabi baru?
aku melanjutkan perjalanan dengan separuh tubuhku yang terbelah
ke lahan gandum, taman bunga matahari dan kebun-kebun anggur
malam nanti tanah ini akan menjadi kuburanku bersama Achilles
melanjutkan Kisah 1001 Malam dari mimpi Aladdin dan Mahabrata
hingga ia dan arwah suci Hector menziarahiku, tubuhnya sendiri
yang kini dilipat tanah.
selamatkah aku Helen, demi nama kekuasaan pada lapis kecantikanmu?
Çanakkale, 2014

 

Bernando J. Sujibto

Bernando J. Sujibto

Mahasiswa pascasarjana di Turki, peneliti Orhan Pamuk dan sastra Turki. Alumni PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Bernando J. Sujibto

Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)