Representasi Ilahi

in Tajalli by
islamic8.com

Segala sesuatu yang bersifat global pada Pena Ilahi, hal itu bersifat global pula pada roh seorang insan kamil. Segala sesuatu yang bersifat terperinci di Lawh Mahfuzh, hal itu bersifat terperinci pula di hati seorang insan kamil. Segala sesuatu yang bersifat global di Istana Ilahi, hal itu bersifat global pula pada jasmani seorang insan kamil. Segala sesuatu yang bersifat terperinci pada Kursi Ilahi, hal itu bersifat terperinci pula pada nafsu seorang insan kamil.

Seorang insan kamil itu betul-betul merupakan representasi dari pengejawantahan dan kehadiran Ilahi di tengah arus sejarah dan kehidupan semesta. Tanpanya, denyut kehidupan ini akan seperti kehilangan jimat yang paling urgen bagi keberlangsungannya. Tanpanya, dunia ini akan menjadi oleng dan ambruk digertak oleh kemusnahannya sendiri. Tanpanya, episode kehidupan yang fana ini akan berakhir dan pindah ke kehidupan akhirat yang membentang luas tidak kepalang.

Seorang insan kamil tidak lain merupakan keutuhan sekaligus keluasan teofani Allah Ta’ala yang meliputi seluruh kitab keilahian yang telah difirmankan oleh hadiratNya, juga mencakup semua alam ciptaan. Kitab suci Taurat, Injil, Zabur, Qur’an, dan berbagai mushaf yang telah diturunkan kepada para nabi: semua itu tercetak secara terperinci, rapi, dan jernih pada diri seorang insan kamil. Dia adalah kitab suci yang hidup dan komprehensif.

Kesanggupan untuk sebanyak mungkin kulakan dimensi-dimensi kemahaagungan dan kemahaindahan Allah Ta’ala, telah menjadikan seorang insan kamil sebagai representasi dari pengejawantahan dan kehadiran hadiratNya yang paling lengkap, paling mumpuni, dan paling sempurna di dalam kehidupan ini. Dia merupakan titik fokus dari pandangan Allah Ta’ala. Dia merupakan cermin sangat sakral dan jernih yang sanggup memantulkan gambaran-gambaran dari hadiratNya sendiri.

Sebagaimana pengetahuan Allah Ta’ala terhadap dzatNya sendiri memastikan adanya pengetahuan terhadap segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu melalui pengetahuan terhadap dzatNya, demikian juga yang terjadi dan berlangsung pada diri seorang insan kamil. Sang hamba yang ada di puncak kedudukan rohaninya itu mengetahui hakikat dirinya sendiri. Dari situ dia bisa mengetahui segala sesuatu. Karena secara hakiki, dia tidak lain adalah hakikat segala sesuatu itu, baik secara global maupun secara terperinci.

Maka, benarlah adanya sebuah hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa mengenal dirinya secara hakiki, maka pasti dia mengenal Tuhannya. Dan, kalau kepada hadiratNya saja dia mengenal, maka dapat dipastikan bahwa dia mengenal pula terhadap segala sesuatu. Sebab, bukankah segala sesuatu itu sesungguhnya meringkuk dengan rapi di dalam cakupan kemahaan Allah Ta’ala? Tak mungkin tidak.

Renungilah firman Allah Ta’ala berikut ini: “Alif lam mim. Itulah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. al-Baqarah: 1-2). Alif merupakan simbol yang menunjuk kepada dzat Allah Yang Maha Esa yang merupakan asal-usul segala sesuatu. Lam merupakan simbol yang menunjuk kepada bentangan realitas wujud. Dan mim merupakan simbol yang menunjuk kepada alam yang utuh yang tidak lain adalah seorang insan kamil itu sendiri.

Maka, menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, menjadi jelas bahwa Allah Ta’ala, alam raya dan insan kamil itu merupakan al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Itulah kitab wujud yang hakiki. Itulah kitab realitas dalam pemahamannya yang mendalam dan transendental. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)