Sepotong Kue Bulan untuk Kehidupan; Review Film Moon Cake Story (2017)

in Hibernasi by
Sepotong Kue Bulan untuk Kehidupan; Review Film Moon Cake Story (2017)
Moon Cake Story (2017). Sumber gambar: layar.id

Jakarta merupakan kota tersibuk dan terpadat di Indonesia. Ia menyimpan segudang cerita. Suka, duka, perjuangan, dan air mata. Manusia Jakarta sudah terbiasa dengan pola sikap kompetitif untuk bertahan hidup. Seperti yang hendak dinarasikan dalam film Moon Cake Story. Film besutan sutradara andal Garin Nugroho yang berusaha mencari makna-makna dan prinsip hidup dalam kerasnya kehidupan.

Film dimulai ketika Asih yang dibintangi oleh Bunga Citra Lestari menangis di pusara suaminya. Ia terpukul sekaligus merasa payah karena belum bisa membahagiakan keluarga. Sementara itu, David yang diperankan oleh Morgan Oey merupakan seorang taipan yang sedang dalam kegemilangan kariernya. Namun, tak seperti apa yang telah ia capai, David justru merasakan keresahan yang luar biasa sejak ditinggalkan oleh istrinya. Hingga ia terserang penyakit alzheimer. Penyakit yang menggerogoti daya ingatnya secara perlahan dan bersifat progresif.

Kedua tokoh utama dipertemukan dalam sistem aturan berkendara di Jakarta, yakni 3 in 1. Garin cukup jeli dan meyakini bahwa sistem 3 in 1 mampu mempertemukan kelas atas dengan kelas bawah secara langsung. Maka saat itu pula, David yang dalam perjalanan menuju kantor bertemu dengan Asih sebagai joki 3 in 1. Kemacetan, kesemrawutan, hingga tindak kriminal tak luput dari sorotan film tentang kondisi Jakarta.

Sebagai pengidap alzheimer, David hanya ingat momen-momen indah masa lalunya. Ia ingat betul bagaimana kondisi keluarganya semasa dahulu. Keluarga sederhana yang dihidupi dari usaha kue bulan buatan ibunya. Dan ibunya mewariskan resep kue bulan kepada istrinya. Meskipun kedua orang terkasihnya itu telah lebih dahulu meninggalkannya.

Selain menjadi joki 3 in 1, Asih juga seorang tukang cuci pakaian di tempat tinggalnya. Ia tinggal di kawasan kumuh Jakarta, belakang gedung-gedung pencakar langit metropolitan. Apa pun dilakukan Asih untuk menghidupi adiknya yang terpaksa putus kuliah serta anaknya yang cerewet merindukan sosok ayah. Dari sini, David melihat Asih seperti sosok indah masa lalunya. Sayangnya, Bunga Citra Lestari tak begitu luwes dalam memerankan karakter kelas bawah ini. Ia terlalu lembut. Kurang melebur menjadi Asih yang berusaha keras mengurai kusutnya kehidupan yang sedang dialaminya. Meski Garin telah menempatkan Asih sebagai sosok yang punya prinsip dan berpendirian teguh.

Sebagai film dengan kategori drama, Garin menjejali pendekatan musikal di dalamnya. Seperti film-film sebelumnya yang pernah ia garap. Misalnya film Soegija (2012) dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2014). Maka tak heran musik latar film ini terasa begitu kenes dan kurang representatif sebagai drama yang menyentuh. Bisa dibayangkan bagaimana penggambaran situasi “kerasnya” ibu kota dengan menyanyi dan menari ceria di kawasan perkampungan kumuh nan sempit Jakarta.

Aktor senior Jaja Miharja berperan cukup signifikan untuk menghidupkan rasa humor dalam film. Ia melakoni peran sebagai ketua RT yang akrab disapa Babeh. Pimpinan kampung yang cukup peduli dengan kehidupan warganya. Meskipun agak sedikit genit. Terutama kepada adiknya Asih yang diperankan secara maksimal oleh Melati Zein.

Kekuatan emosi film ini terlihat saat kondisi kritis David. Saat ia sedang berjuang melawan penyakitnya. Tapi justru saat itu pula ia ditekan oleh saudara-saudaranya ihwal keberlanjutan usaha keluarga. Sementara David merasa usaha keluarga terus meningkat dari tahun ke tahun. Semakin tinggi, meninggi, dan terus meninggi. Sampai David merasa kebingungan harus kepada apa dan kepada siapa ia berpijak. Sedangkan sedari kecil David beserta saudara-saudaranya diajarkan untuk bersyukur atas pemberian rezeki yang cukup. Mantan personel grup vokal SMA*SH ini, Morgan Oey, cukup apik dalam memerankan David yang dibayang-bayangi ketakutan akan penyakit yang kian menggerogotinya. Logika dan emosinya cepat berubah secara drastis.


Simbolisasi Toleransi

Film ini terjadi berkat kerja sama Tahir Foundation dengan MVP Production di bawah naungan Raam Punjabi, yang hendak memberikan pesan moral saling berbagi kepada sesama. Secara simbolis, David sebagai konglomerat memberikan penawaran kepada Asih bahwa ia memiliki yayasan dengan konsentrasi memberikan bantuan kepada rakyat kecil. Seperti membuat perumahan rakyat dan koperasi. Kepada Asih, David memberikan modal usaha untuk berbisnis kue bulan.

Dalam khazanah Tiongkok, kue bulan merupakan kudapan tradisional yang bermakna kebersamaan dan persatuan. Biasanya disantap sambil duduk melingkari meja bersama orang-orang terkasih. Begitu juga film ini mempresentasikan gambaran serupa. Sambil melingkari meja, David beserta keluarga semasa kecilnya memanjatkan doa dan rasa syukur atas hidup yang telah diberikan.

Dengan plot yang agak meloncat, tiba-tiba Asih menerima tawaran David untuk berbisnis kue bulan. Hampir tak ada kendala. Asih serta-merta mendistribusikan kue bulan buatannya keliling kampung. Dalam balutan visual yang ceria, usaha kue bulan Asih terbilang sukses. Keluarga Asih mengalami peningkatan harkat hidup dalam tempo yang singkat.

Keluarga David digambarkan sebagai penganut Kristiani yang taat, sementara Asih digambarkan sebagai bukan penganut Kristiani. Beberapa kali Asih diajak untuk ikut David beribadah di gereja. Asih hanya menatapnya dengan raut bahagia. Maka kue bulan menjadi simbolisasi jembatan toleransi yang hendak dituturkan film ini. Bahwa siapa saja, dengan latar belakang suku, agama, atau ras apa pun dapat membantu siapa pun. Membantu sesama manusia yang membutuhkan.

Untuk ukuran film Indonesia yang berusaha mencari makna-makna dan prinsip hidup yang menyentuh, judul berbahasa Inggris Moon Cake Story terasa kurang bersahabat di telinga. Mungkin akan lebih akrab jika diberi judul berbahasa Indonesia saja. Namun demikian, Garin selaku sutradara sekaligus penulis skenario film berdurasi 94 menit ini hendak menyampaikan kepada kita semua bahwa jika kita ingin membangun istana, jangan hancurkan tanaman di sekitarnya tanpa menanamnya kembali, karena jika tidak ditanam kembali, semuanya akan hancur.

Sesederhana apa yang telah kita terima, ada kewajiban untuk memberikan kepada yang lain membutuhkan. Pada akhirnya, Moon Cake Story atau cerita kue bulan adalah sepenggal kisah mengenai cita-cita kehidupan yang seimbang.

Gunawan Wibisono

Gunawan Wibisono

Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak maupun online seperti Harian Kompas, Majalah Jasmerah, Midjournal, Sorgemagz, Warning Magazine, dan Geschieporia Magazine. Beberapa puisi dan esainya diikutkan dalam buku antologi TentangLangit (2012) terbitan Balai Soedjatmoko Solo dan Hajatan Aksara (2012) terbitan Taman Budaya Jawa Tengah. Pernah menulis skenario film pendek W.A.R (2012). Saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Lab Sosio FISIP UNS sembari merampungkan buku perdananya bertajuk Musik dan Gerakan Sosial.
Gunawan Wibisono