Mencari Keabadian dalam Supermarket; Review Film Sausage Party (2016)

in Hibernasi by
Mencari Keabadian dalam Supermarket; Review Film Sausage Party (2016)
Vanity Fair

Jika Anda biasa ke supermarket hanya berbelanja, coba perhatikan lagi. Sebuah (atau mungkin lebih tepatnya seorang) jagung menjadi pemimpin paduan suara pagi di sebuah supermarket. Suara nyanyian itu, yang mulanya hanya dari bagian buah dan sayuran, menyebar ke seluruh supermarket.

Mereka bernyanyi dan merayakan pujian. Mereka, barang-barang grosiran itu, sebagai sebuah masyarakat sungguh bahagia. Proyeksi mereka tentang surga yang abadi adalah hidup di rumah kita: dipeluk dan disayang layaknya kucing atau anjing, oleh kita—pembeli sekaligus figur dewa bagi mereka. Dan nyanyian ini selalu terjadi pada pukul 7 pagi, saat Shopwell’s Grocery Store buka setiap harinya. Berbagai macam produk kemudian bersolek dan menjaga kemasan mereka agar tak rusak. Frank dan Brenda—seorang sosis dan seorang roti hotdog—dua sejoli yang hidup bersebelahan dan saling mencintai sejak sekian lama, telah memimpikan untuk bebas dari plastik mereka dan menikmati hidup mereka yang abadi bersama-sama. Pada akhirnya, dewa memilih mereka. Seorang perempuan dengan tubuh yang sungguh MILF.

Hanya saja, pertemuan dengan honey mustard yang dikembalikan oleh seorang pelanggan yang komplain terhadap pihak supermarket, mengubah takdirnya. Honey mustard itu berkata, “Aku lebih baik mati di sini daripada harus kembali ke surga itu!” Kaleng honey mustard itu jatuh dan pecah.

Frank, yang menahan si honey mustard agar tak bunuh diri, keluar dari plastiknya lalu terhempas ke lantai. Begitu pula dengan Brenda yang berusaha menyelamatkannya. Keduanya harus kembali lagi ke kemasan yang baru, namun bagi Frank, jelas perkataan honey mustard telah mengganggunya. Membuatnya berpikir tentang manusia dan kehidupan di luar grosir.

Plot menarik yang ditawarkan oleh Sausage Party, dan takdir pula (selain link di torrent, tentu saja) yang membawa saya menyaksikan film ini setelah terbelokkan oleh “Secret Life of Pets”. Agak menyesal juga baru menonton sekarang, karena jika dibandingkan dengan beberapa film animasi lain yang tayang pada tahun 2016 seperti “Secret Life of Pets”, “Zootopia”, “Finding Dory”, dan “Kung Fu Panda 3”, alurnya memang beda.

Dan, atas sebab membawa benda mati menjadi hidup, saya rasa membuat “Sausage Party” sejauh yang saya ingat, mendapatkan rating 17+. Selain tentu saja, penggunaan kata-kata yang kasar tapi masih batas wajar dan beberapa adegan seksual (bukan mengarah lagi, namun betulan).

Kita bisa tertawa dengan menyaksikan barang-barang di supermarket begitu gembira karena telah dipilih sebagai pengguna mereka. Namun di sisi lain, mampu menghanyutkan kita pada pertanyaan yang sungguh eksistensial: benarkah kehidupan setelah mati itu benar adanya? Bagaimana jika setelah hidup—sebagaimana nasib barang-barang supermarket yang Anda beli—kita hilang begitu saja? Mengutip pertanyaan dari Chrisye, jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita akan menyebut nama-Nya?

Hampir seluruh agama kemudian mengenal konsep kehidupan kedua. Konsep surga, nirwana, reinkarnasi, adalah pertanda bahwa manusia sendiri menolak lenyap. Mereka percaya bahwa kehidupan setelah mati akan menjamin mereka dan membalas mereka atas apa yang terjadi di kolong dunia. Keadilan yang seadil-adilnya.

Kita juga, sebagai sekelompok masyarakat, kemudian memelihara fabel, dongeng, dan kisah-kisah legenda mengenai kehidupan kedua. Cerita itu diceritakan turun-temurun dan kemudian diyakini. Film ini kemudian membuat penulis kembali berpikir tentang Sisyphus, yang dibela mati-matian bahwa ia sebenarnya bahagia oleh Albert Camus. Dan kembali mempertanyakan eksistensi manusia: benarkah kita akan lenyap, atau akan masuk ke kehidupan kedua sebagaimana yang dijanjikan oleh agama?

Albert Camus kemudian memuntahkan anggapan umum bahwa Sisyphus, yang dihukum selamanya untuk mendorong bongkahan batu besar ke puncak bukit dan lalu turun lagi dan begitu terus, sebagai sebuah penderitaan. Katanya, “bayangkan Sisyphus bahagia. Bayangkan dalam kesia-siaannya, ia menemukan apa intinya hidup ini. Bayangkan ia, dalam penderitaannya bisa menikmati hidup tanpa beban.” Albert Camus adalah orang yang percaya bahwa tujuan hidup ini adalah sia-sia—tak ada surga, tak ada neraka, hanya perulangan yang membuat kita menderita—kemudian menawarkan paradigma ini. Menawarkan bahwa tujuan hidup harusnya berdasar pengalaman tiap individu dan bukannya semata-mata bergantung pada kehidupan setelah mati.

Konsep ini ditata dengan konyol oleh Sausage Party. Visualisasi tentang keripik kentang, kentang, dan benda-benda lainnya yang didapatkan di supermarket, percaya dengan hidup disayang oleh kita di rumah kita, sangatlah lucu. Dan yang lebih menggelikan adalah bagaimana visualisasi mereka berpesta pora di troli dan merayakannya sebagai perjalanan menuju surga. Mereka tak tahu takdir mereka sebenarnya: dikonsumsi oleh manusia.

Frank, karakter utama kita, menemukan perjalanan spiritual ini. Kaleng honey mustard, yang dianggap gila oleh orang-orang, kemudian ia dapati memiliki kebenaran yang hakiki. Ia bertemu dengan para legenda, yang dikenal sebagai produk abadi—karena mereka plastik dan bersembunyi di balik rak-rak di supermarket—dan mendapati kenyataan bahwa dahulu supermarket ini selalu diliputi rasa takut mulanya.

Takut karena tak ingin dilumat oleh mulut manusia. Takut karena nanti akan menjadi masakan dan dimutilasi kulitnya. Takut karena mereka akan mati sia-sia. Dan dari sana, tiba-tiba cerita lainnya berkembang: bagaimana kalau di luar sana itu surga. Kenyataan kedua lebih bisa diterima, dan semua orang menyambutnya dengan sukacita.

Frank menemukan sebuah bukti autentik untuk mendukung kebenarannya: sebuah buku resep, lengkap dengan ilustrasi manusia sedang melahapnya dengan penuh hasrat. Ia mengumumkan hal ini, dan orang-orang panik. Pertanyaan kemudian terlontar dari mereka yang ketakutan: kalau memang kita akan mati begitu saja, lalu apa yang akan kita lakukan? Frank bingung. Ia sendiri, tak memiliki jawaban mengenai itu semua.

Jika hendak kabur, mereka tetap merupakan sebuah produk yang memiliki masa kedaluwarsa. Jika menunggu saja, ia tahu bahwa ia akan lenyap. Sang jagung kemudian bernyanyi, dan menghidupkan semangat orang-orang lagi terhadap surga di rumah dewa mereka beserta imaji liar mereka. Dan kembali ke awal, semua orang percaya bahwa kehidupan kedua memang ada dan seindah pikiran mereka. Lebih buruk, Brenda menjadi sangat benci terhadap Frank yang dianggap melecehkan kepercayaannya.

Saya semringah sambil mikir saat menyadari bahwa ini adalah film animasi—di mana harusnya disuguhkan adegan-adegan komikal yang lucu dan menggelitik dan berhasil saya dapatkan di sini. Film ini berhasil membuat saya berpikir tentang eksistensi manusia.

Bagaimana jika sesungguhnya kita semua hanyalah produk di supermarket yang menunggu dibeli? Bagaimana jika sesungguhnya kita hanyalah produk di supermarket yang menunggu dikonsumsi? Bagaimana jika sesungguhnya kita hanyalah benda mati dan nyawa kita sebenarnya hanya di kepala kita, sebagaimana Frank dan orang-orang di supermarket itu percaya bahwa mereka sesungguhnya hidup?

Entahlah. Yang jelas, Sausage Party membuat saya agak mikir-mikir lagi untuk mengonsumsi barang dari supermarket. Kalau mereka betulan bernyawa, siapa tahu?

Arif Utama

Arif Utama

Suka menulis dan membaca teks kecuali teks skripsi.
Arif Utama