Rezeki Tuhan yang Tak Kasatmata

in Hibernasi by
Rezeki Tuhan yang Tak Kasatmata
Sumber gambar themighty.com

Lagi-lagi di suatu ketika, saya sedang bermotor di jalanan yang lengang di tengah-tengah malam tanpa bulan dan bintang. Saya terpikir tentang Tuhan. Ya. Tuhan. Tidak penting apakah Tuhan dalam perspektif saya, sama dengan Tuhan dalam perspektif Anda. Buat apa dipaksakan sama jika Dia pun tidak keberatan ada banyak prasangka dari hamba-hamba-Nya?

Jika saya teringat Tuhan, biasanya ketika dalam keadaan sedang butuh uang. Dalam perspektif saya, minta uang jangan sama ciptaan-Nya. Sebab manusia tidak mahatahu. Tidak maha pengertian. Tidak mahakaya. Manusia yang sedang butuh uang, mukanya toh sama saja dengan mereka yang sedang tidak butuh uang. Omong kosong jika seseorang mengatakan, “Aku tahu, kau sedang tak punya uang.” You don’t know at all, dude!

Ketika seseorang memutuskan untuk mandiri, uang adalah isi dompet yang idealnya harus selalu ada. Setidaknya cukup untuk mengisi tangki bensin dengan seliter BBM subsidi pemerintah. Buat beli rokok bagi para Marlboro-dude atau Dji Sam Soe-dude. Isi pulsa bagi yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. Beli majalah pria dewasa jika… yeah… untuk sebuah kepuasan yang tak maksimal.

Pada prinsipnya, manusia itu sudah diatur alur rezekinya. Kapan, di mana, bagaimana rezeki itu hadir dalam kehidupan nantinya, jauh-jauh sebelum individu yang bersangkutan lahir. Tidak ada yang namanya dadakan apalagi diciptakan oleh si manusia itu sendiri.

Rezeki dalam KBBI definisinya seperti begini:

re·ze·kin1 segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; 2ki penghidupan; pendapatan (uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa gaji adalah rezeki bagi para karyawan sebuah perusahaan. Omzet sebutan lain rezeki di kalangan pengusaha. Bunga deposito menjadi rezeki bagi para pensiunan di hari tuanya.

Namun jika melirik rezeki dari bahasa aslinya, saya rasa akan ada sedikit perbedaan pemaknaan. Di sebuah situs Islam, ayat1000dinar.blogspot.co.id, disebutkan, rezeki yang berakar dari bahasa Arab: razaqa-yarzuqu-rizq, secara etimologis bermakna pemberian. Secara terminologis, rezeki bermakna apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak.”

Apakah memang ada persepsi antara orang Indonesia dan Arab mengenai bab rezeki sehingga rezeki dalam perspektif kita bangsa Indonesia sebatas sesuatu yang sifatnya melulu materi dan pemenuhan kebutuhan? Para pakar psikolinguistik yang lebih tepat untuk memberikan penjelasan lebih mendalam. Kita bahas yang ringan-ringan saja di sini.

Dengan menggunakan definisi rezeki versi bahasa Arab, saya jadi urung mempertanyakan, bagaimana dengan perkara rezeki Tuhan di luar golongan mereka yang dilimpahi materi? Tahu sendiri jika orang-orang di kalangan menengah untuk naik haji harus menabung bertahun-tahun, antre menunggu panggilan sejak rambut masih hitam hingga menjadi putih bahkan botak, atau saking lamanya keburu masuk kubur. Pun, kalangan bawah yang uang tunai saja tidak tentu tiap hari ada, makanan pun demikian.

Pemberian dari Tuhan sangatlah sulit didata satu per satu oleh si penerima rezeki jika bentuknya tak kasatmata. Tapi ada. Underlined. Zaman sekarang, perkara “ada dan tiada” itu sekonyong-konyong menjadi topik selalu hangat dalam perdebatan ranah eksistensialisme. Tuh kan, saya mulai merepet filsafat lagi.

Di perempatan saya berhenti sejenak. Traffic light di Jogjakarta tidak pernah lama berwarna merah. Di tengah malam seperti saat itu, pelanggaran lalu lintas sebenarnya sangat sering terjadi. Kenapa harus menunggu lampu lalu lintas berganti hijau sementara jalanan begitu lengang? Polisi mana ada yang bertugas? Bukankah pelanggaran lalu lintas juga tidak masuk urusan pencatatan dosa oleh malaikat? Silakan tinggalkan komentar di bawah tulisan ini jika ternyata ada fatwa baru seputar menerobos lampu merah. Saya sungguh tidak update dengan MUI.

Perjalanan saya lanjutkan. Prosesor dalam kepala ini kembali berjalan, seiring dengan tarikan gas perlahan. Lampu sudah hijau. Sebuah motor melintas cepat di depan saya. Dipikirnya tidak ada orang di sisi lain perempatan perbatasan kota Jogja tersebut. Saking ngebutnya dia, sampai tidak melihat jari tengah saya yang mengacung tinggi ke arahnya.

Rezeki Itu Bernama Kesehatan

Keberuntungan, keselamatan, kesehatan. Tidakkah demikian disebut rezeki yang sangat istimewa? Bagaimana jika saya tertabrak Ninja itu? Saya dalam posisi benar, dia yang salah. Saya yang bakal luka-luka lebih parah. Secara teori fisika begitu. Tapi, keajaiban tak punya landasan logika. Tuhan memberikan proteksi 24 jam. Free of charge. Jika Anda ikut sebuah asuransi, pasti tahu berapa besaran premi harus dibayarkan untuk sebuah “proteksi komersial” yang itu takkan mampu memberikan jaminan hidup kita sepenuhnya lolos dari mara bahaya. Polis asuransi, di sisi lain, sedemikian menggiurkan, bisa mendorong seseorang untuk membunuh keluarganya sendiri. Saya hanya menontonnya dari sebuah serial TV kok, bukan menjadi saksi.

Kesehatan itu mahal sekali. Saya pernah sekitar setahun lalu, diajak kakak ke sebuah seminar para dokter mata di Hotel Royal Ambarukmo Jogja. Dia seorang dokter mata yang sekarang bekerja di ibu kota Kepulauan Riau. Dokter-dokter spesialis adalah orang-orang berada. Kenapa saya bisa bilang begitu? Pertama, mereka hidup dengan sponsor. Sudah seperti selebriti, kecuali, tidak tampil di televisi. Di rumah kami, yang namanya obat mata keluaran terbaru, berjibun jumlahnya, bertumpuk dalam drawer. Dokter itu penjual obat para sponsor, sebutan sarkasnya kurang-lebih. Pernah ke rumah sakit dibekali nasihat bijak ala ayah kepada putranya yang hendak berkelana ke negeri jauh dan ramuan tradisional dari bahan-bahan yang mudah didapatkan di pasar tradisional? Tidak, kan? Perkara obat-obat itu diminum atau tidak, tidak akan dokter tanyakan secara personal di kemudian hari lewat telepon atau bahkan datang ke rumah. Yang penting adalah Anda membayar di kasir sebelum meninggalkan rumah sakit. Obat laku, sponsor senang.

Kedua, alat-alat operasional para dokter spesialis tidak ada yang murah. Dan semakin ke sini, inovasi-inovasi dalam dunia medis tidak habisnya membuat kita berdecak kagum. Avicenna, Bapak Kedokteran Modern, tidak akan pernah menyangka, hampir seribu tahun setelah kematiannya, akan ada sebuah alat operasi berteknologi tinggi yang satu unitnya dihargai… yah sekitar 1 miliar rupiah. Boleh dicicil, boleh beli tunai jika mampu. Konon katanya, alat ini juga tidak bisa dipegang orang tanpa melalui pelatihan tertentu. Sekali operasi, pasien dibebani biaya 20 juta. Hanya untuk operasi mata mikro, dude! Butuh 50 kali operasi untuk balik modal. Tidak di semua kota besar pula ada dokter mata yang memiliki senjata pamungkas satu ini. Maka, jangan main-main dengan mata dan anggota tubuh lainnya. Spare part-nya tidak dijual di minimarket 24 jam.

Kehangatan Pertemanan yang Tulus

Selain kesehatan, apa yang saya anggap juga sebagai rezeki Tuhan yang bisa dimiliki siapa pun adalah teman-teman yang berada di sekeliling kita. Abaikan keluarga, karena ikatan keluarga tidak bisa ditandingi oleh ikatan apa pun. Memiliki teman-teman yang mampu memahami kekurangan kita tanpa syarat adalah faktor X kebahagiaan seseorang. Anda seorang yang mudah bad mood, penderita OCD, ADHD, psycho, suka bicara sendiri, berjalan sambil tidur, dan lainnya, tidak menjadi alasan untuk dijauhi. Bahwa manusia diciptakan dengan perhitungan balancing yang sangat akurat. Ada kelebihan dan kekurangan. Yin dan Yang hanyalah cara manusia mengadaptasi kehebatan Penguasa semesta dalam mengatur alam agar tidak hancur dalam waktu singkat. Manusia dibekali dengan kelebihan lain, yang membuat orang lain menyukai kita.

Di luar sana, ada saja orang-orang yang menjalin pertemanan demi uang. No money, no friends. Atau no honor, no friends. Jangan marah pada dunia jika di masa kejayaan, kita dikelilingi banyak “teman”, tapi begitu jatuh, tiba-tiba dunia menjadi tinggal kita sendirian. Mungkin kita kena karma. Harus menyalahkan siapa? Bukankah itu sebagai imbas dari perbuatan kita sendiri? Tuhan saja tidak sombong, kok situ ngelunjak?

Betapa bahagianya ketika di saat bersedih, ada bahu yang siap kita jadikan tempat bersandar. Ada pelukan—jika Anda tipe orang yang tidak risih dipeluk lawan jenis sekalipun—sekadar memberikan support dan empati. Telinga yang siap mendengarkan cerita kapan pun itu. Semuanya tidak bisa ditukar dengan segenggam berlian.

Sebuah Tabir Raksasa Penutup Aib

Masih ada satu hal lagi yang menurut saya adalah bagian dari pengejawantahan rezeki tak kasatmata Tuhan di muka bumi dan harganya sangat mahal. Berada di urutan ketiga bukan berarti tidak penting. Justru menjadi benang merah dari kesehatan dan teman-teman yang baik.

Kita semua punya atau akan punya aib. Malaikat dan iblis juga pasti. Hanya saja kita tidak ambil pusing dengan kehidupan mereka di alam gaib sana. Aib ibarat tubuh yang telanjang. Di luar perspektif seni tentu saja, tubuh seharusnya ditutupi baik-baik. Jika tidak, orang lain akan bisa tahu. Jika tahu, akan menyukainya atau sebaliknya. Jika keduanya, akan menyebarkannya pada orang lain atau menyimpannya sendiri. Jika menyebarkan sesuatu yang buruk tentang kita yang diketahuinya, urusannya bisa panjang. Aib secara definisinya dalam KBBI, sepertinya seperti yang kita ketahui secara umum. Aib adalah sisi buruk. Noda, cela, blablabla. Kunci dari aib kita adalah mulut kita sendiri. Kita membuka sesuatu yang buruk tentang diri kita sendiri, yang tidak tahu tujuannya untuk apa, tapi orang lain boleh jadi memanfaatkan hal itu untuk menyerang kita, menyerang keluarga kita. Sejauh mana kita mampu menutup mulut dan menahan keinginan untuk menyimpan aib sendiri, tergantung dari kita masing-masing. Sebab boleh jadi, aib itu menjadi sesuatu hal yang ingin kita lupakan. Lalu gagal lupa karena orang lain selalu mengungkit-ungkitnya lagi. Dalam konteks apa pun. Maka begitu benar jika diam itu emas.

Kebocoran aib akan menjadi gangguan serius dalam kesehatan dan pertemanan. Seseorang yang hari ini kita lihat sedemikian sehat walafiat, keesokan harinya dikabarkan jatuh sakit karena rasa gelisah yang semalaman menghantui dirinya. Gangguan psikologis jangan dianggap remeh. Malaikat maut bisa menjadikan gangguan ini sebagai alasan untuk mencabut nyawa manusia.

Maka, hargai tiga hal tadi. Kesehatan, pertemanan yang baik, dan aib yang tertutupi sebagai substitusi rezeki Tuhan yang selama ini hanya dimaknai sebagai uang dan materi. Hey, dunia ini tidak Tuhan ciptakan dari uang, tapi dengan cinta kasih.

Jogja, 1 Desember 2015