Rijsttafel: Dari Status Sosial Hingga Jejak Infiltrasi Kuliner

in Rehal by

Judul               : Rijsttafel

Penulis             : Fadly Rahman

Tebal               : 152 halaman

Penerbit           : Gramedia

Tahun terbit    : 3 November 2016

ISBN               : 978-602-03-3603-9

Siapa yang menyangka bahwa masakan seperti semur dan perkedel yang sering digadang-gadang masyarakat awam kita sebagai masakan tradisional Indonesia ternyata bukanlah masakan asli negara ini? Dan siapa pula yang mengetahui kapan dan bagaimana gaya makan secara prasmanan bisa menjadi budaya makan kita saat ini hingga ke hotel-hotel berbintang? Padahal, makan bersama di tikar secara lesehan, berhadapan dengan hidangan nasi, ikan, dan sambal seadanya, menggunakan lima jari, adalah budaya asli bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga saat ini.

Akan tetapi, kedatangan para penjajah ke Indonesia di masa kolonial lantas sedikit demi sedikit memberikan warna baru bagi budaya asli tersebut. Orang-orang Belanda yang kemudian datang ke tanah koloni dan menetap berupaya membuat diri mereka senyaman mungkin beradaptasi dengan kondisi Indonesia, termasuk soal makanan.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan kuliner Indonesia pada masa itu? Untuk menjawab rasa penasaran ini, Fadly Rahman, seorang sejarawan yang fokus utamanya di bidang sejarah makanan, menghadirkan buku ini sebagai salah satu rujukan yang sangat bagus seputar sejarah kuliner Indonesia.

Salah satu produk hasil adaptasi yang dilakukan di masa kolonial dan menjadi tema sentral pembahasan buku ini adalah Rijsttafel, yang sempat menjadi sangat popular di tahun 1870 hingga 1942.

Rijsttafel adalah sebuah sajian makan nasi dengan hidangan lauk pendampingnya yang disajikan secara eksklusif. Budaya ini seperti budaya makan orang pribumi asli pada umumnya. Bedanya, tempat sajian berpindah dari lesehan ke sebuah meja makan dengan peralatan yang banyak dan mewah. Dari lauk seadanya menjadi hidangan mewah dan lauk-pauk yang sangat beragam. Lauk utama yang terdiri dari daging sapi, ayam atau ikan, sayur dan sup, beragam buah dan salad, hingga aneka sambal dihidangkan dengan sentuhan yang berbeda. Lewat Rijsttafel inilah kemudian masakan Indonesia pertama kalinya mulai dikemas dalam sajian ala Barat dan menjadi sebuah daya tarik wisata kuliner masa kolonial.

Memang benar, Rijsttafel akhirnya mampu mengangkat masakan Indonesia dikenal luas di kalangan bangsa Eropa. Dan benar pula bahwa Rijsttafel berhasil menyatukan dua budaya kuliner yang berbeda menjadi satu kesatuan rasa yang indah. Infiltrasi kuliner yang positif ini bahkan menggiring banyak istri atau wanita terhormat dari Belanda untuk berusaha mempelajari masakan-masakan hidangan Rijsttafel demi beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Pun, generasi keturunan Indo-Belanda kemudian mulai menyusun buku-buku resep masakan dan panduan Rijsttafel bagi ibu rumah tangga demi memenuhi kebutuhan kaum wanita Belanda dan pribumi kala itu. Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa bangsa Barat dan Eropa selalu ingin merasa lebih superior di tanah koloni. Di sinilah letak ironisnya budaya Rijsttafel yang juga dikupas di buku ini.

Selain sejarah munculnya Rijsttafel, Fadly Rahman juga mengangkat isu-isu yang berkembang dari budaya makan tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa semakin mewah dan beragam hidangan Rijsttafel beserta perangkatnya, semakin tampaklah ketinggian status sosial tuan rumah.

Bagi keluarga bangsawan atau pejabat pribumi, budaya ini menjadi sebuah ajang menunjukkan status sosial agar bisa sejajar dengan orang-orang Belanda saat itu. Bagi para pejabat kolonial Belanda, Rijsttafel menjadi sarana untuk semakin mengukuhkan status sosial mereka yang lebih tinggi lagi.

Di dalam Rijsttafel, anggota keluarga atau tamu yang makan akan mengambil posisi duduk di masing-masing kursi mengitari meja makan yang panjang dan lebar. Jika dilakukan dalam skala keluarga saja, Rijsttafel hanya akan dilayani oleh beberapa pelayan rumah si empunya. Tapi, apabila Rijsttafel dilaksanakan dalam tataran formal, bak di sebuah kerajaan, para anggota keluarga atau tamu ini masing-masing akan dilayani oleh banyak sekali pelayan dengan pakaian resminya, bahkan sampai berjumlah puluhan. Ada pelayan-pelayan yang bersiap siaga di dekat meja makan untuk menyiapkan peralatan makan dan minum. Ada pula pelayan yang akan sigap berjalan memutari meja dan kursi sambil membawa mangkuk kaca berisi lauk ketika para tamu memanggilnya dan ingin mencicipi makanan. Saat tak dibutuhkan, para pelayan yang terdiri dari orang pribumi ini akan dengan sabar berdiri, menanti hingga waktu sajian selesai. Sebagaimana perbudakan, seperti itulah ironisnya Rijsttafel bagi rakyat pribumi.

Tapi, terlepas dari permasalahan status sosial itu, Rijsttafel memang merupakan satu dari sekian banyak babak sejarah penting Indonesia yang patut kita perhitungkan. Dari budaya Rijsttafel inilah kemudian hotel-hotel hebat masa kolonial Belanda membuka sayapnya ke dunia internasional dan menarik banyak sekali wisatawan. Bahkan, sampai detik ini pun, sisa-sisa budaya ini masih bisa kita temui di berbagai hotel berbintang dengan layanan buffet-nya, atau budaya prasmanan yang berkembang di masyarakat, juga restoran-restoran yang menyediakan sajian hidangan sejenis Rijsttafel, yang pada akhirnya bangsa ini menyadari bahwa masakan Indonesia, bila dikemas dengan baik, akan menjadi satu daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian dunia.

Tak banyak buku di era modern saat ini yang mengupas sejarah makanan dan budaya makan seperti yang dilakukan oleh Fadly Rahman. Ditulis secara rinci, dilengkapi dengan data dan bibliografi yang luas, bahkan ditambah dengan data aneka resep dan bahan yang digunakan pada budaya Rijsttafel ratusan tahun yang lalu menjadikannya kelebihan tersendiri yang patut kita acungi jempol.

Maka, ketika saya menemukan buku ini di salah satu rak buku, dengan tampilan desain sampul yang cukup klasik dan menawan, saya tak mampu menolak daya pikatnya. Buku ini layak direkomendasikan kepada para pencinta sejarah dan kuliner. Perlulah sesekali bangsa ini menilik sejarah dari sisi yang lain selain pergumulan politik, sebab setiap babak sejarah sebenarnya saling terkait seperti mata rantai. Kau hapuskan yang satu, maka yang lain akan terputus kehilangan jejak. Betapa uniknya sejarah, seunik cita rasa kuliner Indonesia dari masa ke masa.

Evyta Ar.

Evyta Ar.

Penimbun dan penikmat buku, dunia hijau, dan jalan-jalan. Tinggal di Medan.
Evyta Ar.

Latest posts by Evyta Ar. (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.