Riwayat Gagak, Kematian Seorang Lelaki dan Kesucian Iblis, Malaikat, dan Tuhan

in Cerita Pendek by

Dibutuhkan tiga orang untuk mengambil jiwa seorang lelaki

membawanya ke puncak kemaluan dan kemuliaan

membebaskan dirinya dari kehidupan

dan mengantarnya ke liang kubur.

Semua dilakukan agar terlepas

dari berhala-hala karena,

karena setiap jiwa yang dibebaskan

akan menambah kesucian.

 

Gagak 1

 

Lapar itu abadi. Membunuh itu tugas. Memakan mayat dari dalam tubuh yang sudah membeku adalah kewajiban.

Karena kami bertiga tidak sependapat bersemayam dalam satu tubuh, menjadi satu jiwa—karena takut disebut sebagai Tritunggal; Bapa, Putra, dan Roh Kudus—maka kami memutuskan bersemayam dalam diri burung gagak, dengan mata sehitam pekat, darah semerah saga—sedarah, semata—,atau sebening langit biru, akan melakukan penyucian diri demi memuliakan nama kami sebagai utusan dari langit, dari laut, mewakili pohon, batu, angin. Kami adalah Malaikat sekaligus Setan sekaligus Tuhan, tabib sekaligus cenayang.

Bersemayam dalam jiwa kami adalah kudus dan tercela. Mulia dan hina.

Tugas suci kami kali ini adalah membunuh seorang lelaki sombong, yang telah merusak dan merongrong jiwa kami sebagai penguasa; pembunuh yang paling keji dan biadab, yang tak mengenal belas kasih dan pengampunan.

Kami membunuh karena iri. Kami membunuh karena mencintai.

Setiap iri yang lahir dari jiwa yang paling latah akan membakar hasrat, mendorong dan memaksa kami melakukan apa pun, dengan cara apa pun, bahkan anak dan istri atau suami atau pun diri kami menjadi jaminan bahwa kelak akan menghuni kerak neraka, atau jika kelak kami tidak tercatat dalam daftar orang-orang yang dibangkitkan kembali. Siapa tahu kami yang telanjur dilabeli sebagai laknat yang paling jahanam, atau lebih halusnya Setan, dipercayakan memegang kunci surga.

Kami percaya bahwa kitab yang ditulis para nabi adalah sejenis upaya pembohongan agar orang-orang lari dari kehidupan Setan dan memercayai malaikat sebagai pendamping. Cuih!! Karena, sebetulnya, Setan dan Malaikat adalah anak-anak Allah yang diberkahi. Sebab sejak awal mula, Setan atau Malaikat diberkahi dengan berkat yang berkelimpahan hingga amin tak lagi didaraskan.

Suci. Ya, hanya kesucian. Tanpa laknat, tanpa biadab, tanpa amarah dendam, dan tanpa, dan tanpa.

Pula diberkahi dengan segala syirik dan maksiat.

Jahanam. Ya, hanya jahanam. Tanpa kesucian, tanpa kemurnian, tanpa kemuliaan, dan tanpa, dan tanpa.

Pernahkah kaudengar orang-orang mengagungkan Setan? Mungkin kau pernah mendengar kisah semacam ini. Seorang Setan pernah turun dari surga atau neraka berhati Malaikat untuk membujuk manusia di muka bumi menyembahnya selain Yang Kuasa. Tapi kemudian Malaikat mengambil bagian agar manusia yang dibujuk itu tidak jatuh. Diusirlah Setan itu dengan bola-bola api.

Atau kisah Nabi Isa yang dicobai Setan setelah berpuasa selama 40 hari. Mengubah batu menjadi roti; menyuruh Nabi Isa menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah sebab Ia yang bersembunyi di langit ke tujuh akan menyuruh malaikat-Nya menatang tangan mereka agar sang Nabi tidak terantuk pada batu; dan pada sebuah puncak gunung, iblis memperlihatkan semua kerajaan dunia dan kemegahannya dan bersabda akan memberikan kepada Nabi Isa jika Sang Nabi menyembahnya.

Masih sucikah Malaikat?

Masih muliakah Malaikat?

Laknatkah Iblis atau Setan?

Jahanamkah Iblis atau Setan?

Lalu, apa kau akan samakan saya sebagai Yudas Iskariot, yang menjual Sang Guru dengan 30 keping perak? Pikirkan kembali, jika tidak ada Yudas, yang memang sedari awal ditakdirkan menjadi perantara, tidak dipilih, apa akan ada keselamatan umat manusia? Pikirkan, yang digariskan sebagai laknat jahanam tidak selamanya membawa orang pada kebinasaan. Di matamu, Yudas adalah seorang jahanam tapi, perlu kautahu, seorang jahanam yang membawamu pada keselamatan.

            Hidup itu bedebah dan kebatilan, kawan.

Kini, tugas suci ini harus saya selesaikan untuk meningkatkan kemurniaan jiwa saya. Karena, pada akhirnya, saya akan setingkat dengan para Malaikat. Karena saya, oleh teman-teman, dipercayakan mewakili bangsa malaikat. Sedang dua sahabat saya, seorang kami dipercayakan mewakili iblis yang paling jahanam, dan seorang yang lain akan menjadi Tuhan yang Mahamurka dan Mahaadil.

Begitulah. Riwayat perjalanan kami pun dimulai ketika seorang sahabat dengan kegeraman, mata mendelik semerah saga, mulut disepahi sirih pinang, liur yang telah berubah merah tertiris di sudut bibir, mewangsitkan kepada saya agar dalam beberapa hari jiwa lelaki jahanam dan suci itu berpelesir dari raganya. Kami harus menggiringnya ke liang kubur karena batas toleransi hidupnya telah kedaluwarsa.

Malam di ambang lelah, saya mengitari rumah kediamannya sebanyak tujuh kali—ketika itu saya belum menyemayamkan diri dalam tubuh seekor gagak. Prasangka saya meyakini bahwa tidak ada seorang pun bisa melihat rupa wujud saya kecuali sekumpulan anjing yang kerjanya mendengus, menggonggong, melolong, dan sekumpulan kucing mengeong lirih. Saya tidak peduli pada binatang-binatang itu, atau berpikiran buruk. Semua saya sembunyikan rapat-rapat. Di ujung tugas yang baru dimulai ini, saya menyembunyikan akar-akar dan daun-daun yang telah kami ramukan di keempat sudut rumah.

Saya merapal mantra dengan tegas dan tanpa rasa takut, sebab di mata saya terbayang kemenangan, dan kekalahan bagi laki-laki uzur yang bermulut pisau itu. Jiwanya akan kami bawa mengitari kampung, pada tengah malam, sambil mencambuknya hingga lengking suaranya terdengar. Di dalam perjalanan itulah, kami akan membuat semacam perhentian, memanggil ‘orang-orang’ yang mengabdi diri pada kehendak kami, melahap bersama tubuh yang kami bawa itu.

Saya tertawa ketika diberi tahu oleh kawan bahwa lelaki yang kami hadapi bukan sembarang lelaki di kampung ini karena, konon katanya, ia terlahir dari seorang ibu yang ditahbiskan oleh warga pada masa itu sebagai tabib dan seorang ayah yang juga ditahbiskan sebagai cenayang terhebat. Lebih lanjut kawan saya itu berkata bahwa dalam diri lelaki itu ada tabib dan cenayang.

Saya katakan dengan enteng bahwa kematiannya adalah perkara mudah. Membunuhnya ibarat kita mencuil tahi hidung. Bukankah memang dunia sekarang dipenuhi dengan pelaku-pelaku pembunuhan?

Pertanyaan saya tidak digubrisnya. Ia hanya katakan bahwa segalanya harus bersama agar jiwa kita murni. Agar kami sama-sama mencapai kemuliaan.

Maka keesokan harinya, saya berkelana—maksudnya jiwa saya—terbang di atas hamparan laut. Begitu saya melihat seekor gagak menukik tajam ke arah laut, saya mengejar. Saya merasa bahwa dirinya adalah sebuah pesawat tempur dan saya adalah rudal. Gagak itu memang diberkahi dengan penglihatan lebih, ia menyadari kehadiran saya. Ia menambah kecepatan, saya memacu hasrat. Saat mendekat permukaan laut yang tenang, ia menjungkir, terbang rendah di permukaan, saya tidak mau ketinggalan. Saya kejar. Kadang ia ngikik begitu menyadari bahwa saya tertinggal jauh di belakang. Dan, begitu kecepatan mencapai batas maksimun, tubuh kami melebur. Kami menjadi satu. Kami menyatu, melebur dalam cahaya putih yang gemilang.

Kini, saya adalah seekor gagak. Gagak satu. Saya jalankan tugas suci ini agar jiwa saya setingkat dengan para Malaikat.

Saya mulai mengepakkan sayap, terbang menuju rimba karena di sana, kawan saya, sedang memburu seekor gagak yang lain. Mungkin jiwa mereka telah lebur. Mungkin sekali mata gagak itu menyala, karena dalam dirinya bersemayam iblis jahanam yang diberkahi langit.

NB:

Jika kau telah membaca atau mendengar kisah tentang seorang wanita yang menetaskan anak-anaknya dari liang kesuburannya, maka saya ingin katakan lagi bahwa saya adalah salah satu anak yang tidak dituliskan riwayatnya. Dan, memang sejarah tidak berlaku adil atas kehidupan saya. Keturunanan terakhir biasanya dilupakan karena saripati kehidupan sesungguhnya berada di pundak yang awal.

Untuk hal ini, saya berharap, kau tetap menghitung saya sebab jika ada Alfa maka ada Omega.

 

Gagak 2

           

            Maka saya tetap membunuh demi menuntaskan lapar yang tiada pernah berkesudahan.

Terpujilah segala laknat yang menahbiskan dirinya sebagai nabi baru, membunuh tanpa berperikemanusiaan. Memberi seluruh jiwa agar Lilith dikenang kembali, sebagai manusia yang pernah dilahirkan di dunia yang fana ini. Maka, wahai Ibu Lilith yang kami kasihi, ibu yang dilupakan, datanglah bersama roh-roh angin, bersama mata angin-mata angin—dari selatan ke utara, dari timur ke barat—leburlah dalam jiwa ini. Jadikan jiwa ini sebagai laknat yang paling jahanam. Nyalakan api abadi dalam tubuh ini. Pakailah tubuh fana ini untuk kepentingan kita bersama. Segala pasrah tengadah padamu. Total, setotal-totalnya, sebab tiada pengabdian yang lebih purna selain kepadamu, Ibu. Ibu yang telanjur tersemat jahanam dan keras kepala. Ibu yang diam-diam menguntai air matanya menjadi manik-manik yang memancarkan cahaya bara. Ibu yang dari matanya menceritakan kisah pedih tentang lupa.

Wahai Ibu Lilith, bibir latah ini siap dipakai untuk segala firmanmu, untuk segala dahagamu yang belum tersampaikan, agar kau dan kami yang kerdil mampu mengguncang Semesta. Mendengar jeritan yang paling pedih, yang sakit, yang terluka, yang nestapa, erang yang bagai muncul dari binatang terluka, tentunya, setelah itu, kita merayakan kemenangan di atas tangis dan nestapa, mengikik seperti kuda-kuda liar di padang terbuka, bernyanyi dan berdendang ria, menari sambil menunggu berkah yang diturunkan ke kepala kita. Berkah dari surga, berkah dari kerak neraka. Kutuk dari surga, kutuk dari kerak neraka.

Kuasalah diri saya sebagai iblis yang paling jahanam, dengan taring-taring panjang dan tajam, setajam mata elang, nyalakan bara dalam liang mata ini. Rajamlah saya dengan kelaknatan, dan kutuklah saya agar semakin subur dan pandai membaca gelagat agar kesucian malaikat tidak dilahirkan dalam diri saya, tapi songsong saya dengan iblis-iblismu.

Saya senang bukan main karena pada akhirnya bisa melaksanakan tugas suci ini lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, saya membayangkan sebuah kematian yang menyenangkan hati saya. Di alam tak kasatmata, kami akan mendatangi si korban tepat tengah hari, yang pada malamnya jiwanya telah kami gerogoti. Saya ditugaskan membelah perutnya, mengambil usus, lalu dengan usus itu saya lilitkan ke lehernya. Salah seorang akan menekan dadanya sehingga ia (si korban) terlihat bagai kesesakan napas, dan seorang di antara kami akan memegang kakinya sehingga ia tak punya kuasa untuk berontak.

Setiap saya mengencangkan simpul usus pada lehernya, lalu disertai tekanan kawan saya di dada, dan melihat si korban berontak tapi kakinya tak bisa bergerak, kami bertiga akan ngikik. Dan, saat mulutnya menganga seperti ingin mengatakan sesuatu, saya akan meludahi mulutnya dengan sepahan sirih pinang, kawan saya yang menekan perut si sakit berdiri lalu mengarahkan penisnya ke mulut yang terbuka itu lalu ia kencing, dan teman saya yang lain, yang kami percayakan dirinya sebagai Tuhan yang Mahamurka dan Mahaadil, mengarahkan pelirnya, mengocok lalu tersemburlah maninya yang putih kental berlengket itu. Dengan rasa gemas dan hasrat mencintai yang membabi buta, saya menyumbat hidungnya dan membisikkan kata-kata jahanam dan cinta, seperti, tidurlah dalam damai, Tuhan, Malaikat, dan Iblis menyertaimu. Dan, ketika ia berusaha menahan kematiannya agar lebih lama, ditandai dengan mata mendelik, kami akan tertawa terpingkal-pingkal. Melompat ke atas tubuhnya, berguling hingga ranjangnya bergetar. Kami senang memandang matanya yang melotot.

Tepat tindakan ini berlangsung, di bubungan, di langit-langit rumah, kami melihat Tuhan, Malaikat, dan Iblis semringah, lantas saling menyalami satu sama lain. Mereka tampak begitu bersahabat. Mereka terlihat seperti sekumpulan berandal yang tertawa lepas sambil meneguk tuak.

Maka salah seorang mewakili mereka (biasanya Tuhan) akan bersabda kepada kami. Kepada kalian, segala berkat dari surga dan neraka, dari bumi dan langit, dari air dan darat, diberikan segala kesucian untuk menyucikan, diberikan segala jahanam untuk kelaknatan. Terimalah berkat ini, berkah yang akan terus diberikan hingga akhir zaman. Kami menyertai kalian, hari ini, esok, dan selamanya.

Kami akan menjawab dengan kekhidmatan, Amin, ya, segala amin.

Maka salah seorang yang lain akan berujar lagi. Sucilah kalian, mulialah kalian. Jahanamlah kalian, laknatlah kalian.

Setelah mengatakan hal itu, mereka menumpangkan tangan mereka ke atas kepala kami. Cahaya putih menyusup ke dalam diri kami. Cahaya merah menjalar ke tangan dan kaki. Mulut kami disumpal dengan kebaikan dan hujatan.

Usai memberikan tumpangan, mereka melesap menuju nirwana yang telah terkuak tirainya. Di atas sana, di lapis langit ketujuh, kami melihat tiga takhta berdampingan. Semua orang di sana menyambut ketiga orang yang barusan menumpangkan tangan kepada kami dengan khidmat.

Terdengar kidung-kidung didaraskan, haleluya. Amsal-amsalkan dilantunkan, haleluya. Mazmur-mazmur dinyanyikan, haleluya. Mantra-mantra dirapalkan, amin. Ratapan-ratapan dikisahkan, amin.

Setelah semua itu berakhir, seseorang yang mengenakan jubah hitam, kerudung, dengan wajah ditutup kain tipis, memberi sembah kepada Tuhan, Malaikat, dan Iblis yang telah duduk. Setelah itu, seseorang muncul dari belakang, membawa sebuah kitab tebal dan menyerahkan Kitab Kehidupan itu kepada orang yang mengenakan kerudung tadi.

Dibukalah kitab itu, dengan nada lirih penuh haru biru, ia mulai mengisahkah riwayat hidup orang yang sebentar lagi meregang nyawa di tangan kami. Kami tahu, si penutur itu adalah seorang tutu ulun1.

Usai ia mengisahkan, semua orang yang berkumpul dalam ruangan tersebut melemparkan pandangan ke samping. Tergambarlah sesosok yang hendak kami bebaskan. Setelah menyaksikan gambar itu, mereka bertepuk tangan hingga gemuruhnya terdengar di bumi dalam wujud halilintar.

Sucilah iblis.

Mulialah setan.

Laknatlah malaikat.

Jahanamlah malaikat.

Tu, wa, ga, pat,  saking bahagianya, saya hampir lupa menceritakan kepadamu apa yang mesti saya ceritakan sebelum memburu gagak bermata saga. Untuk itu, dengan rendah hati dan restu iblis laknat, saya mohon ampun.

Begini. Kali ini, dalam diri saya bersemayam seorang Iblis. Tugas saya adalah membunuh seorang yang telah kami tentukan bersama. Seperti telah dikatakan teman saya, tugas saya nantinya adalah menekan dada si korban agar ia kehabisan napas. Ini saya lakukan dengan senang hati karena saya akan membebaskan dan memuliakan hidupnya. Saya pun harus berhitung secara cermat setiap dengusan napasnya agar orang-orang, atau sanak kerabat, atau anak dan istrinya tidak mencurigai kematian si korban.

Cara saya seperti ini. Saya menyumbat mulut dan hidungnya dengan tangan kiri dan, dengan tangan yang lain saya tekan dadanya kuat-kuat. Dan, setiap tiga menit saya longgarkan sumbatan dan tekanan. Karena, seperti kami sepakati sebelumnya, bahwa dalam sebuah pembunuhan mesti ada sisi sensasi (yang kami maksudkan adalah sensasi seksual—bagaimana kelamin kami bisa ereksi—dan jika ada wanita, liang gabah purba itu harus berlendir), maka ketika sensasi itu tidak tercapai, pembunuhan kami dikatakan gagal.

Ini sebetulnya rahasia kami. Kedua kawan saya yang dungu itu malu menceritakan hal ini secara terus terang. Kan, itu BODOH AMAT. Saya tidak puas kalau tidak menekankan nada suara pada kata bodoh amat, sebab mereka memang begitu. Memangnya dunia ini tidak tahu? Taik-lah, mereka. Bagaimana  juga mereka merahasiakan, serapat-rapat apa pun, sedalam samudera atau setinggi langit, bahkan sampai ke liang selangkangan yang paling gelap pun, tidak ada rahasia.

Begitu kami melihat si korban menjerit, atau ketakutan, atau tangannya ingin meraih sesuatu di sekitarnya, atau memuntahkan semua nama binatang untuk melaknatkan deritanya, kami tertawa hingga air mata jatuh. Itulah saat-saat kami akan mulai merasa sensasi purbawi itu, yang membuat dada kami lega dan melenakan. Sungguh!

Saya akan membisikkan kalimat yang paling saya senang ke telinganya. Penderitaan itu adalah doa, Kawan. Maka, menderitalah. Kami mendengarmu.

Setelah saya membisikkan kalimat itu, matanya akan mendelik dan mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sebetulnya ia haus. Maka, kami akan memberinya air kencing dan air kehidupan¸ ke dalam mulutnya.

Begitulah cara kami memuliakan sesosok tubuh ketika ia di ambang maut.

Untuk lelaki yang akan kami bebaskan ini, saya menemukan cinta yang membara dalam liang matanya. Cinta yang begitu tulus. Cinta yang meluas dari kebersahajaan. Cinta seorang kebapaan, kepada istri dan anak-anaknya.

Dan, oleh cinta yang melumer bagai tiada pernah berhenti itulah yang menjadi alasan kami membebaskan dan menyucikan jiwanya.

Setelah kawan saya terbang menuju samudera, kini giliran saya terbang ke hutan rimba, mencari seekor gagak bermata saga. Saya pun tidak terlalu kesulitan. Pada kedalaman rimba, saya menemukan seekor gagak dan jiwa saya langsung melebur bersamannya. Kami melebur di antara langit dan bumi. Ia menukik dan saya mengundara, dan kami saling menubruk.

Saya adalah gagak dua. Tugas suci ini harus saya jalankan agar diri saya menjadi setingkat dengan Iblis jahanam.

 

Gagak 3 dan Cincin

 

**

Saya adalah Tuhan Mahaadil. Saya adalah Tuhan Mahamurka.

Sebaiknya kau bersumpah terlebih dahalu. Jangan menghakimi kami (para gagak) sebagai pendongeng, sebab apa yang tertulis, memang benar-benar terjadi. Karena, sejak awal kami bukanlah pendongeng yang baik, atau penipu yang lihai. Dan, berterimakasihlah kepada ingatan karena ia masih menjaga wibawanya.

Pada pundak saya telah diletakkan kuk langit dan bumi, surga dan neraka, suci dan jahanam, Malaikat dan Iblis. Demi saya yang hidup, demi dia yang akan dipermuliaan.

Kini, ia yang sebentar lagi berjalan menuju keabadian, di mata saya ia adalah permaisuri yang harus saya jamu dengan wangi dupa dan kemenyan. Saya memperlakukan dia dengan segala keistimewaan surgawi (karena ia senang dengan segala yang berhubungan dengan surga), tapi setiap perjamuan itu saya sisipkan kebodohan-kebodohan hingga otak mengajak tubuhnya membenci jiwanya.

Karena berdasarkan garis keturunan, ia dan saya masih sedarah—ia si sulung, maka dalam diri saya mengalir cinta dan benci, dendam dan kasih. Dua hal bertolak belakang ini seharusnya tidak  menunas dalam diri saya sebagai pembunuh. Saya tidak bisa menolak. Semua harus terjadi, demi penyucian dirinya, demi melaknatkan dirinya.

Setelah pikir punya pikir, dan pertimbangan bersama istri kelima, saya harus membagikan jiwa saya menjadi dua bagian. Pertama, jiwa saya menyusup ke dalam diri si istri dari sang korban guna memecahbelahkan keluarga utuh mereka. Tugas selanjutnya yang akan saya lakukan adalah mendatangi seorang tabib—menyusup ke dalam tidurnya hingga ia bermimpi—bahwa sang istri korban adalah alasan di balik kematian suaminya. Karena di dalam mimpi itu, saya mengubah wajah menjadi sang istri.  Kedua, jiwa saya yang lain menyusup ke dalam seekor gagak bermata bening. Pada kaki burung gagak akan dipakai sebuah cincin. Sehingga ketika burung gagak yang meregang nyawa terkapar, dan warga menemukan cincin itu melingkar di sana, mereka akan membayangkan sebuah hubungan kedekatan, keterikatan. Bukankah ini adalah rencana pembunuhan yang paling genius di dunia pertenungan? Karena saya adalah Tuhan, yang genius, yang merancang dengan kecermatan tinggi, dan tentu dengan segala pertimbangan. Dalam ilmu tenung, kami kenal dengan sebuah istilah  sakral yang, jika dilafalkan segala kunci terbuka. Demikian, w3q2aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaq23.

Lalu saya harus menulis riwayat saya sendiri. Tentu dengan restu Ibu Semesta dan persetujuan dari Iblis, Malaikat, dan Tuhan. Demikian.

Begitu selesai mengitari kampung sebanyak tujuh kali, dan berkaok-kaok sebanyak 77 kali, kami menukik tajam menuju kampung ini. Kami bertiga hinggap di seng rumah si korban, berpekik dengan lengking yang paling menyayat, sendu, nelangsa.

Karena kami sudah tahu bahwa akan ada dua orang datang membidik kami dengan katapel, kami terbang rendah dan singgah ke rumah sebelah. Dua orang berkatapel berusaha mencari cela, tapi kami akan mengambil salah satu sudut agar tidak ada kemungkinan mereka membidik.

Lalu kami terbang lagi, ke rumah sebelah. Kedua kawan saya akan terbang jauh, dan membiarkan saya sendirian. Di saat itulah, saya akan mencari celah, tempat terbuka, sambil berpura-pura seperti tidak melihat si penembak. Tepat saat itu, ia akan memanfaatkan keadaan itu untuk membunuh saya. Ketika mati, saya membebaskan jiwa dari bangkai itu, lalu kembali ke tubuh asli saya. Begitulah rencana dan riwayat kematian saya sebagai Tuhan.

Terpujilah Malaikat.

Terpujilah Iblis.

Laknatlah Malaikat.

Laknatlah Iblis.

Maka saya hanya perlu mengirimkan aroma kematian, seekor gagar terbang mencari saya dan meminta agar jiwa saya melebur dalam dirinya. Karena setiap gagak yang pernah melebur bersama jiwa Tuhan, saatnya nanti, akan mengalami reinkarnasi menjadi sebatang beringin.

**

Dalam pandanganmu, mungkin kau akan katakan bahwa diri saya ditempa dari tembaga atau emas. Atau bahan logam lain. Tidak. Sama sekali tidak. Saya dilahirkan, dari percikan api neraka dan semburan air surga, lalu diperam langit. Bukan diadakan. Sebab, sejak awal saya punya sejarah sendiri.

Saya dipakai sebagai alasan untuk mengikat. Karena hidup itu pada hakikatnya memberi, maka dengan segala keluasan saya memberi hidup yang abadi ini. Dari dulu, sejak saya dipakai pertama kali, segala kebaikan dan keburukan tentang saya sering keluar dari mulut orang-orang. Saya dipuja sebagai pengikat, tapi pada akhirnya saya dicampakkan karena pengkhianatan. Padahal, sebetulnya, merekalah pengkhianat sesama.

“…, terimalah cincin sebagai lambang kesetiaan dan cinta saya padamu.”

Kalimat itu menggelikan sekali setiap mereka saling berkomitmen di depan altar. Saya tahu perilaku mereka. Saya melingkar di jari manis hanya sebagai formalitas belaka. Taik!

Dan, saya sudah memikirkan masak-masak, kemungkinan besar, saya akan melepaskan jiwa saya dari jari manis para suami dan istri. Sebagian memang sudah saya lakukan. Lihatlah, keluarga mulai berantakan. Suami meninggalkan istri dan menggagahi  perempuan lain. Wanita mencari nyaman pada hati yang lain. Hilang kepercayaan, cemburu. Perselingkuhan. Saya yakin, kau pasti bisa menghitung seberapa banyak orang yang masih bersetia.

Maka ketika menerima tugas ini, saya merasa begitu dekat pada kesempurnaan. Saya merasa bahwa jiwa saya akan dikembalikan ke muasal. Tugas saya selesai. Saya tidak ingin lagi mengembara dari satu jari ke jari lain.

Ketika burung itu mati, dan orang menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa telah terjadi, pelan-pelan, mungkin pelan sekali, saya menyusup ke dalam jiwa mereka yang begitu rapuh, lalu membisikkan pesan panjang yang terangkum dalam kalimat pendek semacam ini. Pengkhianatan begitu dekat dengan cinta.

Apa peduli saya pada kehidupan, sementara di luar diri saya begitu banyak yang seperti tidak saling peduli. Padahal saya memang dilahirkan untuk mengikat agar segala sesuatu itu bisa abadi.

Kalau dulu, dalam diam, saya bicara panjang-panjang tapi, kini, saya merasa itu percuma saja. Orang-orang pada menulikan telinga dan membutakan mata.

Maka, baiklah. Dengan restu Dewa Kebinasaan saya siap menjalankan tugas sebagai jahanam untuk menuntaskan semua hasrat mereka. Saya tidak mau ada jiwa murni dan suci, atau kebaikan-kebaikan menyusup ke dalam jiwa saya, sebab setelah semua saya lalui, dan melihat bagaimana dicampak, saya merasa jauh lebih merdeka jika kelaknatan menyertai saya.

Sebelum ia menyematkan saya pada kaki burung berbulu gelap itu, saya memandang ke langit dan berteriak nyaring sekali. Saya menyerapahi langit karena ia mencintai saya. Dan, saya sungguh mencintainya karena telah menyadarkan saya.

Wahai langit yang diberkahi dengan kebiadaban, serapahi saya dengan kelaknatan yang paling jahanam. Kirimlah kegelapan-kegelapan dalam diri saya. Sendengkan telingamu dan  janganlah berpaling dari permintaan saya. Biarkan saya berpesta pora agar yang mati kembali dibangkitkan. Yang hidup dilenyapkan.

Wahaiiiiii penghuni langit, laut, tanah, bangunlah dari kegelapan. Bangunlah. Songsonglah jiwa saya, antar ke liang kubur sebab saya ingin merasakan lembab tanah.

Setelah itu saya mendengar koor yang menyanyikan lagu rekuiem dari arah langit. Mendengar sangkakala ditiup dan harpa dipetik. Sungguh, sungguh, saya sungguh merasa terharu. Dada saya mencair. Lega sekali.

Gagak 1, Gagak 2, dan Gagak 3

 

Kami adalah satu, tapi dalam rupa tiga roh. Roh Tuhan, Roh Malaikat, Roh Iblis. Berhenti! Tunggu dulu. Kami saling menghardik, mengingatkan.

“Bukankah Roh tidak berupa?” tanya Gagak 1.

“Siapa peduli dengan nama itu?” Gagak 3 bersuara.

“Kalau begitu buat apa kita memikirkan nama?” tanya Gagak 1.

“Nama tidak lagi penting.” Gagak 3 menambah.

Betul juga. Xxx Tuhan, Xxx Malaikat, Xxx Iblis, pun tak masalah. Kami lantas tertawa ketika salah seorang menyebut tripel x. Itu mengingatkan kami pada kebiasaan kami yang sering menonton video porno.

Kami pun menjalankan tugas sebagai pembunuh suci. Kami saling berbisik mengutip ayat Kitab Suci, untuk meyakinkan bahwa yang kami hadapi hanyalah seorang yang tak punya kekuatan.

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari embusan napas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?2

Maka kami akan menjawab dengan lantang, tanpa beban. Daun, ya, daun.

Kami sendiri tidak tahu bagaimana awalnya kami menganggap orang yang kami tenung sebagai daun. Ketika kami berusaha mencari hubungan sebab akibat antara manusia dan daun, kami anggap usaha kami hanyalah pekerjaan tolol, sia-sia, dan dungu. Kenapa harus dihubungkan? Apa begitu penting untuk kami selain membunuh yang adalah menjalankan tugas suci itu?

Bekali-kali kami meyakinkan diri bahwa kami adalah kumpulan cenayang yang genius. Kami bisa menjadi apa saja sebab kami adalah anak terbuang, yang tidak terhitung, dan oleh sejarah dilupakan. Mereka melupakan dan tidak menghitung kami sebagai anak Ibu Laut, karena dalam diri kami bersemayam Ibu Lilith.

Wahai Ibu Lilith yang kami permuliakan dan melaknati, datanglah, bergabung bersama kami. Mari kita rayakan kemenangan, sebab namamu akan terangkat kembali. Karena, sesungguhnya, Ibu pantas mendapat singgasana, dimahkotai, dan memakai jubah kebesaran. Engkau layak menerima puja-puji, hormat, dan kuasa. Kudus, kuduslah engkau. Laknat, laknatlah engkau.

Kami berjanji, padamu segala tunduk hormat akan diarahkan. Namamu akan diangkat dan dikenang sebagai yang pertama.

Jerih payah akan dilunaskan dengan tercantumnya namamu dalam kitab-kitab yang selama ini kami anggap suci.

Engkau akan dimateraikan dengan darah, dimuliakan dengan kematian, ditahirkan dengan pengabdian, diangkat dengan rekuiem-rekuiem, dimegahkan dengan sangkakala, dipestakan dengan piala air mata.

Sebelum kami melangkah, kiranya engkau menumpangkan tanganmu. Bisiklah keinginanmu yang mungkin luput dari pengetahuan kami. Tajamkan mulut kami setajam tombak algojo yang menikam lambung Sang Isa.

Setelah berkata demikian, kami merasa jiwa kami betul-betul bersih dan siap dipakai. Tak ada lagi ampunan, tak ada lagi kelunakan. Semua akan terjadi. Itu pasti. Ya, pasti.

Dalam dunia tak kasatmata, kami melangkah menuju rumah lelaki itu. Maka ketika masuklah kami melalui pintu depan, ia menangis bagai ketakutan. Istri dan anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya istri dan anak-anaknya, tanpa sanak keluarga yang lain. Memang inilah yang kami inginkan sejak awal, bahwa kami menceraiberaikan agar ketika ia meregang nyawa tak seorang pun menyaksikan itu kecuali anggota keluarga inti. Karena, sudah kami susupkan kebencian dalam diri mereka.

Kami melompat dengan gaya jaipong, ngikik, melototkan mata, menjulurkan lidah. Dan, pada puncaknya kami mengumpat dengan semua pembendaharaan kata serapah dan laknat yang dimiliki semua bangsa, suku, dan ras.

Ia berbaring di atas tempat tidur dengan tatapan hampa. Ia menerawang begitu jauh. Kami tahu, jiwanya sedang melihat kematiannya.

Salah seorang dari kami memungut seekor cecak dan memasukkan cecak itu ke dalam mulut lelaki tak berdaya itu. Ia berontak, begitu salah seorang dari kami menyumbat hidungnya.

Selanjutnya kami melakukan tugas kami masing-masing sebagaimana telah kami ceritakan.

Sang Eksekutor dan Katapel

 

**

Dalam diri saya bersemayan dua jiwa sekaligus, seorang algojo dan gladiator. Saya tidak melengkapi diri dengan tameng, pedang, tombak. Apalah perlu semua itu jika dalam diri ada perbudakan? Saya merdeka, karena itu saya tidak memerlukan perlengkapan itu. Kali ini saya hanya memerlukan sebuah katapel untuk mengeksekusi seekor gagak yang, menurut saya, sungguh meresahkan warga. Yang bagai mengisahkan cerita kelam. Saya kira ia mengambil jiwa dadi3. Saya menduga kuat ia adalah jelmaan iblis jahanam. Toh, jika misalkan dalam dirinya juga bersemayam Roh Tuhan, Penguasa Langit dan Bumi—karena ia juga merupakan ciptaan Tuhan atau karena ia terlahir dari sabda lewat sebuah tiupan—saya tetap katakan ia adalah iblis.

Sungguh, ini baru pertama terjadi di kampung ini sejak warga menghuni tahun 1981. Tiga ekor gagak mengikari kampung, berkoak-koak. Jiwa membunuh saya yang sebetulnya sudah tertidur, terbangun kembali, dan bagai memanggil saya untuk segera menuntaskan hasrat itu. Cara terbaik hanyalah membunuh karena, kalau tidak, rasanya kepala saya dipenuhi banyangan kelam, hitam, dan pekat. Saya tidak bisa tenang, bahkan dalam tidur, saya bermimpi dikejar hasrat itu.

Betul juga seperti kata orang, ketika seseorang memiliki hasrat dan tidak mendapatkannya, seumur hidupnya jadi gila untuk mengejarnya. Saya bisa gila jika tidak  mencapai hasrat itu. Hasrat saya betul-betul melewah. Saya harus membunuh binatang itu.

Jiwa membunuh saya sudah ada sejak saya masih muda. Dalam diri saya mengalir darah pemburu. Sudah ratusan babi hutan meregang nyawa di tangan saya.  Ribuan kera. Jutaan burung.

Walaupun saya bukan pembunuh brongot4 seperti seorang tetua di kampung ini, yang sudah melintang buana, saya percaya bahwa saya bisa membunuh seorang cenayang. Dan, jika dalam diri burung itu bersemayam jiwa seorang cenayang, maka saya tahu apa yang mesti dibuat.

Saya melumuri katapel dengan sepahan sirih pinang, yang sudah saya campur dengan akar bahar. Saya melafalkan mantra lalu menengadah ke langit. Inilah rahasianya. Dengan sepahan sirih pinang saya meminta restu leluhur, Nitun Lolon, (yang mewakili kehidupan di darat), dengan mengunyah secuil akar bahar saya meminta restu dari Harin Botan, sekeriap yang hidup dalam laut (yang mewakili kehidupan di laut), dan dengan merapalkan mantra saya meminta restu dari langit.

Jika permohonan saya mendapat restu dari leluhur, Nitun Lolon, Harin Botan, dan Tuhan, alam akan bekerja sama membantu saya mewujudkan hasrat besar ini. Alam tidak akan mengirimkan angin untuk menggoyangkan dahan-dahan. Hujan tidak mungkin turun mengaburkan pandangan.

Dan, semua berjalan sesuai dengan rencana. Alam menjulurkan tangannya, merestui. Amin, amin, amin.

Apa perlu saya menceritakan bagaimana kronologi saya mengeksekusi seekor gagak? Saya kira, seekor gagak pun bisa menceritakan riwayat kematiaannya. Bahkan mungkin ia lebih baik dari saya. Ia bisa jadi pendongeng yang baik, ya, semua itu hanya untuk menutup riwayat kelam tentangnya yang sudah telanjur mendapat predikat cenayang.

Jadi, saya hanya perlu menceritakan bagaimana batin saya.

Saya berdoa. Ah, tepatnya saya tidak berdoa karena saya jarang beribadah. Lebih tepatnya merapalkan mantra agar jiwa saya menjadi murni. Karena, seperti kata orang, yang bisa membunuh seorang cenayang haruslah memiliki jiwa yang murni agar bisa menembus sihir-sihir yang menjadi tameng mereka.

Begitu selesai saya merasa sangat ringan. Langkah saya begitu gontai, lepas bebas. Bahkan saya merasa telah berubah menjadi kapas. Segala rasa sesak bagai pupus. Semua menjadi lebih benderang. Saya bagai dilanda kasmaran. Ya, kasmaran pada pembunuhan.

Saya menunggu kehadirannya.

Ia datang di hadapan saya. Menyerahkan diri.

Saya menyambutnya dengan wajah semringah.

Selamat datang kematian, bisik saya.

Ia menatap saya, mengangguk, seperti ingin mengatakan, lakukan sekarang.

Saya melihat isi otaknya memburai.

**

Saya bukan katapel yang dipakai oleh Daud saat berhadapan dengan Goliat pemimpin Bangsa Filistin. Saya tidak dilahirkan, tapi diadakan oleh seseorang. Sesosok lelaki yang celaka. Memang awalnya ia membuat saya bukan untuk membunuh si gagak. Tapi, saya dipakainya untuk membidik dan melontarkan batu ke arah kera saat berburu.

Maka, saat menerima tugas suci ini, saya merasa akan memberikan sesuatu yang berarti untuk kehidupan manusia.

Terpujilah kayu yang telah menunaskan dahan bercabang yang dipakai untuk mengikat kedua ujungnya dengan karet, terpujilah karet yang telah dipakai untuk bisa mengikat pada ujungmu dengan kulit, terpujilah kulit yang dipakai untuk melontarkan batu, dan terpujilah batu yang dipakai untuk bahan melontar.

Kata-kata memang sulit keluar dari mulut saya, tapi sekiranya kau percaya bahwa di dunia ini segala sesuatu dimungkinkan. Maksudnya, dimungkinkan untuk diceritakan dan menceritakan dirinya sendiri.

Maka ketika saya diberi kesempatan menceritakan sebuah kejadian dan saya terlibat di dalamnya, saya merasa terhormat sekali. Apalagi menerima tugas suci ini—menghabisi riwayat hidup seekor gagak. Karena itu, saya berjanji, akan memberikan yang terbaik, tidak memelesetkan lontaran batu dari kepala burung laknat itu.

Saya renjana bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan harapan. Sekalipun, mungkin di mata sebagian orang, ini tindakan ekstrem karena akan mendatangkan mala petaka bagi si penembak, membunuh seekor gagak adalah jalan terbaik. Saya tetap mendoakan yang terbaik untuk sang eksekutor. Mendoakan keselamatannya, anak dan istrinya.

Jika kemudian ia mendapat kutuk, saya bersedia kutuk itu dilimpahkan kepada saya.

Sang Pemenang

 

Kami adalah jiwa dengan rupa-rupa karunia.

Mengertikah kau akan hal ini? Siapakah sesungguhnya lebih mulia, Iblis, Malaikat, atau Tuhan. Para gagak menunggu jawabanmu pada hari ke-666, saat matahari begitu dekat dengan bumi, sebelum kalian sama-sama hangus dalam tiada.

O, Dewa Api, datanglah, binasakan tubuh fana ini, remukkan jiwa latah ini. Jangan biarkan kegelapan melampui kodratnya. Tapi, jika engkau tak berkenan, biarkan semua tetap dalam bara, tetap mendongakkan kepala, tanpa harus tunduk pada dunia ini. Jika diperbudakkan, maka jadilah perbudakan tapi, jika ada kebebasan, maka jadilah kebebasan.

O, Dewa Air, datanglah, padamkan bara, alirkan ketenangan dalam tubuh ini. Kuasalah diri dengan ketenangan. Tapi, jika engkau tak berkenan, biarkan semuanya seperti ini. Korban dan tak berkorban, dunia tetap seperti ini.

Wahai Nitun Lolon, rasuklah jiwa ini agar tanah tetap disembah. Wahai Harin Botan, kuasalah jiwa ini agar sembah tetap terarah ke laut.

Iblis, Malaikat, dan Tuhan, rupanya sedang berperang. Damailah. Damai di bumi dan di langit.

Pada saatnya, Iblis bisa jadi lebih baik dari Malaikat dan Tuhan, dan Malaikat bisa lebih laknat dari Iblis dan Tuhan, dan Tuhan bisa lebih jahanam dari Iblis dan Malaikat, dan lebih baik dari Malaikat dan Iblis.

Terpujilah dedemit, danyang, demon, genderuwo, hantu, iblis, leak, lelembut, memedi, momok, pejajaran, popokan, puaka, roh jahat, siluman.

Terpujilah mambang yang kuning, yang merah, yang hitam, yang jingga, yang abu, yang biru, yang hijau. Terpujilah.

 

Terpujilah jika percaya kembali terbit. Terpujilah bila semua mengelus dada. Terpujilah.

 

Waimana 1, Desember 2017

Catatan:

  1. Orang yang ditugaskan atau merasa terpanggil untuk meratap sambil mengisahkan riwayat hidup orang yang meninggal.
  2. Kitab Yesaya, Bab 2: 22.
  3. Istilah untuk menyebutkan pencuri jagung yang menunggang babi.
Jemmy Piran

Jemmy Piran

Lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Beberapa tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa koran seperti Media Indonesia, Suara Karya, Tabloid Nova, Sinar Harapan, Solopos, Radar Surabaya, Banjarmasin Pos, Riau Pos, Rakyat Sultra, Pos Kupang. Kini, tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Jemmy Piran