Riwayat Perasaan Kelamin dalam Karma; Puisi Kardanis Mudawi Jaya (Bali)

in Puisi by
Riwayat Perasaan Kelamin dalam Karma
Sumber gambar trendhunterstatic.com
Riwayat Perasaan Kelamin dalam Karma

Ia sedang mencari perasannya baik baik
sebab tak ditemukan dalam pakaian yang dikenakan.
Ia kemudian bercermin pada daun daun yang melayang
di depan matanyakemudian diam begitu saja
sambil mengenang bibirnya yang tinggalkan jejak
di sana ada kata kata menempel

membuat jalan ketika langit dibukakan.

Begitu jauh bagi seorang binatang malam menduga
tapi dilihat terus bintang bintang
sudah jauh terbang
sudah jauh menghilangkan diri untuk tak kembali
hanya menyapa dengan cahayanya dari kejauhan.

Ia sedang mencari perasannya baik baik
sebab tak ditemukanya dalam pakaian yang dikenakan
ketika bayangan tubuh berkepala hitam menuntun

; mungkin kehilangan wajah

sebab menghitamkan diri.

Kemudian sebuah jejak tak terpecahkan
dalam malam malam yang dirapal
sebagai jalan di mana kesepian harus dibunuh

; kelaminnya di gantung
sebagai rangkaian sumpah diri

; untuk sebuah karma.

Ia sedang mencari perasannya baik baik

yang tak ditemukanya dalam pakaian yang dikenakan.

Mungkin lupa
perasaan dan kelaminnya di sembunyikan ke dalam karma.

Entah.

 

 

Suara Panggilan dari Kampung

Aku ingin pulang berkali kali
menyambut sanganan hati
dalam pesilaan pesilaan perjamuan
hari hari besar yang di rindukan
menikmati berkah
sambil khusuk berziarah

nikmati berkah

bersama dalam lautan zikir
mengumandangkan al barzanzi
terlena di hikayat yang dibacakan

berkali kali.

Salam kepada yang terdahulu
Takzim doa para tuan guru
Hikmat jamaah
Tumpah serta anak anak mengamini
bergembira memenuhi seluruh batin.

Aku ingin pulang berkali kali
berseru pada jajaran pohon pohon

bersalaman

memasuki rumah rumah ibadah
mengutarakan sepenuh jiwa

jalan silaturahim
batin penguat rasa cinta.

Demi rumah yang megah berdiri
berdasar batu batu lahar yang abadi
aku merindukan panggilan

meminta keselamatan

dari bising dan keriuhan.

Mungkin
kesetiaan lekat
Di mana kesadaran menggugah
melenyap hilang
bersama mata mata kecil
Sumber mata air yang bening mengalir kencang.

 

 

Ada Suara Pecah di Kepalaku

Pohon pohon akar kuat telah banyak yang hilang. Di tanah tanah tandus
Pohon pohon muda tumbuh. Tak rindang
Seperti juga tak elok dipandang. Sebab carangnya kehilangan daun
Yang menuntun memasuki rindang rumah sembahyang.

Seperti aku kehilangan telaga kecil yang dikubur. Sumber air
Pembasuh badan. Serta tembok tembok rupa yang membatin
Perkawinan tradisi timur barat.Gapura tradisi tanah dewata
Hanya menjadi ingatan dari warna yang tak tersisakan.

Tampakmenara menara. Dengan corong corong tersembunyi
Menggumam ke langit. Membenturkan suara suara kaset
Membenturkan khotbah khotbahperasaan sakit. Memecah
Genderang telinga. Ke kedalaman dada tak bisa lagi dicerna
Dengan degup riuh. Mencari segala maha dari jalan lurus
Maha segala masa kebaikan menujuMu. Menjelma keriuhan
Dari sesungguhnya zikir perjalanan sunyi.

Seperti burung membawa matanya yang kecil.Jatuh menabrak kaca
Mengira ruang luas tembus pandang. Sebuah jalan lurus tak terang
sebab murung melihat mataharitak benderang dalam diri berdiri.

Selepas jauh pergi. Mencari kesungguhan dari pemandangan terang
Ke kebun kebun mengangon masa silam. Di bawah pohon asam
masih mendengungkan syair dalam hikayat tua.

Ada suara suara panggilan pecah. Mengusik mata telinga
Dari penjuru mata angin. Corong corong toa membentur
Di bawah menara. Orang orang asik berlalu lalang
Asik dengan teriakan sendiri. Anak anak mengajiasik
Suaranya ditancapkan ke langit. Aku hilang tangkapan
Begitu suara pecah membentur. Seperti perlombaan
Mengadu kekuatanvolume. Mengarahkan ke rumah kasih
Menyerukan segala rindu. Membuat aku termangu
Seperti Tuhan tak mendengar di panggil dan dipuja. Aku berlari
Melihat batinkutercemar. Bayangan ingkar mengimani
Aku berlari mencari Tuhanku sendiri. Sambil menyudutkan bagian
Dari rasa cintabersama datang dari kebaikan yang ada di dada dan kepala.

Di bawah menara aku bernyanyi. Menyanyikan suara hati
Menjelma burung pipit yang sendiri. Terbang mencari pohon pohon teduh
Mengeja buah buah yang bergantung. Mengeja daun daun dimainkan angin
Mendengar suara yang kuat ke langit. Melihat merpati terbang ke biru langit
Sayapnya lepas membawa suara. Tubuhnya terpaggang melihat bukan matahari
Di kepala menguat kerasair matanya terseduh diminum udara.

 

 

Cahaya Nyanyian

Suaramukah yang dibungkus sunyi
lalu lepas hanyutkan ingatan dingin.

Fajar telah lepas disambut duha
duha terpotong dengan gerakan
yang menyamarkan bayang bayang
maka seluruh rindu itu

nyanyian pertama

selepas minggu.

tapi bibir pagiku tak pernah ragu
mencumbu
kekasih biarkan segala lelah malam

mendekam

di mana jejak telah menghafal
bagian mana ruang bergerak
menjemukan
ini minggu
dilahirkan sebab rasa lelah
lalu menuju senin dalam tumpukan
selasa dihanyutkan rasa gagu

serta gumam selepas rabu

meradang di rabu
hari kamis aku janjikan susunan rasa
manis menuju sabtu
di mana tanpa melepas jumat
yang telah aku rawat
sebagai jalan syahadat.
Hari minggu, ahad hari pertama
adalah mengajakmu bercumbu

dan bercinta.

selanjutnya
biarkan cahaya memainkan lagunya
seperti hari hari yang bebas
mau dinamakan hari hari apa saja
sebab hidup itu menyanyikan lagu cinta.

 

 

Secuil Cahaya

Hidup mengajarkan menengok kelahiran
Cahaya yang sunyi merangkak dengan sendiri untuk berdiri
Tidak serupa lampu lampu di jalan dengan warna mewah berdiri angkuh
Tampak indah gagah tapi memiliki masa untuk menuju ajalnya.

 

 

Catatan Iseng

kepada Adolf Tapilatu

Dia si Papua berambut Gimbal
sempat terbaring badannya menggigil demam
kemudian aku yang awut awutan menoleh dari pintu
menyapa;
“kau sakit kawan?”
katanya, “badanku demam.”

Tanganku yang keras meremas habis tubuhnya
dia tidak minum obat penurun demam
besok ia mau berdoa ke gereja
kemudian akan demo bersama mahasiswa.

Aku merekayasa pengobatan
si Papua yang mirip wajahnya Muamar Khadafi
kuberi segelas air putih
kujampi jampikan ayat kursi 7kali
“puahh”

Esok hari tubuhnya segar bugar
dengan suara menggelegar
katanya dengan tertawa lebar
“manjur sekali air jampi jampimu,kawan!”

Aku bodoh saja melengos
sambil tersenyum mengingatkan
; karena kau percaya padaku
aku sih percaya saja pada katamu
padahal setiap hari kita disakiti
oleh ketakadilan negeri ini
dan di hati hati manusia beriman
untuk tetap berbakti melaksanakan ibadah hati
mati matian untuk tetap berdiri sehat
sehati disebuah negeri
yang sesekali bisa diadu domba
untuk saling menyakiti.

 

 

Kwatrin Kelahiran dan Kepergian

Tempatmu hanyalah milikmu
Aku hanya sempat menjaga
Dan sedikit menumbuhkan cinta
Kemudian pergi selamanya.

Mungkin sedikit bunga kubawa
Untuk harum diri sambil mewarnai mata
Sebagai jalan mataair kembali pulang
Menuruni lembah tanah asing paling basah.

Kardanis Mudawi Jaya

Kardanis Mudawi Jaya

Penyair dan aktor teater yang lahir pada tahun 1974. Pernah aktif dalam Teater Got Denpasar dan terlibat dalam sejumlah pementasan di beberapa tempat di Bali. Bersama kelompok SatuKosongDelapan memainkan naskah Death of A Salesman (2004) di Taman Ismail Marzuki dalam acara Panggung Teater Realis Indonesia. Puisi-puisinya sudah masuk dalam beberapa antologi puisi, di antaranya: Tuhan Langit Begitu Kosong, Maha Duka Aceh, Roh dari Para Penyair Bali, Jogja 5,9 Skala Rithcer.
Kini tinggal di Denpasar, Bali.
Kardanis Mudawi Jaya

Latest posts by Kardanis Mudawi Jaya (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com