Roh Kehidupan

in Tajalli by

Kehidupan paling bermutu di alam semesta ini adalah pada masa Rasulullah Saw. Pandangan dan penilaian ini tentu saja menghablur dari paradigma sufisme di mana segala kemajuan dan kemunduran hidup semata diukur dan ditentukan oleh frekuensi dan denyut spiritualitas yang sedang berlangsung pada suatu babakan kehidupan. Bukan terutama ditentukan oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagaimana yang sedang berdentam-dentam hari ini. Sama sekali bukan. Itulah sebabnya kenapa dalam salah satu sabdanya beliau menyebut generasi di masanya sebagai sebaik-baik generasi (خير القرون قرني).

Sedang perumpamaan kehidupan sebelum kehadiran beliau ke kancah alam semesta ini adalah laksana jasad yang terbentuk secara sempurna namun belum disemayami oleh roh yang merupakan identitasnya yang paling fundamental. Betul-betul jauh jarak perbandingan antara kehidupan yang “dikomandani” oleh tuan dari seluruh nabi itu dengan kehidupan sebelum kehadiran atau setelah wafat beliau.

Akan tetapi tidak bisa lantas dipahami secara saklek bahwa kehidupan pada sebelum dan sesudah kehadiran beliau di muka bumi ini sama sekali tanpa keterlibatan cahaya rohani beliau. Tidak. Karena cahaya petunjuk yang dikandung oleh para nabi tak lain merupakan bagian dari cahaya petunjuk beliau. Sebuah metafora yang sangat estetis didedahkan dalam kitab al-Burdah karya Imam al-Bushiri tentang keterhubungan spiritualitas mereka dengan beliau: “Semua nabi yang lain hanyalah mengambil seciduk dari samudra beliau, atau hanya setetes hujan dari seluruh hujan yang pernah mengguyur bumi.”

Demikian pula kehidupan setelah beliau wafat. Spiritualitas beliau senantiasa menggema dan bertalu-talu di dalam kehidupan dan sepak terjang para wali. Tentu saja dengan porsi yang tidak akan mungkin sama persis dengan spiritualitas yang dikandung dan dipijarkan oleh beliau kepada umat manusia dengan penuh ketulusan, cinta dan kasih-sayang. Sebab wadah rohani mereka tak mungkin setangguh dan seluas wadah rohani beliau. Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi, guru rohani dari Maulana Jalaluddin Rumi, menggambarkan dengan telak dan tandas tentang perbandingan itu: “Ketahuilah bahwa wadah rohani para wali adalah cangkir-cangkir kecil di hadapan wadah rohani Nabi Muhammad Saw. yang laksana samudera.”

Setelah beliau wafat, alam semesta dirundung duka. Keberadaannya laksana orang yang sedang tidur. Kesadarannya meredup. Tinggal bawah sadarnya yang kadang bergerak ke sana kemari. Menjenguk hari-hari yang berlalu di mana tetumbuhan dan aneka taman bunga rohani begitu rindang dan senantiasa mengembuskan wewangian kepada siapa pun yang menerimanya dengan senang hati dan kebak ketulusan. Juga menggapai-gapai berbagai bongkahan hari-hari yang semakin kelam dan tidak menentu pada masa yang akan datang.

Sekarang ini kita berarti sedang berada pada kehidupan semesta yang sedang tidur. Hanya sebagian kecil dari penghuninya yang sungguh bangun secara rohani. Selebihnya bahkan mendengkur sebagaimana sapi yang sedang disembelih. Mereka dikepung oleh mimpi sialan yang terlampau “indah” tentang kehidupan yang sesungguhnya fana, kelam, dan penuh dengan berbagai macam penderitaan ini, juga sama sekali tidak pantas untuk diagungkan dan dijadikan tempat balasan bagi amal kebaikan orang-orang yang beriman.

“Kebanyakan manusia itu tidur. Dan apabila mereka mati, baru kemudian mereka bangun,” sabda Nabi Muhammad Saw. Sudah dapat dipastikan bahwa yang dimaksud tidur pada hadis di atas tak lain adalah redup atau bahkan kelamnya kesadaran rohani kebanyakan umat manusia. Redup atau kekelaman rohani itu disebabkan oleh kuatnya kesenangan dan hasrat yang menggebu kepada segala sesuatu yang artifisial dan sama sekali tidak memiliki orientasi apa pun terhadap Allah Ta’ala. Nafsu mereka hidup. Sementara rohani mereka pingsan atau malah mati.

Hanya ketika nafsu mereka telah mati kepada siapa atau apa pun yang selain hadiratNya, maka rohani mereka akan betul-betul bangkit dan menyala. Jadi, yang dimaksud mati pada hadis di atas bisa menunjuk kepada dua kondisi. Yakni, kematian secara harfiah ketika ajal datang menjemput dan kematian damba pada segala yang selainNya.

Semoga rohani kita senantiasa menyala dan perjalanan kita murni dinakhodai oleh Allah Ta’ala. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)