Rumah Tutup

in Cerita Pendek by
In the House of My Father 1996-7 Donald Rodney 1961-1998 Presented by the Patrons of New Art (Special Purchase Fund) 2001 http://www.tate.org.uk/art/work/P78529
tate.org.uk

Sikin menutup selangkangannya yang mulai membengkak. Gambar wanita berdada besar di dekat dermaga seakan menantangnya berkali-kali. Diperhatikannya wajah Ona, anaknya, yang juga mengarahkan pandangan ke gambar itu. Belum sempat Sikin menghalangi pandangannya, Ona telanjur buka mulut.

“Yah, itu warung apa?”

“Itu bukan warung. Tapi semacam tempat singgah.”

Ona mendelik bingung. Ditatapnya wajah Sikin, menunggu penjelasan lebih lanjut. Karena Sikin diam, dia melanjutkan, “Apa perempuan itu bekerja di situ?”

Sikin mulai resah. Sengaja dia berjongkok agar tatapannya bisa sejajar dengan Ona. “Tidak. Dia hanya pajangan.”

Makin bingung wajah Ona. “Apa nama tempat ini, Yah?”

“Orang-orang menyebutnya Rumah Tutup.”

“Mengapa tutup?”

“Karena rumah itu selalu tertutup,” jawab Sikin asal.

“Apakah banyak pelanggan yang berkunjung?”

Sikin pura-pura berpikir sejenak. “Ayah rasa tidak. Hanya beberapa saja.”

“Kalau begitu, saat besar nanti, aku ingin bekerja di rumah itu. Agar bisa menarik banyak pelanggan.”

Sejak duduk di kelas lima SD, Ona sudah memperlihatkan minat di bidang manajemen dan bisnis. Pernah ketika sedang melaut berhari-hari, barang-barang bekas Sikin sudah dijualnya di lapak dadakan di teras rumah. Untungnya para tetangga hanya mengira anak kecil berambut pirang itu sedang bermain. Padahal Ona sungguh-sungguh sedang menjual kolor bekas milik ayahnya.

“Jangan. Jangan bekerja di situ.”

Wajah Ona cemberut, tidak suka dengan ucapan ayahnya. “Kenapa begitu? Kasihan pemilik tempat itu. Kalau aku membantu, dia pasti dapat banyak uang.”

Tenggorokan Sikin makin gersang. Desahan Sikin mulai berat. Seperti ada sepuluh beton yang tiba-tiba diletakkan di pundaknya. “Kau bisa bekerja di tempat yang lebih baik,” suara Sikin mendadak kaku.

“Seperti Ayah?”

“Tidak. Seperti dirimu sendiri.” Ona diam. Pikirannya sibuk mencerna ucapan bapaknya.

Sikin mulai gelisah. Pikiran gilanya terus saja berseliweran, tak mau diajak kompromi. Berahinya mulai memuncak. Bila tak segera disalurkan, bisa gila gejolaknya. Tapi melihat wajah Ona, Sikin mati-matian menahan nafsu demi menjadi sosok ayah yang baik.

“Ayah, di sini panas.”

Sikin mengangkat tas kerjanya dan menutupi kepala Ona. Dia tahu tidak seharusnya dia membawa Ona berlayar, karena selain kehadiran rumah tutup yang bisa membuatnya serangan jantung, terik matahari pun akan mengundang seribu masalah lain.

“Aku ingin berteduh.” Ona menarik lengan Sikin menjauhi dermaga. “Kita ke sana. Ke Rumah Tutup itu. Kita bisa berteduh di bawah atap terasnya.”

Langkah Sikin mendadak berat. Cobaan macam apa ini, pikirnya resah. “Rumahnya sudah tutup, Ona. Kita tidak boleh ke sana.”

“Kita berteduh di samping saja. Tidak perlu masuk.”

“Kalau begitu kita ke bawah pohon saja. Jangan ke sana.” Sikin menarik lengan Ona, memutar arah menuju gerbang dermaga. Tapi tangan Ona melakukan perlawanan.

“Terlalu jauh!” rengeknya.

“Kita tidak boleh ke sana, Ona.” Sikin menghentikan langkah, lantas berkata, “Tidak boleh sembarang orang bisa berada di sekitar rumah itu.”

Ona memandang tajam ayahnya. “Ayah kan pekerja di dermaga ini. Mana mungkin Ayah termasuk orang sembarangan!”

Otak Sikin berputar cepat, berusaha mencari akal untuk mengelabui kepolosan dan rasa penasaran anaknya. “Rumah itu juga bukan untuk Ayah.”

“Lalu untuk siapa?”

“Untuk mereka yang membutuhkan kasih sayang.” Sikin tersenyum masam menatap anaknya.

“Aku dan Ayah pun butuh kasih sayang.” Ona makin mantap melangkahkan kaki ke teras rumah tutup. Sedang Sikin, meski berat, diikutinya juga langkah Ona.

Senyuman Sikin mendadak hambar. Dia tidak pernah membayangkan menjawab pertanyaan gadis berumur sepuluh tahun akan sesulit ini. Berahinya hilang entah ke mana, diganti rasa takut yang mendalam. Stok akalnya mulai menipis. Dia menatap wanita berdada besar itu dengan tatapan memelas.

“Pemilik tempat itu hebat, ya? Walaupun tidak banyak pelanggan, dia masih bersedia buka.” Ona menambahkan dengan wajah takjub. “Dia juga memberikan tempat bagi mereka yang membutuhkan kasih sayang.”

Refleks ingatan Sikin menampilkan wajah seorang perempuan cantik. Perempuan yang dulu pernah dia temui di balik dinding papan rumah tutup itu. Sikin tersenyum miris, ikut membenarkan omongan anaknya. “Ya, dia hebat.”

Suara klakson di ujung dermaga tiba-tiba menghentikan ocehan Ona. Feri baru saja melempar jangkar. Ona melepas genggaman Sikin dan maju beberapa langkah untuk melihat. Ada ukiran bertuliskan bordil di badan feri. Ukiran berwarna emas itu tampak elegan dengan aksen modern pada desain feri. Ona memicingkan mata, berusaha membaca ukiran itu.

“Kita harus menjauh.” Sikin menarik tangan anaknya ke dekat pintu dermaga.

“Apa kota kita kedatangan tamu luar kota, Yah?”

Sikin mengangguk mantap. “Ya. Dan mereka akan menginap di rumah tutup itu.”

Dari dalam feri keluar delapan perempuan berjubah hitam dengan penutup kepala yang longgar. Wajah mereka bersinar diterpa matahari. Delapan perempuan itu sontak tersenyum nanar melihat kerumunan yang ada. Mereka tahu orang-orang di gerbang dermaga hadir bukan untuk menyambut, tapi untuk memaki.

Di antara kerumunan itu, pedagang-pedagang dermaga tetap tenang melayani pembeli. Sesekali mata mereka mengawasi aksi pendemo sambil menggeleng pelan.

“Bakar lonte itu! Perusak kota. Pendatang tak tahu malu!”

“Robohkan rumah tutup! Dermaga bukan tempat prostitusi!”

Pekikan itu makin menjadi-jadi ketika delapan perempuan yang dipanggil lonte itu memasuki Rumah Tutup. Ona dan Sikin, yang berdiri seratus meter dari pintu masuk, membeku menatap pemandangan langka di hadapan mereka. Sikin merangkul anaknya, berusaha menghalangi pemandangan itu. Sedangkan tatapannya terus saja mengikuti gerak-gerik mereka. Senyuman Sikin tiba-tiba mengembang ketika matanya menangkap sosok yang ia nanti-nanti.

“Ayah, mereka tadi artis?”

Lamunan Sikin buyar. Belum sempat dia menjawab pertanyaan anaknya, lelaki tua dari gerbang dermaga berteriak kencang, “Hei… lonte perusak kota! Biadab! Tak bermoral! Keluar!”

Ona memalingkan wajahnya menatap kerumunan di luar dermaga. Kelompok kontra didominasi ibu-ibu paruh baya dan lelaki yang sudah berumur. Mereka berdiri di luar dermaga dengan ikat kepala putih. Berteriak meminta dibukakan jalan. Hari itu juga mereka akan menentukan nasib Rumah Tutup.

Petugas dermaga membuka gerbang lebar-lebar. Mobil Pickup dengan rombongan ikat kepala putih memasuki dermaga. Yang lainnya mengekor di belakang dengan wajah puas. Di tangan mereka ada selembaran berisi kata penolakan dan gambar wanita berdada besar yang dicoreng mukanya. Satu per satu pendemo itu turun dan mulai menimbulkan keramaian di dekat Rumah Tutup.

“Kami menolak kehadiran Rumah Tutup! Lonte hanya membawa sial bagi pelaut!” lelaki tua yang berteriak kencang tadi menggebu-gebu menyuarakan kebenciannya.

Sikin, salah satu pelanggan Rumah Tutup, tahu pasti demo ini akan datang cepat atau lambat. Meski sering menikmati salah satu jajakan yang ditawarkan pemilik Rumah Tutup, bukan berarti Sikin mendukung pembangunan rumah bordil itu. Dalam hati dia pun ingin agar rumah itu benar-benar ditutup, tidak hanya disematkan pada nama saja. Karena, dengan begitu, kesempatannya untuk bertemu wanita yang ia cintai bisa terwujud.

Di sisi lain Sikin sadar, penutupan rumah bordil itu akan menyusahkan beberapa pihak. Karena hingga saat ini Rumah Tutup tidak pernah dilindungi pemerintah. Rumah itu dibiarkan menjadi tempat hiburan para pelancong dari luar kota. Ketika malam tiba, kerlap-kerlip lampu memberi penerangan yang cukup bagi penduduk sekitar yang tidak mampu membayar listrik. Kehadiran Rumah Tutup banyak membantu pedagang-pedagang dermaga. Setiap penumpang yang turun sore hari untuk berkunjung ke Rumah Tutup akan mampir membeli beberapa camilan dan rokok di warung pinggiran. Tak heran bila penduduk sekitar dermaga mati-matian membela rumah bordil itu.

Bukan itu saja, pemilik Rumah Tutup tidak pernah absen membeli hasil tangkapan para nelayan. Dengan alasan ikan bakar menjadi menu favorit untuk makan malam. Bahkan, ketika masyarakat beralih ke ayam karena harga ikan melonjak tinggi, pemilik Rumah Tutup tetap setia dengan menunya. Ketika ditanya mengapa nekat, jawabannya hanya tak ingin mengecewakan pelanggan.

Tidak tahan mendengar cacian yang dilontarkan para pendemo, Sikin menarik lengan Ona menjauhi kerumunan. Dalam hati Sikin mengutuk dirinya sendiri. Merasa kotor karena terlena dengan kenikmatan.

Banyak kalangan yang hadir dalam aksi demo itu. Ada ibu-ibu pengajian, ada yang datang jauh-jauh dari kampung sebelah lantaran ingin memastikan keberadaan anak gadis mereka, ada pula yang dengan segenap hati berdiri siap merobohkan Rumah Tutup. Mereka tidak perlu repot-repot menunggu turun-tangan pemerintah. Mereka sendiri yang akan turun-tangan mencabuti setiap tiang yang ada. Bagi mereka aksi demo adalah bentuk penyelamatan moral untuk generasi mendatang. Mereka tidak punya pilihan lain setelah negosiasi dengan penduduk sekitar dermaga ditolak mentah-mentah.

Orasi mulai mencapai klimaks. Di bawah sengatan matahari, keringat para pendemo membasahi ikatan kepala mereka. Suasana makin riuh. Di ujung dermaga kapal Sikin membunyikan klakson. Sikin mendesah lega.

Sesaat setelah kapal Sikin berlayar, orasi dihentikan. Orang-orang meninggalkan kerumunan dengan perasaan campur aduk. Begitu pun Sikin, yang tak henti-hentinya menelepon petugas dermaga untuk menanyakan nasib Rumah Rutup.

***

Tak sampai seminggu, kapal Sikin kembali lagi ke dermaga tempat dia direcoki pertanyaan polos anaknya. Sikin menuntun Ona menuruni tangga kapal, lalu terburu-buru menuju pos satpam. Di timur dermaga, Rumah Tutup sudah rata dengan tanah. Gambar wanita berdada besar yang tempo hari membuat selangkangannya menyempit sudah dilapisi debu dan tak menarik lagi.

Ona terhenyak melebihi ayahnya. Wajahnya penuh kebingungan. Sikin hanya menatap kosong pemandangan di hadapannya. Dalam hati dia mulai rindu tempat itu. Tempat dia menghabiskan satu jam dengan kehangatan tiada tara sambil menunggu kapal. Tempat dia menemukan cinta sejati yang tabu. Tempat dia belajar banyak hal termasuk bagaimana menjawab rasa penasaran gadis berumur sepuluh tahun.

“Ke mana rumah itu, Yah?”

Sikin berdeham, membersihkan tenggorokannya. “Sudah dipindahkan.”

“Perempuan itu ikut juga?”

“Mungkin.”

Di antara reruntuhan papan, perempuan tua berbibir jontor yang tempo hari menolak diajak berorasi terlihat mengais-ngais debu. Tongkat yang ia gunakan seperti tak berguna. Di atas lahan bekas dapur dia menemukan seember penuh ikan laut yang sudah busuk. Diambilnya ikan-ikan itu lalu dibawa pulang.

Pedagang-pedagang dermaga pun tampak lesu di hadapan dagangan mereka. Khawatir mereka tak bisa meraup untung ketika tanggal kedaluwarsa dagangan mulai jatuh tempo. Dermaga seperti kota mati. Tidak ada aktivitas ramai seperti minggu lalu. Semua tampak tak bergairah. Para pelaut tak lagi melempar jaring, mereka bilang kalau pelanggan setia sudah hilang, mau dijual ke siapa dagangan mereka.

Sikin ikut prihatin. Dia melambai pada petugas dermaga dan bergegas mencari taksi. Di dekat parkiran, lelaki tua yang kemarin menghitung suara sedang menikmati es teh. Wajahnya puas dan tenang, seperti tak ada lagi usikan dalam hidupnya.

“Rumah Tutup itu tidak hanya menutupi kejahatan-kejahatan moral di dalamnya, tapi juga menutupi mata batin penduduk sekitar. Bila itu dibiarkan, kota ini akan berubah menjadi kota mati.”

Sikin mengangguk membenarkan. Dengan perasaan bersalah dia kembali teringat perempuan yang dulu pernah dijanjikan untuk dinikahi. Perempuan yang selalu setia menunggunya di balik papan bangunan itu. Perempuan yang sekarang entah di mana.

Ketika taksi berlalu, Sikin memeluk Ona, seperti dia memeluk perempuan yang dia cintai sambil memperhatikan dengan teliti wajah anaknya. Wajah yang sesekali mengobati rindunya pada perempuan itu. Sikin memejamkan mata, dan dengan khidmat berharap kehadiran Ona bisa membuka mata batinnya.

Jejak Imaji, 2016

Wika G. Wulandari

Wika G. Wulandari

Lahir di Tidore, 02 Desember 1996. Ia adalah pemenang pertamaPeksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) XIII 2016 kategori cerita pendek. Saat ini sedang mengenyam ilmu Biologi Murni di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) semester tiga. Aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji.
Wika G. Wulandari

Latest posts by Wika G. Wulandari (see all)